Pesta Rakyat, Jadi Pesta Pejabat

HUT Jateng ke-67

321
TAMPIL APIK : Tari Kuntul Blekok yang dibawakan Sanggar Greget mewakili Kota Semarang dalam Parade Seni Budaya, Pesta Rakyat Jateng, di Alun-Alun Jepara, Jumat malam (26/8) kemarin (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG).
TAMPIL APIK : Tari Kuntul Blekok yang dibawakan Sanggar Greget mewakili Kota Semarang dalam Parade Seni Budaya, Pesta Rakyat Jateng, di Alun-Alun Jepara, Jumat malam (26/8) kemarin (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG).

JEPARA-Sajian Parade Seni sebagai Pesta Rakyat 2017 dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Jateng ke-67, yang digelar di bilangan Alun-Alun Jepara, Jumat malam (26/8) kemarin, dinilai kurang greget. Meski bertajuk pesta rakyat, panggung kesenian justru menyediakan lebih banyak kursi untuk para pejabat.

Hampir 50 persen tempat di sekeliling tempat penyajian parade seni, diisi kursi kehormatan. Ada tiga panggung yang disediakan untuk tempat menonton para pejabat. Panggung tengah khusus untuk Gubernur Jateng, Wakil Gubernur Jateng, Sekda Jateng, Ketua DPRD Jateng, serta pimpinan OPD dan anggota DPRD Jateng. Sementara panggung sebelah kanan dan kiri, merupakan tempat pejabat kabupaten/kota.

Masyarakat Jepara dan sekitarnya hanya disisakan sedikit tempat untuk menonton. Praktis, warga yang ingin berpartisipasi dalam pesta rakyat harus rela berdesak-desakan. Tampak orang tua yang membawa anak kecil, sangat kesulitan menikmati acara tersebut.

Petugas keamanan yang terdiri atas jajaran kepolisian, Dinas Perhubungan, dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), kewalahan mengatur massa. Maklum, warga yang ingin menonton tidak menggubris petugas dan terus berkerumun di tempat yang tidak begitu luas tersebut.

Tak kalah akal, mobil polisi dan Dishub harus turun untuk mengusir penonton agar lebih tertib. Sebab, saking sempitnya tempat yang tersedia, penonton malah menutup jalur keluar parade seni. Cara mengusirnya pun cukup arogan. Dua mobil itu menghidupkan sirine yang suaranya menyayat telinga. Apalagi, mobil tersebut dihadapkan tidak lebih dari satu langkah di hadapan penonton.

Lukmanto, warga setempat mengaku kurang nyaman dangan situasi tersebut. Dia berkali-kali diusir petugas karena dianggap berdiri di tempat yang tidak semestinya. “Pertama saya disuruh pergi, katanya saya menghalang-halangi jalan masuk Pak Gubernur ke arena. Saya pindah ke sana, masih diusir lagi. Alasannya menutup jalan keluar peserta parade seni. Saya pindah, lagi malah diprotes juru syuting. Karena menghalangi pengambilan gambar,” paparnya.

Dia pun menyayangkan pihak penyelenggara yang seolah-olah kurang persiapan. “Ini kan pesta rakyat. Kenapa malah pejabat yang diberi tempat luas? Ini bukan pesta rakyat namanya. Tapi pesta pejabat,” tegasnya.

Meski pada awalnya petugas keamanan cukup ketat menyeterilkan arena pertunjukan, sekitar pukul 21.00 atau satu jam setelah gelaran dimulai, para penonton yang berjubel nekat merangsek barisan pagar manusia dari pihak keamanan. Akhirnya, penonton masuk ke arena pertunjukan.

Penonton justru menjadi problem bagi peserta pertunjukan seni. Sebab, suguhan tari dari kabupaten/kota di Jateng itu melibatkan puluhan penari dan peranti yang cukup banyak. Untuk membawa alat musik saja, rata-rata peserta menggunakan mobil bak terbuka yang didesain khusus seperti panggung berjalan. Praktis, mobilisasi mereka dalam penguasaan panggung jadi kurang optimal. Di beberapa suguhan, ada penari yang terpaksa bersenggolan dengan penari lain karena arena pertunjukan dipersempit penonton.

Peserta dari Kota Semarang yang membawa 55 penari, misalnya. Mereka yang membawakan Tari Kuntul Blekok tampak tidak bisa bebas beraksi. Terlebih, semua penari menggunakan kostum bersayap, mirip burung kuntul. Gerakan klebatan sayap mereka tampak malu-malu. Mungkin karena takut menyepak penonton.

Meski begitu, suguhan yang dibawakan penari Sanggar Greget Semarang itu cukup menawan. Bahkan mampu membuat penonton melempar aplaus meriah di pungkasan pertunjukan Tari Kuntul Blekok.

Pengasuh Sanggar Greget, Yoyok Bambang Priyambodo menjelaskan, tari Kuntul Blekok menggambarkan fauna khas Kota Semarang, yaitu burung kuntul. Burung yang sampai sekarang dilestarikan di wilayah Srondol. Dia coba menggambarkan kebiasaan burung kuntul. Dari cara terbang, bentuk paruhnya, dan lain sebagainya. “Kuntul itu kan burung ikonik Semarang. Kami coba menyampaikan keindahan burung kuntul lewat tarian ini,” terangnya. (amh/ida)