Dragon Quest yang Tak Lekang Zaman

Oleh: Radix W.P. (LINE ID: ray-jp)

252
PANGERAN DAN KAWAN-KAWAN: Sang protagonis berjuang pulihkan lagi kerajaanya
PANGERAN DAN KAWAN-KAWAN: Sang protagonis berjuang pulihkan lagi kerajaanya

RABU, 10 Februari 1988. Pagi itu, masyarakat Jepang yang berangkat ke kantor atau sekolah mendapati pemandangan yang tidak biasa. Ada antrean panjang di depan toko-toko game. Mereka berbaris berjam-jam sebelum tokonya buka. Tujuan mereka, jadi pembeli Dragon Quest III pada hari pertama.

Enix, produsen serial Dragon Quest, mencatat penjualan satu juta kopi dalam sehari itu saja. Di sisi lain, ada 300-an kasus penangkapan polisi terhadap siswa yang membolos. Banyak juga pegawai yang tidak masuk kerja, bahkan konon termasuk sejumlah guru sekolah. Diet, parlemen Jepang, kemudian membuat aturan bahwa seri game laris tidak lagi boleh dirilis pada hari kerja.

Kehebohan itu terjadi karena kuatnya reputasi serial Dragon Quest. Para veteran genre RPG cenderung menganggap Dragon Quest lebih berkualitas ketimbang Final Fantasy. Berdasar perhitungan hingga Januari 2017, setiap seri Dragon Quest –termasuk seri sampingannya yang sekadar pelengkap– rata-rata terjual 2,4 juta kopi. Serial Final Fantasy sebenarnya juga mencapai angka segitu, tetapi perlu diperhatikan bahwa pembuatan dan promosi Final Fantasy jauh lebih mahal daripada Dragon Quest.

Jangan lupakan pula bahwa Square Soft, produsen serial Final Fantasy, nyaris bangkrut pada 2003. Enix-lah yang menyelamatkan, membentuk perusahaan baru Square Enix, yang berarti menempatkan Dragon Quest dan Final Fantasy –awalnya saingan sengit– bernaung satu atap.

Apa rahasia sukses serial Dragon Quest? Pertama, para personel utamanya tidak sembarangan. Yuji Horii, perancang permainannya, sangat kreatif. Debut pertamanya adalah Love Match Tennis, memadukan tenis dengan unsur cerita. Lalu, dia membuat Portopia Renzoku Satsujin Jiken, pelopor genre visual novel bertema detektif. Lewat serial Dragon Quest, dia meletakkan landasan bagi kebanyakan RPG. Oh ya, Horii-sensei adalah idola bagi Hideo Kojima, pencipta serial Metal Gear Solid.

Kemudian, ada Akira Toriyama. Ilustrator itu semestinya tidak perlu diperkenalkan lagi. Dia membuat manga Dragon Ball yang seri Dragon Ball Super-nya berlanjut hingga sekarang. Berikutnya adalah Koichi Sugiyama sebagai komposer. Musik gubahannya jadi inspirasi bagi Nobuo Uematsu, komposer Final Fantasy. Dia juga merupakan konduktor orkestra pertama yang menghelat konser musik bertema video game.

Yuji Horii, Akira Toriyama, dan Koichi Sugiyama selalu pegang kendali bagi setiap seri utama Dragon Quest. Beda dengan Final Fantasy yang sejak seri ketujuh personel kuncinya berganti-ganti. Konsistensi juga terlihat pada materi yang disuguhkan. Formula Dragon Quest selalu serupa, yaitu latar ala abad pertengahan dengan kastil, kesatria, dan penyihir. Namun, dari situ diramu kisah panjang yang memikat dengan sistem permainan yang tersusun apik hingga adiktif.

Setiap seri Dragon Quest dinantikan secara antusias. Para penggemar penasaran dengan inovasi cerita dan sistem permainan yang akan disajikan, tetapi tanpa menyimpang dari pakem. Alih generasi penggemar Dragon Quest pun berlangsung mulus selama 31 tahun ini. Mereka yang dulu memainkan Dragon Quest pada 1980-an kini rata-rata mapan secara ekonomi. Mereka tidak asing dengan seri-seri baru dan tetap berminat membelinya. Bagi para pemula, Dragon Quest menawarkan petualangan yang mengasyikkan, karya tiga orang yang sudah puluhan tahun berkecimpung di bidangnya.

Kini Dragon Quest XI telah dirilis. Mesin yang digunakan adalah PlayStation4 yang berteknologi tinggi dan mesin portabel Nintendo 3DS yang simpel tapi praktis. Kehadiran di dunia mesin itu saja menunjukkan bahwa serial Dragon Quest mampu jadi penghubung antara tradisi masa silam dan kecanggihan masa depan. (*)