DIINTEROGASI : Kasatreskrim Polres Kendal AKP Aris Munandar saat menginterogasi pelaku pencabulan Mochammad Nasikun, Rabu (23/8) kemarin (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG).
DIINTEROGASI : Kasatreskrim Polres Kendal AKP Aris Munandar saat menginterogasi pelaku pencabulan Mochammad Nasikun, Rabu (23/8) kemarin (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG).

KENDAL—Bermaksud membuang sial, seorang gadis belia asal Desa Jali, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, justru tertimpa sial. Keinginannya untuk mendapatkan jodoh, malah berujung pelecehan seksual di tangan sang dukun cabul.

Korban diketahui memiliki inisial SZ, 23, seorang gadis yang mengaku resah lantaran tak laku-laku alias sulit mendapatkan jodoh. Kejadian bermula ketika ia mulai bekerja di sebuah butik pakaian milik RR, 28. Kepada RR, SZ bercerita tentang masalah pribadinya yang sulit mendapatkan jodoh.

Lalu RR menawarkan kepada SZ akan mengenalkan dirinya kepada orang pintar (dukun) yang mampu buang sial sehingga SZ bisa segera mendapatkan jodoh. RR mengajak korban SZ jalan-jalan untuk menemui dukun sakti tersebut. Dukun sakti itu adalah Muchammad Nasikun, 31, warga Desa Winong Kecamatan Ngampel, Kendal. Nasikun tidak lain adalah pacar RR.

Dari perkenalannya dengan Nasikun inilah, awal mula petaka menimpa SZ bermula. Kepada SZ, Nasikun mengaku jika dirinya bisa membantu membuang sial agar SZ bisa segera mendapatkan jodoh idamannya. Caranya menjalani ruwatan dengan sejumlah ritual yang harus dijalani SZ.

SZ yang tidak tahu ritual apa yang akan dijalaninya, hanya mengangguk saja. RR dan Nasikun kemudian membawa SZ pergi ke Hotel Roro di Desa Wonorejo Kecamatan Kaliwungu, Kendal. Di kamar nomor 16, ketiganya menginap dan menjalani ruwat buang sial.

Begitu masuk kamar, SZ diminta untuk melepas seluruh pakaiannya. “Korban sempat menolak, tapi saya bilang ini adalah satu ritual buang sial. Untuk buang sial, harus mandi besar,” kata Nasikun, kemarin (23/8).

Dibantu pacarnya RR, Nasikun melepaskan pakaian SZ dan memandikannya di kamar mandi. Jadi di kamar mandi itu tiga orang dalam kondisi telanjang tanpa mengenakan selembar pakaian pun. RR bertugas memandikan SZ, sementara Nasikun bertugas menjalankan ritual dengan berpura-pura membaca mantra.

Usai membaca mantra, Nasikun meminta RR untuk memegangi SZ dari belakang. Sementara dari depan, Nasikun memegangi bagian intim milik SZ dengan cara menggesek-gesekkan dan memasukkan jarinya.

“Waktu itu, korban sempat menolak. Tapi saya bilang, ini adalah bagian ritual yang harus ia jalani untuk membuang sial. Yakni bagian intim harus dibersihkan agar hawa negatif dalam dirinya bisa hilang,” tutur Nasikun saat diperiksa penyidik Satreskrim Polres Kendal.

Puas menggerayangi bagian intim korban, Nasikun kemudian meminta RR dan SZ untuk berbaring di ranjang. Dengan dalih yang sama, Nasikun meminta pacarnya RR untuk memegangi SZ dari belakang. Sementara Nasikun kembali melakukan ritual pembersihan bagian intim serta menggerayangi bagian sensitif dari tubuh SZ.

Usai menggerayangi, Nasikun kemudian bermaksud menyetubuhi korban dengan dibantu pacarnya RR. Namun SZ menolak dengan cara berontak. “Saya bilang, ini adalah ritual terakhir agar sialnya bisa hilang. Kamu ikuti saja, saya kan juga tidak minta bayaran untuk ritual buang sial ini,” katanya menirukan percakapannya dengan SZ kala itu.

Tapi korban tetap menolaknya. Pelaku akhirnya mengancam akan membunuh korban SZ, jika tidak menuruti kemauannya. “Tapi korban tetap menolak, akhirnya korban memakai pakaiannya,” tuturnya.

Tidak kesampaian, akhirnya Nasikun melakukan hubungan suami istri dengan pacarnya RR di hadapan korban SZ. Usai menyetubuhi pacarnya, Nasikun kemudian tidur di lantai, sementara RR dan SZ tidur di ranjang.

“Pagi harinya, kemudian kami pulang. Saya diminta ke Demak oleh pacar saya, katanya mau dikenalin sama orang tuanya. Setelah itu, saya dilaporkan oleh orang tua SZ ke polisi,” tandasnya.

Kasat Reskrim Polres Kendal, AKP Aris Munandar mengatakan modus pelaku pencabulan dengan mengaku bisa membantu menyembuhkan korban lantaran ada hawa negatif dan makhluk halus yang menganggu korban.

Dengan alasan tersebut, pelaku meyakinkan jika itulah yang menjadi penyebab korban susah mendapatkan jodoh. “Maka oleh tersangka akan diobati dengan ritual yang harus dijalani korban sesuai instruksi pelaku,” jelasnya.

Orang tua korban yang tidak terima kemudian melaporkan pelaku ke Satreskrim Polres Kendal. “Kami langsung bergerak dan berhasil menangkap pelaku dan melakukan penahanan agar pelaku tidak melarikan diri atau merusak barang bukti,” tuturnya.

Oleh penyidik, pelaku Nasikun dijerat dengan pasal 289 KUHP tentang kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang melakukan atau membiarkan dilakukan pada dirinya perbuatan cabul. “Ancaman pidana maksimal sembilan tahun penjara,” tandasnya. (bud/ida)