Bonus Demografi Kota Semarang

Oleh: Djawahir Muhammad

1633

MENURUT data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Semarang tahun 2014, tingkat pertambahan penduduk Kota Semarang cenderung menurun, yakni 1,71 persen  dari jumlah 1.506.924 orang pada 2009,  dan turun 0,97 persen dari jumlah 1.584.906 orang pada 2014. Dari angka-angka tersebut diketahui bahwa meskipun  jumlah penduduk di Semarang semakin besar, tetapi tingkat (persentase) pertambahannya semakin kecil.

Penurunan tingkat pertambahan itu masing-masing adalah 1,36 persen pada 2010, 1,11 persen pada 2011, 0,96 persen pada 2012, dan 0,83 persen pada 2013.  Belum diketahui, berapa persentase tingkat pertambahan penduduk Kota Semarang dua-tiga tahun terakhir (2017) ini, dan berapa jumlah penduduknya.

Secara teoretik, berapapun jumlah penduduknya  perbandingan ideal usia produktif dengan usia non produktif adalah 70 banding 30. Kondisi yang disebut dengan “bonus demografi” tersebut diperkirakan akan berlangsung 20 tahun ke depan atau pada 2038.

Pertanyaannya, apakah kondisi tersebut berlaku di seluruh Indonesia, atau apakah beberapa wilayah di negeri ini –   Semarang misalnya –  sudah mengalami bonus demorafi pada tahun 2017 ini ? Apa untung ruginya berada dalam kondisi “ideal” serupa itu?

Berdasarkan data statisik, bonus demografi memang akan terjadi di seluruh Indonesia, termasuk di Semarang. Artinya, jumlah orang berstatus produktif dua kali lebih banyak dari mereka yang dikategorikan sebagai non produktif, pensiunan misalnya. Dengan kondisi ini, maka akan diperoleh kesejahteraan yang lebih besar karena pendapatan nasional meningkat, yakni dengan bertambahnya  jumlah angkatan kerja. Tetapi kabar buruknya adalah pertambahan jumlah angkatan  kerja justru akan menjadi boomerang apabila tidak tersedia lapangan kerja yang mencukupi, karena meningkatnya jumlah mereka yang “mbambung”, jobless alias pengangguran!

Salah satu  solusi yang perlu dipersiapkan untuk menghadapi bonus demografi atau ledakan jumlah pengangguran adalah mempersiapkan generasi angkatan kerja yang memiliki pendidikan lifeskill (pendidikan berkecakapan), daripada angkatan kerja berlatar belakang pendidikan formal. Pada sejumlah besar kasus, angkatan kerja yang memiliki pendidikan lifeskill mampu menciptakan lapangan kerja secara mandiri, wiraswasta alias menjadi entrepreneur. Resep ini pas dengan salah satu karakter orang Semarang, yakni berjiwa entrepreneurship, seperti dilakukan sejumlah orang Semarang di Kampung Kauman, Kulitan, Bustaman,  dan sebagainya.

Sebutan mereka  adalah ”orang pasar”  atau pedagang, bukan “orang kantor” alias pegawai. Sebagai pedagang –pedagang kaki lima misalnya– mereka adalah “bos” bagi dirinya sendiri, yang berhak menjadi captain bagi masa depan masing-masing.

Dewasa ini banyak orang berpendapat bahwa sekolah-sekolah kejuruan, misalnya  Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau Sekolah Kepandaian dan Kejuruan Atas (SKKA) adalah sekolah yang lebih mempersiapkan siswanya sebagai pekerja alias operator. Sebaliknya, Sekolah Menengah Atas (SMA) mempersiapkan siswanya  sebagai  basic ke jenjang perguruan tinggi.

Pendapat itu mungkin berkaitan dengan biaya pendidikan,  perolehan kesempatan kerja, dan lain-lain. Intinya, orang semakin pragmatis menghadapi percepatan,  persaingan, dan ledakan (bonus) demografi. Orang lupa, bahwa rezeki dan nasib kita sudah diatur oleh Tuhan, sehingga berapapun besarnya ledakan penduduk –  bonus demografi – bukan menjadi penghalang untuk memperoleh lapangan kerja dan untuk memperoleh kebahagiaan!

Bonus demografi atau ledakan penduduk tidak perlu dikhawatirkan oleh kita – orang yang dikategorikan sebagai “up 70th” ini,  seandainya orang bersikap  “menjadi tua namun tetap berguna”. (*)