Dinda Amalia Gumay (DOK PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG).
Dinda Amalia Gumay (DOK PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG).

HOBI menari sejak TK, membuat Dinda Amalia Gumay semakin piawai menarikan apa saja, terutama tarian Jawa. Padahal, siswi SMA 3 Semarang, tidak secara khusus mengasah bakatnya lewat les privat, tapi secara otodidak dan latihan dari guru sekolah. “Saya memang suka menari sejak kecil. Jadi gerakannya suka mengalir saja, mengikutin iringan musik,” kata gadis asli Temanggung ini.

Gadis yang akrab disapa Gumay ini mengungkapkan dari hobi menari, telah mengukir beragam prestasi. Di antaranya menyabet juara 3 lomba tari tradisional tingkat SMP se-Kabupaten Temanggung tahun 2014. Juara 2 lomba tari tradisional se-Kabupaten Temanggung 2014. Menjadi peserta parade tari tradisional dalam Festival Budaya se-Jawa Tengah tahun 2014. Juara 3 lomba tari tradisional dalam Porsimaptar se-Jawa Bali.

“Selain prestasi lomba, saya mengisi beragam acara, baik di sekolah maupun acara yang bekerjasama dengan pihak luar sekolah,” ujar gadis kelahiran Temanggung, 29 November 1999 silam ini.

Meski telah terbiasa menari, Gumay mengaku kesulitan menghafal gerakan tari yang sulit dalam waktu cepat. “Hambatan ketika belajar tari tanpa pelatih, saat gerakan tarian sulit, hanya diberi waktu 2 hari harus hafal dan lancar,” tutur anak ke dua dari 3 bersaudara ini.

Menurutnya, dengan menekuni tari tradisional Jawa, berarti turut melestarikan budaya Jawa agar tidak ditelan zaman yang semakin modern. Selain itu, gending-gending tarian tradisional atau lagu pengiring tari tradisional itu sangat indah dan nyaman didengar maupun dirasakan. “Kalau mau menghayati, bosan dan lelah akan hilang dengan sendirinya. Selain itu, bisa tertanam budi pekerti yang halus,” kata putri pasangan Imron Amrozi  dan Binti Tsaniyah ini. (mg34/ida)