Nekat, Ukir Wajah Gubernur di Sandal Jepit

862
KREATIF : Gubernur Ganjar Pranowo menunjukkan sandal yang terukir wajahnya, dalam Pameran Desain Kreatif Pesta Rakyat dalam rangka HUT Jateng ke-67 di Alun-Alun Jepara, Sabtu (26/8) kemarin (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG).
KREATIF : Gubernur Ganjar Pranowo menunjukkan sandal yang terukir wajahnya, dalam Pameran Desain Kreatif Pesta Rakyat dalam rangka HUT Jateng ke-67 di Alun-Alun Jepara, Sabtu (26/8) kemarin (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG).

JEPARA-Perajin sandal ukir, M Nur Fawaid nekat mengukir wajah Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo di sandal jepit. Karya itu pun menarik perhatian Ganjar ketika mengunjungi Pameran Desain Kreatif Pesta Rakyat dalam rangka HUT Jateng ke-67 di Alun-Alun Jepara, Sabtu (26/8) kemarin.

Ketika melihat sandal jepit yang diukir bergambar mirip wajahnya, Ganjar langsung tertawa. “Ha ha ha apik iki, kreatif. Sandal diukir,” katanya.

Ganjar pun bertanya kepada pembuatnya mengenai lama membuat ukiran wajah sang gubernur itu. “Kalau desain sederhana hanya butuh dua tiga jam. Tapi yang rumit, bisa lima jam,” jawab M Nur Fawaid.

Selain wajah Ganjar, Nur juga mengukir logo Jateng Gayeng di stand Sandal Carving Jepara (Sacaje) tersebut. Ada desain lain yang membuat Ganjar tertarik. Yaitu sandal berukir tulisan Sandal Gubernur. Ganjar tertarik dan membeli beberapa pasang sandal tersebut.

Ganjar Pranowo memuji Nur sebagai perajin yang mampu melihat peluang dan berkreativitas tinggi. “Ini perlu didukung, mengerjakan barang yang tak disangka-sangka hingga memiliki nilai ekonomi,” ucapnya.

Sandal jepit ukir karya Nur dibanderol Rp 25 ribu. Pembeli bisa memilih sandal yang sudah jadi atau memesan desain dan tulisan sendiri. Karya Nur bukan saja unik, tapi juga menggelitik. Simak misalnya sandal bertuliskan “Bojoku Ketikung”, “Ngopi Ngaji”, atau “Colong Mati”.

Ada juga produk dari beberapa sandal digabung menjadi jam dinding, papan nama, dan lambang klub sepakbola. Untuk jam dan hiasan dinding, Nur membanderol Rp 75 ribu. “Harga bergantung kesulitan serta kerumitan ukiran. Tentu harga sandal ukir wajah beda dengan ukir tulisan,” terang Nur.

Dijelaskan, ide sandal ukir muncul ketika menjadi santri di sebuah pondok pesantren. Nur yang jengkel karena sandal jepitnya berkali-kali hilang, akhirnya memberi tanda dengan mengukir sandalnya sendiri agar berbeda dari milik teman-temannya. “Awalnya asal bikin, asal beda agar mudah mengingat sandal saya. Pertama kali saya mengukir nama di sandal. Ternyata teman-teman suka dan minta diukirkan juga,” tuturnya.

Ketika permintaan semakin banyak, Nur mulai memasang tarif. Sejak 2013 ia membuka workshop bernama Sacaje. “Itu setelah saya rasa ukiran sandal tersebut cukup rapi dan layak dijual,” kata warga Jalan Krajan RT 08/02 Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara ini. Saat ini dia sudah punya dua karyawan untuk membantu mengukir sandal sekaligus menjadi tenaga pemasaran. (amh/ida)