33 C
Semarang
Jumat, 3 Juli 2020

Pesta Rakyat, Jadi Pesta Pejabat

HUT Jateng ke-67

Another

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru...

JEPARA-Sajian Parade Seni sebagai Pesta Rakyat 2017 dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Jateng ke-67, yang digelar di bilangan Alun-Alun Jepara, Jumat malam (26/8) kemarin, dinilai kurang greget. Meski bertajuk pesta rakyat, panggung kesenian justru menyediakan lebih banyak kursi untuk para pejabat.

Hampir 50 persen tempat di sekeliling tempat penyajian parade seni, diisi kursi kehormatan. Ada tiga panggung yang disediakan untuk tempat menonton para pejabat. Panggung tengah khusus untuk Gubernur Jateng, Wakil Gubernur Jateng, Sekda Jateng, Ketua DPRD Jateng, serta pimpinan OPD dan anggota DPRD Jateng. Sementara panggung sebelah kanan dan kiri, merupakan tempat pejabat kabupaten/kota.

Masyarakat Jepara dan sekitarnya hanya disisakan sedikit tempat untuk menonton. Praktis, warga yang ingin berpartisipasi dalam pesta rakyat harus rela berdesak-desakan. Tampak orang tua yang membawa anak kecil, sangat kesulitan menikmati acara tersebut.

Petugas keamanan yang terdiri atas jajaran kepolisian, Dinas Perhubungan, dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), kewalahan mengatur massa. Maklum, warga yang ingin menonton tidak menggubris petugas dan terus berkerumun di tempat yang tidak begitu luas tersebut.

Tak kalah akal, mobil polisi dan Dishub harus turun untuk mengusir penonton agar lebih tertib. Sebab, saking sempitnya tempat yang tersedia, penonton malah menutup jalur keluar parade seni. Cara mengusirnya pun cukup arogan. Dua mobil itu menghidupkan sirine yang suaranya menyayat telinga. Apalagi, mobil tersebut dihadapkan tidak lebih dari satu langkah di hadapan penonton.

Lukmanto, warga setempat mengaku kurang nyaman dangan situasi tersebut. Dia berkali-kali diusir petugas karena dianggap berdiri di tempat yang tidak semestinya. “Pertama saya disuruh pergi, katanya saya menghalang-halangi jalan masuk Pak Gubernur ke arena. Saya pindah ke sana, masih diusir lagi. Alasannya menutup jalan keluar peserta parade seni. Saya pindah, lagi malah diprotes juru syuting. Karena menghalangi pengambilan gambar,” paparnya.

Dia pun menyayangkan pihak penyelenggara yang seolah-olah kurang persiapan. “Ini kan pesta rakyat. Kenapa malah pejabat yang diberi tempat luas? Ini bukan pesta rakyat namanya. Tapi pesta pejabat,” tegasnya.

Meski pada awalnya petugas keamanan cukup ketat menyeterilkan arena pertunjukan, sekitar pukul 21.00 atau satu jam setelah gelaran dimulai, para penonton yang berjubel nekat merangsek barisan pagar manusia dari pihak keamanan. Akhirnya, penonton masuk ke arena pertunjukan.

Penonton justru menjadi problem bagi peserta pertunjukan seni. Sebab, suguhan tari dari kabupaten/kota di Jateng itu melibatkan puluhan penari dan peranti yang cukup banyak. Untuk membawa alat musik saja, rata-rata peserta menggunakan mobil bak terbuka yang didesain khusus seperti panggung berjalan. Praktis, mobilisasi mereka dalam penguasaan panggung jadi kurang optimal. Di beberapa suguhan, ada penari yang terpaksa bersenggolan dengan penari lain karena arena pertunjukan dipersempit penonton.

Peserta dari Kota Semarang yang membawa 55 penari, misalnya. Mereka yang membawakan Tari Kuntul Blekok tampak tidak bisa bebas beraksi. Terlebih, semua penari menggunakan kostum bersayap, mirip burung kuntul. Gerakan klebatan sayap mereka tampak malu-malu. Mungkin karena takut menyepak penonton.

Meski begitu, suguhan yang dibawakan penari Sanggar Greget Semarang itu cukup menawan. Bahkan mampu membuat penonton melempar aplaus meriah di pungkasan pertunjukan Tari Kuntul Blekok.

Pengasuh Sanggar Greget, Yoyok Bambang Priyambodo menjelaskan, tari Kuntul Blekok menggambarkan fauna khas Kota Semarang, yaitu burung kuntul. Burung yang sampai sekarang dilestarikan di wilayah Srondol. Dia coba menggambarkan kebiasaan burung kuntul. Dari cara terbang, bentuk paruhnya, dan lain sebagainya. “Kuntul itu kan burung ikonik Semarang. Kami coba menyampaikan keindahan burung kuntul lewat tarian ini,” terangnya. (amh/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

Tambah Puyeng, Suami Nganggur

RADARSEMARANG.COM, LADY Sandi, 38, harus siap menanggung beban dua kali lebih besar setelah menjatuhkan talak suaminya. Bukan tanpa alasan, John Dori, 45, yang gagah...

Tiga Bersamaan

Tiga orang hebat ini punya ide yang mirip-mirip. Hafidz Ary Nurhadi di Bandung, dr Andani Eka Putra di Padang dan Fima Inabuy di Kupang,...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

SMP N 3 Banyubiru Akan Direlokasi

UNGARAN – Berada di daerah rawan dan terdampak longsor, SMP N 3 Banyubiru, akan direlokasi. Belum lama ini bangunan sekolah tersebut dihantam material longsor...

Tari Topeng Ireng Sambut Kapolres Baru

MAGELANG– Prosesi penyambutan Kapolres Magelang Kota yang baru, AKBP Kristanto Yoga Darmawan menggantikan AKBP Hari Purnomo, Sabtu (7/10) lalu dimeriahkan oleh tarian topeng ireng...

Siapkan Lima Jalur Alternatif Mudik

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN–Sejumlah jalur alternatif untuk mengurai kemacetan lalulintas saat arus mudik Lebaran di Kabupaten Semarang mulai dilakukan. Kapolres Semarang AKBP Agus Nugroho mengungkapkan terdapat...

Bahagia Walau Gagal Gemuk

Oleh Dahlan Iskan Berat badan saya turun terus. Tinggal 66 kg. Dari 70 kg sebelum operasi. Saya harus melawannya. Dengan makan lebih banyak. Tapi sampai hari...

Penyidik Segera Lakukan Rekonstruksi 

RADARSEMARANG.COM, KENDAL—Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Kendal berencana melakukan rekonstruksi atau reka ulang. Yakni dalam kasus dugaan pembunuhan Pemandu Karaoke (PK) Dinasti, Gonoharjo...

Hukum Menikah di Bulan Ramadan

Assalamu'alaikum Bapak Kyai Ahmad Izzuddin yang saya hormati, Saya ingin bertanya apa hukumnya melaksanakan pernikahan di bulan Ramadhan ? Mohon penjelasannya . Terimakasih. Rizky 089685272373 Waalaikumussalam...