Pedagang Kanjengan Tak Gubris Ancaman

Tempat Relokasi MAJT Blok F Masih Kosong

500
SEPI: Pedagang Kanjengan masih belum menempati Pasar Johar MAJT Blok F (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG).
SEPI: Pedagang Kanjengan masih belum menempati Pasar Johar MAJT Blok F (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG- Pedagang Kanjengan pasca dieksekusi, hingga kemarin belum ada yang pindah ke tempat relokasi Pasar Johar MAJT Blok F. Para pedagang Kanjengan lebih memilih berpencar mencari tempat berjualan sendiri-sendiri. Mereka tak menggubris ancaman Dinas Perdagangan Kota Semarang yang akan mencoret nama mereka dari data base jika tidak mau menempati kios di tempat relokasi MAJT. Padahal jika namanya dicoret, para pedagang terancam tidak akan mendapatkan kios maupun lapak setelah Pasar Johar Baru selesai dibangun.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang Jumat (25/8) kemarin, Blok F di tempat relokasi MAJT, terutama di deretan Blok F 10, F 11, F 13, dan F 15, masih terlihat sepi. Pedagang Kanjengan sedianya ditempatkan di deretan blok-blok tersebut. Beberapa kios memang tampak sudah terisi, tapi mereka bukan pedagang Kanjengan, melainkan pedagang Johar pasca terbakar.

Tampak di depan masing-masing kios Blok F 10, F 11, F 13, dan F 15, telah diberi tanda oleh petugas Dinas Perdagangan Kota Semarang dengan menggunakan cat warna putih beserta nomor. Untuk pedagang ‘besar’ akan ditempatkan di kios, sedangkan pedagang ‘kecil’ atau pancakan ditempatkan di tepi jalan depan kios sepanjang blok.

Salah satu kios di Blok F 15 terdapat tulisan “dikontrakkan langsung tanpa perantara”. Padahal tempat tersebut adalah fasilitas pemerintah yang diberikan kepada pedagang secara gratis. Artinya, tidak boleh diperjualbelikan maupun dikontrakkan.

“Ada aturan, pedagang pancakan hanya diperbolehkan berjualan mulai dini hari pukul 01.00 hingga pukul 08.00. Kalau pedagang kios bisa jualan bebas,” kata salah satu pedagang Johar, Mbah Romlah, yang juga menempati di salah satu kios Blok F.

Dikatakan, belum ada satupun pedagang Kanjengan yang mulai berjualan di Blok F. “Blok F ini memang banyak yang kosong, karena ditinggalkan oleh pedagang Johar lama. Mereka pergi karena sepi, jualan tidak laku. Akhirnya, berjualan di tempat lain. Itu yang diberi garis putih akan diberikan ke pedagang Kanjengan. Tapi, sampai sekarang belum ada yang datang,” ujarnya.

Menurut dia, pedagang tidak mau menempati kios karena jualan tidak laku. Apalagi yang pedagang pancakan, mereka kalau ditempatkan di tepi jalan di blok-blok tersebut harus memberesi barang dagangan. Padahal jaraknya sangat jauh. “Kesulitan, iya kalau barang dagangan sedikit. Lha kalau dagangannya banyak, pasti kesulitan harus bongkar pasang,” katanya.

Dikatakannya, kondisi tempat relokasi tersebut sebenarnya saat ini lumayan ramai. Tapi hanya di jalan gang utama saja. Rata-rata pembeli tidak mau masuk ke gang-gang di blok dalam. “Makanya kios yang dalam sepi, pengunjung nggak mau masuk gang. Sebab, biasanya pengunjung pasar di sini berkeliling mengendarai motor. Jadi, hanya melintas di gang utama saja, tidak masuk ke gang dalam. Makanya, meski punya kios, saya tetap berjualan di tepi jalan utama,” akunya.

Mbah Romlah menambahkan, pengunjung yang datang di Johar MAJT rata-rata adalah pedagang yang kulakan. Jarang ada pengunjung pelancong. “Bagi pedagang grosir cukup ramai. Tapi bagi pedagang eceran nangis batin,” ungkap pedagang jeruk yang mengaku setiap hari hanya mendapat untung berkisar Rp 50 ribu ini.

Kepala UPTD Pasar Johar Semarang, Dono, membenarkan bila pedagang Kanjengan belum ada yang menempati tempat relokasi di Blok F. “Sudah ada yang ke sini mengecek lokasi, tetapi sampai sekarang belum ada yang menempati,” katanya.

Pihaknya mengaku belum menerima data pedagang Kanjengan yang akan ditempatkan di beberapa bagian Blok F tersebut. Tetapi mengenai tempat, telah disediakan. “Sudah ada tempat, itu yang diberi tanda cat warna putih,” katanya. Namun demikian, Dono enggan memberikan keterangan lebih lanjut.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, mengatakan, rekapitulasi jumlah pedagang Kanjengan Blok C ada 36 pedagang, yang sudah registrasi di tempat relokasi sebanyak 31 pedagang, dan pedagang yang sudah mengambil undian 25 orang. Sedangkan di Blok D, jumlahnya 34 pedagang, yang sudah registrasi  13 orang, dan sudah mengambil undian 8 orang.

“Total pedagang Blok C dan D sebanyak 70 orang, yang sudah registrasi 44 orang, dan sudah ambil undian 33 orang. Sedangkan untuk pedagang pancakan ada 828 orang. Mereka diminta menempati Blok F di tempat relokasi kawasan MAJT,” bebernya.

Fajar meminta agar para pedagang Kanjengan segera menempati tempat relokasi yang telah disediakan. Bahkan, kalau tempat relokasi tidak muat, lanjut dia, pedagang dipersilakan memilih pasar mana saja. Sebab, di Semarang memiliki 48 pasar. “Kami ini kurang apa? Karena itu kami meminta para pedagang bisa saling bersinergi, sehingga pembangunan Pasar Johar Baru segera terealisasi. Tidak usah bermain provokator,” katanya.

Pihaknya hanya meminta pedagang mau ditata, karena pemerintah tidak mungkin merugikan pedagang. Jika ditata tidak bisa, maka pihaknya menyatakan akan memgambil sikap tegas. Para pedagang yang tidak mau menempati kios maupun lapak di tempat relokasi, akan dicoret dari data base. “Kalau tidak mau ya kami coret, gitu aja. Pedagang yang dicoret, tidak akan dapat lapak maupun kios saat Johar Baru selesai dibangun,” tegasnya. (amu/aro)