KEBERADAAN studio musik tak lagi menjamur seperti di tahun 2000-an. Menurut pengamat musik dan seni, Day Milovich, banyak faktor yang membuat sejumlah pengusaha persewaan studio musik terpaksa gulung tikar.

Di antaranya, setiap konser musik band di Indonesia, khususnya Kota Semarang hanya menyuguhkan band-band yang sudah punya nama. Padahal, music live itu salah satu indikator dinamika permusikan.

“Yang paling rutin dan mampu menayangkan mereka secara live hanya satu, yaitu televisi,” ucap pria yang pernah bekerja sebagai programer musik di salah satu radio swasta di Semarang.

Diterangkan, dominasi televisi itulah yang akhirnya mempermudah metode baru dalam mendengarkan dan memproduksi musik. Salah satunya streaming. Media sosial semacam Soundcloud dan Youtube, bisa dibilang multifungsi. Untuk menyaksikan artis, hingga mengajarkan cara bikin lagu. “Semua ada di sana,” terangnya.

Selain itu, gairah band anak muda di Semarang pun sudah tak seganas dulu. Sebab, saat ini sedang musim musik pop. Sebuah tren genre musik yang punya pengaruh besar karena pengerjaannya tak begitu rumit. “Makanya, musikalitas tahun 1990-an dan setelah 2010 itu lain,” ucapnya.

Day menilai, aliran pop terlalu menguasai blantika musik nasional. Sementara hampir semua permusikan dikuasai televisi, mulai pencarian bakat, orbit, event, selingan sebentar, televisi punya semua. “Hal itu diperparah dengan tidak adanya sekolah menengah yang bicara musik multietnis. Yang ada hanya Institut Seni Indonesia,” ucapnya.

Padahal, dia menilai, saat ini keberadaan studio musik untuk latihan band masih sangat dibutuhkan. Hanya saja, memang harus dilengkapi fasilitas rekaman. Untuk mempertahankam eskistensi di tengah gencarnya pertarungan televisi dan streaming di media sosial.

Produser dan aranjer harus lebih kreatif dalam mencari margin. Misalnya, dengan memproduksi live recording ke luar studio. Selain itu, jangan hanya menyediakan peralatan musik diatonis. “Mana sih studio musik yang memihak peralatan musik etnis yang pentatonis? Jarang sekali bisa ditemukan. Jadi aneh, kalau kita diminta kreatif, tetapi pada kenyataannya kreatif bermusik ala barat. Budaya tradisional kita dalam bermusik, nggak dapat naungan kreatif dari para pemusik. terutama produsen dan aranjer studio musik tadi,” paparnya.

Misalnya yang tradisional bisa menjadi tren, menurutnya bisa jadi margin pasar tersendiri. Tidak akan kalah bersaing dengan anak-anak milennial yang suka streaming itu. “Jadi intinya, kalau orientasinya untuk bersaing dan bermusik seperti orang barat, nggak akan besar,” pungkasnya.

Sedangkan bagi pelaku musik, Bambang Is menilai perkembangan musik di Kota Semarang tidak ada kemajuan, lantaran pemerintah kurang perhatian. Terbukti, banyak pelaku kesenian tradisional yang berjalan sendiri-sendiri. Seperti halnya kesenian wayang orang dan pedalangan. “Artinya tidak ada anggaran. Jangankan musik, kesenian yang tradisional yang ada hubungannya dengan aset negara saja kurang diperhatikan, apalagi musik pop?” tegasnya.

Bambang Is mengakui, di Kota Semarang banyak tumbuh studio musik, namun, belum banyak yang mengorbitkan anak-anak band yang dikenal di luar Kota Semarang. “Karena iklimnya bermain musik tidak mendukung. Anak-anak Semarang tidak ada yang berani hijrah ke Jakarta. Mereka hanya bermain di kotanya sendiri mengisi di kafe atau untuk keperluan wedding,” tegasnya.

Bambang Is juga menilai, fasilitas studio musik sekarang belum mengalami kemajuan. Sehingga banyak anak band yang memiliki fasilitas sendiri di rumahnya. “Mereka tidak perlu ke studio. Mereka juga diuntungkan dengan sistem rekaman digital,” katanya.

Meskipun demikian, Bambang Is mengapresiasi para pemilik usaha studio musik yang masih bertahan hingga kini. Pihaknya mendorong agar fasilitas studio musik semakin baik dan modern. Sehingga bisa mencetak anak band berbakat dan profesional. (amh/mha/ida)