SEMARANG – Legislator Jateng meminta nelayan dari provinsi ini tidak melakukan penangkapan ikan di perairan sekitar Mimika, Papua hingga situasinya kondusif. Saat ini situasi dianggap belum kondusif pasca penyerangan terhadap nelayan asal Jateng oleh nelayan setempat pada 9 Agustus lalu.

Sebelumnya, sebanyak 126 nelayan asal Jateng dipulangkan ke daerah asalnya oleh Pemkab Kendal dengan menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU. Dari jumlah tersebut, sebanyak 87 diantaranya berasal dari Kabupaten Kendal. “Saya minta mereka tidak kembali lagi ke Mimika untuk sementara waktu sampai situasinya benar-benar kondusif,” kata anggota Komisi B DPRD Jateng, Mifta Reza NP.

Reza menjelaskan, konflik di Mimika terjadi karena adanya kecemburuan nelayan setempat. Sebab hasil tangkapan nelayan asal Jateng lebih banyak dan memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding nelayan setempat.

Hal ini bisa terjadi karena etos kerja nelayan Jateng sangat bagus. Mereka mau kerja keras dan didukung alat tangkap yang lebih baik dibanding nelayan setempat. “Kecemburuan tersebut diperparah dengan adanya provokasi dari pihak yang tidak bertanggung sehingga terjadi perusakan tempat tinggal nelayan Jateng dan perampasan terhadap harta benda mereka,” jelasnya.

Mifta Reza yang pada waktu itu melakukan mediasi bersama anggota Komisi B DPRD Jateng Riyono di Mimika menambahkan, dari mediasi yang dilakukan, nelayan Mimika akhirnya sepakat minta dilakukan transfer teknologi dan pembelajaran cara penangkapan ikan kepada nelayan Jateng.

“Saya minta Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng memfasilitasi transfer teknologi ini dan mengkondisikan agar situasi disana benar-benar kondusif serta nelayan yang dipulangkan bisa kembali melaut di Mimika,” katanya.

Menurut Reza, penghasilan Nelayan Jateng di Mimika cukup besar karena tangkapannya memiliki nilai ekonomi tinggi dan digemari para pedagang ikan di Mimika yang berasal dari berbagai daerah di wilayah Indonesia Timur. (ric)