BERMAIN : Seorang anak bermain di area sawah Kelurahan Cabawan, Jumat sore (25/8) (K. ANAM SYAHMADANI/RATEG).
BERMAIN : Seorang anak bermain di area sawah Kelurahan Cabawan, Jumat sore (25/8) (K. ANAM SYAHMADANI/RATEG).

TEGAL-Sebanyak 21 hektare sawah di Kecamatan Tegal Barat dan Kecamatan Margadana mengalami puso atau gagal panen. Dinas Kelautan dan Perikanan, Pertanian dan Pangan (DKP3) Kota Tegal menyebutkan, penyebab puso adalah karena sawah di dua kecamatan tersebut terkena intrusi air laut, yang diketahui telah terjadi selama bertahun-tahun.

Kepala DKP3 Noor Fuady melalui Kepala Bidang Pertanian dan Pangan Agoes Marka Putra dan Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman Kota Tegal Suhito menyampaikan, berdasarkan periode pengamatan 1-15 Agustus, 21 hektare tersebut terdiri dari 5 hektare di Kecamatan Tegal Barat dan 16 hektare di Kecamatan Margadana.

“Yang terkena instrusi air laut, yakni di Kelurahan Kraton, Pesurungan Lor, Krandon, Margadana, Cabawan, dan Kaligansa,” kata Suhito. Intrusi air laut terhadap area sawah tersebut menjadi persoalan klasik dan sampai saat ini belum ditemukan solusi yang tepat. Sebenarnya, para wakil rakyat sudah mengkonsultasikannya ke kementerian terkait.

Sebelumnya, DKP3 juga telah mengupayakan penanganan dengan berbagai cara. Misalnya, menanam varietas padi tahan air asin seperti dilakukan petani Kabupaten Brebes. Namun, upaya itu mengalami kegagalan. Begitu juga dengan penanaman varietas padi Inpari Unsoed 79 Agritan yang bekerjasama dengan Universitas Jenderal Soedirman.

Varietas padi tersebut dirakit untuk sawah daerah pesisir dengan kadar garam (salinitas) 0-12 ds/m. Diklaim, daya hasil pada kondisi tercekam salinitas berkisar 4-6 ton gabah kering panen perhektare. Pada sawah normal, daya hasil varietas ini mencapai 7-8,5 ton. “Penanaman varietas padi ini mengalami kegagalan karena terendam air laut dalam waktu yang lama,” kata Agoes. (nam/ela/jpg)