KOMPAK : Bupati Batang Wihaji dan Wakil Bupati Suyono didampingi Kepala Desa Banyuputih Sodikin, anggota DPRD Yuswanto dan Tokoh Masyarakat Ristanto bersama-sama mengibarkan bendera start tanda dimulainya Karnaval Banyuputih, Sabtu (26/8) sore (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang).
KOMPAK : Bupati Batang Wihaji dan Wakil Bupati Suyono didampingi Kepala Desa Banyuputih Sodikin, anggota DPRD Yuswanto dan Tokoh Masyarakat Ristanto bersama-sama mengibarkan bendera start tanda dimulainya Karnaval Banyuputih, Sabtu (26/8) sore (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang).

BATANG – Sudah menjadi tradisi yang mengakar kuat pada masyarakat Desa Banyuputih, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Batang menggelar peringatan HUT RI dengan Banyuputih Carnival, Sabtu (26/8). Kegiatan yang sudah digelar selama puluhan tahun itu, kini semakin meriah dan inovatif. Untuk tahun ini, tema yang diusung adalah Batik dalam bentuk pakaian maupun kerajinan lain yang menunjukkan nilai keluhuran warisan budaya bangsa.

Ditambah kini keragaman budaya juga menonjol, sebagai bukti masyarakat Banyuputih terbuka untuk semua suku dan keyakinan. Selain itu seperti karnaval yang lain, penampilan unik dan nyeleneh juga ditampilkan oleh peserta. Hal ini, membuat Banyuputih Carnival tenar, sehingga mampu menyedot puluhan ribu penonton yang datang dari berbagai kota.

Banyak penonton dari Semarang, Kendal, Pekalongan, Temanggung dan kota-kota lain. Bahkan warga Banyuputih yang merantau menyempatkan diri untuk pulang demi bisa berpartisipasi dalam karnaval.

Bisa dikatakan Banyuputih Carnival adalah puncak dari semua karnaval yang ada di Kabupaten Batang, baik dari segi kuantitas maupun kualitas peserta, juga dari jumlah penonton. “Acara Banyuputih Carnival ini bagus, saya betah nonton. Kalau tidak halangan harus ke Jakarta saya pasti menunggui sampai acara selesai,” ucap Bupati Batang Wihaji.

Hal unik yang tidak dijumpai dalam karnaval daerah lain adalah beberapa peserta memberikan cinderamata hasil karyanya kepada tamu kehormatan di panggung. Bentuknya pun aneh-aneh mulai dari lukisan, batik, bunga sampai kepala kambing panggang.

Kepala Desa Banyuputih Sodikin mengatakan tradisi karnaval ini sudah sedemikian kuat mengakar dan menjadi hiburan warga yang dipersiapkan matang. “Jika ditotal Rp 500 juta keluar untuk biaya kegiatan ini yang ditanggung bersama. Belum biaya pribadi masing-masing peserta karnaval. Selain karnaval kami juga nanggap hiburan musik dan wayang untuk menghibur warga,” kata Sodikin.

Banyaknya peserta membuat barisan seperti tak ada putusnya. Setelah empat jam barulah karnaval akbar ini selesai pas maghrib. Efek dari karnaval yang melintasi jalan Pantura ini tentu saja kemacetan panjang. Jumlah peserta yang sangat banyak dan penonton yang puluhan ribu membuat jalan tersendat, tapi bisa diatasi oleh tim urai Satlantas Polres Batang. (han/sct/ric)