Pancasila Bisa Jadi Jalan Tengah

617

SEMARANG – Masih terbukanya kajian tentang dasar ontologis Pancasila yaitu konsep tentang manusia, membuat ketidakseimbangan antara individualitas dan sosialitas manusia. Permasalahan tersebut mengemuka karena alienasi manusia atau proses menuju keterasingan dalam berbagai segi kehidupan.

Dosen Program Studi PPKn Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Agus Sutono S Fil M Phil, berhasil melakukan penelitian, yang berjudul ‘Pancasila Sebagai Filsafat Jalan Tengah Dalam Problem Individualitas dan Sosialitas Manusia: Perspektif Antropologi Metafisik’, menurutnya gejala alienasi terjadi lantaran dalam kehidupan penuh dengan kompetisi antar  individu yang ketat, materialistik, dan ketidakseimbangan hubungan sosial.

“Problem filosofis tersebut juga  ditandai dengan menguatnya ketidakseimbangan hubungan  individual di dunia kontemporer, yakni dunia dimana berkembang prinsip individualisme,” katanya saat persiapan sidang terbuka doktor bidang Ilmu Filsafat Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM) Jumat (25/8) di Rektorat Upgris.

Dengan berkembangnya dunia konteporer, lanjut dia manusia akan menganggalkan kodratnya sebagai mahluk sosial, artinya apa yang dilakukan berubah menjadi individual dalam semua bidang kehidupan, dari bidang ekonomi, politik, maupun  budaya. Individualisme tersebut tercermin dalam kapitalisme pada akhirnya tidak membawa perspektif keadilan ketika pada faktanya dunia tidak bisa dipahami secara sempit sebagai sebuah arena kompetisi murni atas nama kebebasan.

“Kapitalisme-pun pada akhirnya mengalami sebuah krisis di dalamnya. Krisis atas nilai-nilai moral di dalam sistemnya yang ternyata begitu akut, karena manusia yang menjadi anonim dalam mekanisme pasar dan cenderung semakin kehilangan makna kemanusiaannya,” paparnya.

Agus mengungkapkan jika berdasarkan Pancasila, bangsa Indonesia lebih mengedepankan kelima sila yang dalam kehidupan sehari-sehari. Namun karena dunia kontemporer yang semakin keras, harus ditemukan jalan tengah di antara problem ekstrimisme antara individualitas dan sosialitas manusia. “Pancasila sebagai langkah antisipasi atau jalan tengah, hal ini  karena di dalam ekstrimitas itulah semua persoalan berawa,” bebernya.

Ia menerangkan jalan tengah adalah sebuah langkah yang tidak terjebak dalam logika dualistis model Aristotelian. Apalagi Pancasila membahas dan mengkaji dalam aspek filsafat, sosial, politik, maupun budaya. Menurut Agus kesimpulannya adalah Pancasila dengan pemahaman sebagai filsafat jalan tengah dalam menjembatani problem antara individualitas dan sosialitas manusia. “Jadi Pancasila bisa digunakan sebagai cara pandang baru dalam menghadapi problem-problem yang dihadapi oleh negara ini. Implikasinya adalah cara pandang terhadap  kenyataan tentang manusia dan negara yang tidak boleh terjebak pada prinsip-prinsip dikotomis semata,”tutupnya. (den/bas)