PATAH tumbuh hilang. Peribahasa itu sangat tepat digunakan untuk menggambarkan perkembangan rental studio musik di Kota Semarang. Meski banyak yang sudah tutup, namun banyak bermunculan yang baru.

Seperti halnya di Jalan Tentara Pelajar Kelurahan Lamper Kidul Semarang Selatan, telah berdiri sejak tahun 2008 bernama TP (Tentara Pelajar). “Tadinya TP berdiri di Jalan Tentara Pelajar nomor 62, kemudian tahun 2012 pindah di nomor 54,” ungkap pemilik studio musik TP yang hanya mau dipanggil Budi kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (26/8) kemarin.

Di studio musik ini, terdapat tiga ruangan berisi perlengkapan alat musik disertai sound system di ruangan yang kedap suara. Bahkan perangkat alat musik dan sound system di masing-masing ruangan sangat berkualitas. “Alat musiknya, ada gitar, drum, keyboard dan sound system, termasuk mix,” katanya.

Budi mengakui, masing-masing ruangan berbeda kelas atau ukuran. Yakni, kecil, sedang dan besar. Ruangan kecil dikhususkan bagi pelanggan yang suka ngeband kelas pemula. Sedangkan ruangan sedang dan besar bagi pelanggan yang berpengalaman.

Diakuinya, di Kota Semarang banyak yang membuka usaha rental studio music, tapi banyak yang tidak bertahan lama. Lantaran memerlukan biaya yang tidak sedikit, bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. “Modalnya lumayan besar, sekarang alat musik mahal. Kalau standar normal sampai Rp 100 juta lebih,” ujarnya.

Sedangkan untuk menjaga supaya studio musik tetap eksis, kata Budi, harus bisa menjaga pelayanan dan peralatan harus berkualitas. “Menjaga kualitas itu penting. Ruangan dibuat nyaman, bersih, semua alat bagus, lengkap, normal, lancar dipakai untuk bermain atau tidak trouble. Itu yang kami utamakan,” tegasnya.

Meski demikian, Budi mengakui menggandeng tenaga profesional sangat diperlukan. Minimal, dibutuhkan saat mencocokan suara nada antara alat musik satu dengan lainnya. “Ini untuk kelancaran, seperti para pemula belum tentu bias. Bahasanya nyeteli alat musik sendiri. Sehingga harus disiapkan, mereka datang tinggal main lancar,” katanya.

Membuka usaha rental studio musik bukan perkara mudah. Budi mengakui, tempat studio musik yang dirintisnya semasa muda terkadang tidak full terpakai. Bahkan, setiap harinya hanya ada 3 sampai 5 pelanggan yang datang menyewa ruangan bermain musik. “Jadi tidak tentu. Kalau waktu libur Lebaran puasa atau anak ujian sekolah atau kuliah, agak sepi,” jelasnya.

Kendati begitu, Budi bersyukur, telah memiliki pelanggan setia guru sekolah. Guru tersebut datang bersama siswanya yang telah membentuk kelompok band dan berlatih di tempatnya. “Ada beberapa guru yang mengajarnya di tempat saya. Memang cocok dengan studio saya, kemudian melatih siswanya melatih di tempat saya,” ucapnya.

Menurut Budi, awal membuka usaha tempat studio musik ini tidak secara langsung jadi. Usaha ini dirintis secara bertahap, mulai dari membeli sebuah gitar hingga membuka ruangan. “Saya ngumpulin dari satu persatu, lama-lama ngumpul. Drum juga punya. Akhirnya membuka ruangan. Ya perlu perjuangan,” terangnya.

Sekarang, usaha tersebut dikelola dengan hati-hati dan cermat. Bahkan masih terus mengumpulkan dana untuk membesarkan usaha dan membuka studio rekaman. “Ada permintaan dari pelanggan. Tapi mereka juga bilang, banyak studio rekaman yang tiba-tiba tutup. Kalau ada dananya saya buka cabang atau besarin ini,” harapnya.

Sedangkan Admin Starto Musik Studio, Almando Charles, mengakui bisnis rental studio rekaman sedang lesu. Selain karena libur kuliah, karena kurang adanya apresiasi dan ruang bagi pelaku musik di Semarang untuk menunjukkan karyanya. “Tempat untuk unjuk gigi di Semarang jarang, beda dengan kota lainnya ada yang mewadahi musisi lokal untuk berkarya,” keluhnya.

Dirinya berharap ke depan pemerintah bisa lebih memperbanyak ruang bagi musisi lokal. Misal dengan banyaknya event dan ruang berkarya, secara tidak langsung akan memacu pelaku musik untuk terus berkarya, latihan bahkan rekaman dan menjadi musisi yang bisa membawa nama Semarang di kancah Nasional. “Minimal harus ada ruang untuk berkarya, sehingga banyak musisi yang muncul di kota ini,” harapnya.

Hal senada disampaikan pentolan band Screaming Schol, Jonerd Arjuna. Kejayaan musisi di Semarang, kini tinggal kenangan. Hal itu, dipengaruhi oleh minimnya event musik untuk musisi lokal di Semarang. “Tentu saja, banyak studio rekaman yang tutup, karena sedikitnya anak band yang rekamanan. Apalagi bisnis tersebut butuh modal besar,” ujarnya.

Pemilik MR Studio Production yang ada di Gunungpati Semarang, Ricky Mulya menjelaskan jika banyaknya studio yang gulung tikar lantaran tren musik telah berubah. Masyarakat lebih suka mendengarkan musik yang easy listening seperti akustik. “Kalau studio rekaman lumayan jalan, namun bukan band, lebih ke akustik karena musik ini lebih disukai,” tambahnya.

Karena itulah, jelasnya, usaha yang ia rintis sejak tahun 2014 lalu dengan modal awal sekitar Rp 100 juta, masih terus dilakukan inovasi agar bisa eksis. Mulai inovasi cover studio, yang kemudian di-upload di Youtube mirip yang dilakukan oleh Via Vallen ataupun Nella Kharisma. “Ya cara tersebut cukup jitu, setelah dibuat video plus rekaman, langsung di-upload sebagai media promosi,” bebernya. (mha/den/ida)