Ciptakan Robot Tari, Dikendalikan Lewat Bluetooth

Lebih Dekat dengan Komunitas Robotika Universitas PGRI Semarang

170
INOVATIF: Sebagian anggota komunitas robotika UPGRIS. (kanan) Robot tari (DOKUMENTASI).
INOVATIF: Sebagian anggota komunitas robotika UPGRIS. (kanan) Robot tari (DOKUMENTASI).

Lima belas mahasiswa Fakultas Teknik Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) membentuk Komunitas Robotika untuk mengembangkan inovasi teknologi masa kini. Komunitas ini terbentuk atas inisiatif mahasiswa yang ingin memperdalam bidang robot. Seperti apa?

 Ayuk Fitriana Puji Lestari

KOMUNITAS Robotika UPGRIS hampir 2 tahun dibentuk. Tepatnya, Desember 2015 lalu. Komunitas ini beranggotakan 15 mahasiswa Fakultas Teknik. Ketua Tim Robotika ini bernama Pradifta Tri Hatmoko, dan wakilnya Mario Dwi Suryadi.

“Anggotanya mahasiswa aktif yang berkeinginan mempelajari tentang robot. Awalnya, terbentuk dari pelatihan mikrokontroler yang digunakan sebagai otak robot,” ungkap Hafidz Gumiwang mahasiswa angkatan 2015 ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ketertarikan pada bidang robot sangatlah besar bagi mahasiswa Fakultas Teknik. Untuk mengembangkan kemampuan, mereka membentuk komunitas yang difasilitasi oleh pihak kampus.

Kalo pertama kali terbentuk awalnya hanya komunitas di bawah naungan Fakultas Teknik. Tapi denger-denger mau dijadikan UKM (unit kegiatan mahasiswa) di bawah naungan universitas,” ujar Mario, mahasiswa asal Pati ini.

Ada beberapa divisi yang berada dalam Komunitas Robotika UPGRIS. Di antaranya Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI) , Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI), Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI), dan Kontes Robot Sepak Bola Indonesia. Para anggota mengaku baru mempelajari bidang robot setelah bergabung di komunitas ini.

Hafidz yang juga Ketua Tim Atom Divisi KRAI mengatakan, Tim Robotika UPGRIS pernah mengikuti beberapa ajang Kontes Robot Indonesia dan ekspo di kampus. Baru-baru ini, tepatnya pada Mei lalu, Divisi KRSTI mengikuti Kontes Robot Indonesia Regional 3 yang digelar di kampus Universitas Gajah Mada (UGM) Jogja.

Alhamdulillah dalam kontes ini, kami menempati peringkat ke-4 pada divisi tari,” kata Hafidz.

Kontes Robot Seni Tari Indonesia ini memiliki keunikan tersendiri. Robot bergerak mengikuti irama musik tradisional. Kostum yang dikenakan robot pun menyesuaikan dengan tari yang akan dibawakan. Gerak dan diamnya robot dikendalikan oleh bluetooth.

“Robot tari yang dilombakan, semua komponen dirakit oleh mahasiswa sekreatif mungkin. Terus diprogram biar gerakannya bisa luwes waktu menari. Selain itu juga harus pas sama durasinya” ujar Pradifta Tri Hatmoko, Ketua Robotika UPGRIS.

Setiap robot yang dirakit memiliki komponen dan tingkat kesulitan yang berbeda. Begitu pun sensor yang digunakan. Namun semua robot mengandalkan sensor keseimbangan gyroscope untuk menjaga keseimbangan gerakannya.

“Untuk proses perakitan masing-masing robot berbeda. Kalo robot tari kesulitannya saat buat program biar geraknya luwes itu harus detail. Keseimbangan sewaktu jalan dan dipakein kostum juga harus bener-bener dicek. Satu lagi, proses konektivitas dengan bluetooth itu pertimbangan yang utama,” ungkap Arif, salah satu anggota tim KRSTI mahasiswa asal Madiun.

Saat ini, Robotika UPGRIS memiliki lima robot. Yakni, dua robot tari, satu robot pemadam beroda, satu robot pemadam berkaki (spider) dan satu robot ABU. Kelima robot tersebut pernah mengikuti ajang perlombaan tingkat regional maupun nasional.

Komunitas ini memiliki misi di antaranya yang menjadi wadah pengembangan dan menumbuhkan minat bakat mahasiswa di bidang robotik, dan melakukan riset teknologi tepat guna di bidang robotik. “Semoga Robotika UPGRIS terus berkembag memunculkan inovasi-inovasi baru sesuai dengan teknologi masa kini, yang tentunya bermanfaat bagi masyarakat,” harap alumni SMK Negeri 1 Semarang ini. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here