SILATURAHMI: Pengurus DPD PAN dan PD Muhammdiyah usai menggelar rapat di gedung PD Muhammadiyah, kemarin (MUKHTAR LUTFI/JAWA POS RADAR KEDU).
SILATURAHMI: Pengurus DPD PAN dan PD Muhammdiyah usai menggelar rapat di gedung PD Muhammadiyah, kemarin (MUKHTAR LUTFI/JAWA POS RADAR KEDU).

MUNGKID— DPD PAN Kabupaten Magelang dan Pengurus Daerah (PD) Muhammadiyah setempat menggelar pertemuan jelang Pilkada Juni 2018. Hasilnya, baik PAN dan Muhammadiyah menyatakan satu suara dalam Pilkada.

Pertemuan digelar di kantor PD Muhammadiyah Palbapang, Kecamatan Mungkid. Hadir dalam pertemuan itu, Ketua MPP DPD PAN Mashari, Ketua Desk Pilkada Ulhadi beserta pengurus DPD Kabupaten Magelang. Juga Ketua PD Muhammadiyah H Jumari, Sekretaris Asiruddin, Wakil Ketua Abdul Malik, dan pengurus lainnya.

Ketua MPP DPD PAN Mashari mengatakan, pertemuan tersebut sebagai langkah konsolidasi jelang Pilkada 2018. PAN dan PD Muhammadiyah ingin menyamakan presepsi dalam mengambil sikap politik.

“PAN ini lahir dari rahim Muhammadiyah. Kita ke sini silaturahmi, meminta masukan, arahan, dan petunjuk dalam proses politik pada 2018 mendatang.”

Dalam pertemuan itu, lanjut Mashari, PD Muhammdiyah banyak memberikan masukan. Termasuk, dalam memilih kriteria pemimpin untuk Kabupaten Magelang. “Hasilnya, kita sepakat bahwa PAN dan Muhammadiyah satu suara dalam Pilkada nanti. Keputusan PAN akan bergantung dari arahan dan masukan PD Muhammdiyah,” ucap pria yang juga Wakil Ketua DPW PAN Jateng itu.

Masih menurut Mashari, bersatunya PAN dan Muhammdiyah, akan menjadi kekuatan besar yang solid. “Struktur kita jelas dari cabang sampai ranting dan jika bersatu ini jadi kekuatan.”

Ketua PD Muhammadiyah Drs H Jumari mengatakan, pihaknya secara politik tidak akan bersikap. Namun, Jumari menegaskan, Muhammadiyah akan mendorong agar Kabupaten Magelang memiliki pemimpin yang ngayomi. Juga tidak diskriminatif.

“Secara kelembagaan, Muhammadiyah tidak bisa menentukan siapa calonnya. Kita sama dengan Nahdlatul Ulama (NU). KH Hasyim Muzadi pernah mengatakan, Muhammadiyah dan NU itu ibarat sandal, maka jika salah satu saja tidak dipakai, akan njomplang. Begitu juga di Magelang.” (vie/isk)