Tergilas Teknologi, Studio Musik Jadul Gulung Tikar

Rental Studio Musik Tak Lagi Menjamur

1205
REKAMAN : MonZhy Band saar sedang rekaman musik di Kingdom Studio Jalan Kenconowungu Semarang (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).
REKAMAN : MonZhy Band saar sedang rekaman musik di Kingdom Studio Jalan Kenconowungu Semarang (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Dulu rental studio musik di Kota Semarang sempat menjamur, tapi sekarang banyak yang gulung tikar. Padahal keberadaan jasa rental studio musik ini, berpengaruh besar dalam perkembangan musik di Indonesia, khususnya di Kota Semarang.

KETIKA masih banyak rental studio musik, anak muda di kampung-kampung, pelajar, mahasiswa, hingga karyawan, banyak yang membentuk group band. Lantas, mereka berbondong-bondong ke rental studio musik untuk berlatih. Baik untuk sekadar hobi, hiburan melepas penat, hingga melahirkan karya musik band-band indie.

Bahkan mereka hingga antre berjam-jam menunggu giliran jadwal untuk bisa masuk di room rental studi musik. Kantong-kantong studio musik di Semarang juga tak jarang melahirkan sosok musisi handal, sebut saja kelompok fenomenal macam Blue Savana dan Power Slaves. Sayangnya, dua kelompok tersebut kini seolah hilang di belahan bumi ini.

Banyak musisi lain yang meneruskannya. Baik wajah lama maupun wajah baru di pusaran selera musik Semarangan. Sebut saja Serempet Gudal, OK Karaoke, Tanpa Nada, Sunday Sad Story, AK//47, Distorsi Akustik. Sederet pendatang baru pun bermunculan, mulai genre Pop, Ska, Jazz, Rock, Hardcore, Punk, Metal dan seterusnya. Nama-nama asing seperti Sugar Bitter, Hervest, Killer Of Gods, Pingkel Standing, Serambi, Hearted, Arrogant, Mater Dai, dan masih banyak lagi bermunculan mewarnai iklim permusikan di Kota Semarang. Hampir semua kelompok musisi berkarya melalui kantong-kantong studio musik.

Hanya saja mereka rata-rata memiliki basecamp studio musik tertentu sebagai jaringan. Tentunya memiliki spesifikasi studio musik tertentu. “Memang, sekarang banyak studio musik yang gulung tikar. Banyak yang tutup karena tidak laku, terutama studio musik yang jadul. Alatnya itu-itu saja dan fasilitasnya terbatas,” kata salah seorang pelaku musik di Semarang, Agus Staccato, saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (26/8) kemarin.

Mengapa studio musik banyak yang tidak laku? Menurut Agus, perkembangan zaman memengaruhi eksistensi rental studio musik. Terutama dalam hal pelayanan terhadap konsumen. Termasuk kualitas, kelengkapan alat musik, sound system, mixer, hingga ketersediaan lahan parkir yang luas. Maka para pengusaha studio musik harus struggle untuk survive dalam persaingan. “Banyak studio musik sudah berdiri lama. Otomatis kebanyakan pakai alat musik lama. Mereka kebanyakan tidak mampu membeli alat musik baru. Itu hal pertama yang membuat studio musik ditinggalkan konsumen,” katanya.

Menurutnya, banyak pengelola studio musik berhadapan dengan masalah manajemen keuangan yang buruk, kurangnya pengetahuan teknis musik, serta kurang inovasi. Usaha rental studio musik terbilang pendapatannya relatif kecil, bila dibanding dengan harga alat musik. Jika ia tidak menabung, maka alat musiknya ketinggalan zaman. “Maka tidak sedikit rental studio musik gulung tikar,” katanya.

Pengusaha-pengusaha baru yang bergerak dalam bidang musik juga berdatangan. Mereka dengan modal besar menyediakan peralatan musik yang sangat baik dan lengkap. Bahkan studio baru biasanya dilengkapi dengan fasilitas mixer dan sound system standar konser. Tidak hanya sekadar sound kontrol. “Tujuannya adalah para konsumen ini ke studio musik tidak hanya sekadar latihan. Tapi juga langsung menjajal ukuran sound saat nanti berada di atas panggung,” katanya.

Tidak hanya itu, studio baru yang modalnya besar biasanya menyediakan fasilitas rekaman track. Era sekarang, pola bermain musik tidak hanya sekadar membawakan lagu orang lain. Tetapi menciptakan lagu sendiri, kemudian direkam secara track. Sehingga menjadi karya lagu sendiri. “Siapa saja sekarang bisa bikin lagu sendiri, studio sekarang banyak yang menyediakan fasilitas itu, operator, mixing rekaman dan lain-lain. Selesai membuat rekaman lagu, zamannya diupload di YouTube,” katanya.

Ini menjadi pola perkembangan musik sekarang. Sehingga studio yang tidak memiliki modal untuk menyediakan peralatan canggih hingga fasilitas rekaman track, lambat laun ditinggalkan konsumen. “Musisi sekarang kalau ke studio bawa alat sendiri-sendiri. Di sana hanya membutuhkan fasilitas besar macam sound berkualitas, mixer, rekaman track dan lain-lain,” katanya.

Jangankan studio musik, lanjut Agus, musisi sekarang banyak yang sudah bisa merekam track sendiri melalui komputer menggunakan aplikasi. “Mengarang lagu di rumah, di kamar masing-masing, kemudian direkam track sendiri menggunakan aplikasi tertentu. Musisi ke studio tinggal mixing. Ada juga yang seperti itu. Jadi, rental studio mana saja yang tidak dilengkapi teknologi sudah pasti akan ditinggalkan konsumen,” kata gitaris metal itu.

Saat ini, sejumlah rental studio musik yang masih eksis di Kota Semarang di antaranya BM Studio Sampangan, Studio 99 Sampangan, Javanoa Pamularsih, Kingdom Karangayu, 4WD Jalan Arteri Soekarno Hatta, dan Studio Strato Kaligawe.

Musisi Band Indie di Semarang, Erik Budi Prasetya, mengatakan memang banyak studio musik yang gulung tikar. Dia juga mengakui, biaya pengadaan dan perawatan alat dari tahun ke tahun meningkat. “Kalau dari pengalaman saya, ya karena studio sepi dan pemilik merugi. Meski awalnya berusaha bertahan,” katanya.

Biasanya, studio yang gulung tikar tak jarang adalah studio musik yang baru muncul. Sedangkan modalnya pas-pasan. Studio musik seperti ini biasanya tidak mampu bertahan. Sedangkan persaingan bisnis sangat ketat. Tetapi banyak pula studio musik yang tetap eksis. “Sekarang masih banyak, kalau di daerah Sampangan masih ada BM Studio, Semarang Barat ada Javanoa, Pedurungan dan sekitarnya masih ada 4WD. Di daerah Kaligawe ada Strato Studio. Selanjutnya Studio TP dekat Pasar Kambing, Studio 30 Banyumanik, dan Studio Rio daerah Akpol,” katanya.

Menurutnya, berdasarkan sudut pandang pelaku musik, banyaknya rental studio musik yang gulung tikar tidak memengaruhi karya anak band. Sebab, anak-anak band ini selalu gelisah dan tetap berkarya di mana saja. “Berdasarkan pengalaman, anak band tidak memandang jarak studio. Kalau sudah niat latihan, jauh sekalipun didatangi,” katanya.

Kendati demikian, iklim musik indie di Kota Semarang terbilang stagnan. Sebab, kata dia, kelompok musik di Kota Semarang yang benar-benar konsisten di dunia musik hanya itu-itu saja. “Mungkin karena minat masyarakat untuk bermusik kurang. Sehingga perkembangan musik di Semarang terbilang lambat,” katanya. (amu/ida)