Puluhan Ekor Hewan Kurban Belum Cukup Umur

304
SAPI PEMAKAN SAMPAH: Ribuan ekor sapi dilepas bebas mencari makan sampah di TPA Jatibarang, kemarin. Jelang Idul Adha, banyak sapi pemakan sampah ini dijual sembunyi-sembunyi ke luar daerah. (bawah) Petugas Dinas Pertanian Kota Semarang saat memeriksa gigi sapi yang dijual pedagang hewan kurban di Jalan Jolotundo (ADITYO DWI/NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).
SAPI PEMAKAN SAMPAH: Ribuan ekor sapi dilepas bebas mencari makan sampah di TPA Jatibarang, kemarin. Jelang Idul Adha, banyak sapi pemakan sampah ini dijual sembunyi-sembunyi ke luar daerah. (bawah) Petugas Dinas Pertanian Kota Semarang saat memeriksa gigi sapi yang dijual pedagang hewan kurban di Jalan Jolotundo (ADITYO DWI/NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG- Sebanyak 14 ekor sapi dan 2 ekor kambing yang dijual pedagang di Jalan Jolotundo dan Jalan Gajah Semarang, tidak layak untuk dijadikan sebagai hewan kurban. Sebab, usia hewan kurban tersebut belum poel atau belum memenuhi syarat sebagai hewan kurban. Selain itu, seekor kambing diketahui terserang penyakit mencret. Hal itu diketahui setelah petugas Dinas Pertanian Kota Semarang melakukan kegiatan pengawasan dan pemeriksaan hewan kurban, Jumat (25/8). Pemeriksaan juga melibatkan petugas  Babinkamtibmas dan Lurah Sumbirejo.

Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian Kota Semarang, Muji Mulyo, menjelaskan, pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah hewan kurban sudah sesuai syariat Islam atau belum? Selain itu, agar masyarakat lebih hati-hati dan teliti dalam memilih hewan kurban. Karena saat ini masih ditemukan beberapa sapi dan kambing yang tidak layak untuk dijadikan hewan kurban. “Masyarakat agar berhati-hati dan teliti dalam memilih hewan kurban, karena ada yang kondisinya sehat tetapi belum cukup umur,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Muji Mulyo menyebutkan, hewan kurban memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhi. Di antaranya, usia hewan kurban harus sesuai syariat Islam. Misalnya, domba harus berusia minimal setahun penuh. “Juga tidak cacat. Misalnya, mata buta sebelah, kaki pincang, sangat kurus, serta tidak mempunyai sumsum tulang,” bebernya.

Penjual hewan kurban, Muhammad Yusuf, mengaku dengan adanya temuan tersebut, pihaknya akan mengembalikan hewan kurban ke pemasok. “Karena hewan ini sudah sampai di Semarang, saya akan menukar atau mengembalikan sapi ini ke pemasok di Pati,” katanya.

 Selain hewan kurban yang belum cukup umar, jelang Idul Adha ini masyarakat juga diminta selektif dalam membeli sapi yang biasanya dilepas mencari makan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang. “Secara otomatis sapi pemakan sampah tidak layak konsumsi, dan itu tidak boleh diperjualbelikan, apalagi sebagai hewan kurban,”ujar Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Wahyu Permata Rusdiana kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (25/8).

Rusdiana mengatakan, hewan pemakan sampah sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Hasil penelitian Balai Penelitian dan Pengembangan Jawa Tengah menunjukkan  kandungan dalam daging pemakan sampah terdapat timbal senyawa sampah dan cairan licin  atau air yang dikeluarkan dari endapan sisa sampah. “Sehingga efeknya sangat berbahaya, terlebih sampah yang dibuang tidak hanya organik melainkan limbah plastik dan logam,”tuturnya.

Dikatakan, untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, masyarakat diimbau hanya membeli hewan kurban yang telah dilengkapi sertifikat resmi. Sehingga masyarakat tak perlu cemas dengan isu sapi pemakan sampah ataupun mengidap antraks. “Kami sudah menerjunkan 46 petugas untuk memeriksa di 16 kecamatan sejak 21 Agustus lalu, ” katanya.

Secara fisik,lanjut Rusdiana, tidak ada perbedaan mencolok antara sapi pemakan sampah dan sapi ‘rumahan’. Indikasi hewan pemakan sampah hanya bisa diketahui setelah disembelih. “Beberapa kasus ditemukan sampah plastik antara 10 hingga 20 kilogram dari dalam perut sapi pemakan sampah,”jelasnya.

Rusdiana menjamin, pihaknya tak akan memberi surat keterangan sapi sehat pada sapi yang dibiarkan liar di TPA maupun kawasan kampung kumuh, kecuali setelah dilakukan karantina selama 4 bulan. “Proses sterilisasi dilakukan dengan memberi makan rumput, sedangkan lama proses sampai 4 bulan,”katanya.

Seorang warga berinisial D saat ditemui di TPA Jatibarang mengatakan, jelang Idul Adha ini, pemilik sapi memilih memasok sapi-sapi pemakan sampah ini ke luar daerah. “Lakunya justru di luar daerah, dan itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi,”ungkapnya.

Pedagang sapi asal Gunungpati, Suyadi,  menilai keberadaan sapi pemakan sampah bisa mengecoh pembeli yang hendak berkurban. Namun ia  punya cara untuk mendeteksi sapi pemakan sampah, yakni biasanya tidak jinak saat didekati, karena jarang berinteraksi dengan pemeliharanya. “Warna dagingnya juga cepat berubah biru dan berbau amis usai dipotong,” jelasnya. (hid/aaw/aro)