33 C
Semarang
Rabu, 3 Juni 2020

Nekat, Ukir Wajah Gubernur di Sandal Jepit

Another

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

JEPARA-Perajin sandal ukir, M Nur Fawaid nekat mengukir wajah Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo di sandal jepit. Karya itu pun menarik perhatian Ganjar ketika mengunjungi Pameran Desain Kreatif Pesta Rakyat dalam rangka HUT Jateng ke-67 di Alun-Alun Jepara, Sabtu (26/8) kemarin.

Ketika melihat sandal jepit yang diukir bergambar mirip wajahnya, Ganjar langsung tertawa. “Ha ha ha apik iki, kreatif. Sandal diukir,” katanya.

Ganjar pun bertanya kepada pembuatnya mengenai lama membuat ukiran wajah sang gubernur itu. “Kalau desain sederhana hanya butuh dua tiga jam. Tapi yang rumit, bisa lima jam,” jawab M Nur Fawaid.

Selain wajah Ganjar, Nur juga mengukir logo Jateng Gayeng di stand Sandal Carving Jepara (Sacaje) tersebut. Ada desain lain yang membuat Ganjar tertarik. Yaitu sandal berukir tulisan Sandal Gubernur. Ganjar tertarik dan membeli beberapa pasang sandal tersebut.

Ganjar Pranowo memuji Nur sebagai perajin yang mampu melihat peluang dan berkreativitas tinggi. “Ini perlu didukung, mengerjakan barang yang tak disangka-sangka hingga memiliki nilai ekonomi,” ucapnya.

Sandal jepit ukir karya Nur dibanderol Rp 25 ribu. Pembeli bisa memilih sandal yang sudah jadi atau memesan desain dan tulisan sendiri. Karya Nur bukan saja unik, tapi juga menggelitik. Simak misalnya sandal bertuliskan “Bojoku Ketikung”, “Ngopi Ngaji”, atau “Colong Mati”.

Ada juga produk dari beberapa sandal digabung menjadi jam dinding, papan nama, dan lambang klub sepakbola. Untuk jam dan hiasan dinding, Nur membanderol Rp 75 ribu. “Harga bergantung kesulitan serta kerumitan ukiran. Tentu harga sandal ukir wajah beda dengan ukir tulisan,” terang Nur.

Dijelaskan, ide sandal ukir muncul ketika menjadi santri di sebuah pondok pesantren. Nur yang jengkel karena sandal jepitnya berkali-kali hilang, akhirnya memberi tanda dengan mengukir sandalnya sendiri agar berbeda dari milik teman-temannya. “Awalnya asal bikin, asal beda agar mudah mengingat sandal saya. Pertama kali saya mengukir nama di sandal. Ternyata teman-teman suka dan minta diukirkan juga,” tuturnya.

Ketika permintaan semakin banyak, Nur mulai memasang tarif. Sejak 2013 ia membuka workshop bernama Sacaje. “Itu setelah saya rasa ukiran sandal tersebut cukup rapi dan layak dijual,” kata warga Jalan Krajan RT 08/02 Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara ini. Saat ini dia sudah punya dua karyawan untuk membantu mengukir sandal sekaligus menjadi tenaga pemasaran. (amh/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah kasih. Lirik-liriknya memicu penasaran orang...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma diproduksi 100 biji kaset itu,...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

More Articles Like This

Must Read

Pura-Pura Jadi Dukun, Cabuli Pasien di Hotel

KENDAL—Bermaksud membuang sial, seorang gadis belia asal Desa Jali, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, justru tertimpa sial. Keinginannya untuk mendapatkan jodoh, malah berujung pelecehan seksual...

Petani Diimbau Ikut Asuransi Pertanian

UNGARAN–Tingginya debit hujan yang mengguyur Kabupaten Semarang beberapa bulan terakhir ini, menenggelamkan ratusan hektare sawah di tiga kecamatan. Antara lain Kecamatan Banyubiru, Kecamatan Ambarawa,...

Sembunyikan Motor Curian di Kuburan

RADARSEMARANG.COM, KEBUMEN – Pujiono alias Muklas, 35, harus berurusan dengan aparat Polsek Puring. Warga Desa Srusuhjurutengah Puring ini diduga mencuri 2 sepeda motor milik...

MTs Al-Mu’min Muhammadiyah Temanggung Laksanakan UNBK

TEMANGGUNG - MTs Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung menjadi satu-satunya MTs di Temanggung yang melaksanakan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) pada tahun pelajaran 2016/2017. UNBK...

Incar Dua Kategori Sekaligus

KENDAL - Kerap mewakili Kabupaten Kendal dalam lomba seni budaya dan olahraga di tingkat Provinsi Jawa Tengah semakin menambah kepercayaan diri  SDN 2 Kutoharjo...

Calon Perseorangan Belum Dilirik

TEMANGGUNG–KPU Kabupaten Temanggung belum menerima pendaftaran dari sosok atau tokoh yang mendaftarkan diri menjadi calon bupati/wakil bupati melalui jalur perseorangan alias independen. “Sampai saat...