INOVATIF : Teguh menggunakan Jetnet (kedua dari kanan) bersama timnya berusaha terus mengembangkan Jetnet agar diterima tunanetra di seluruh Indonesia (IST).
INOVATIF : Teguh menggunakan Jetnet (kedua dari kanan) bersama timnya berusaha terus mengembangkan Jetnet agar diterima tunanetra di seluruh Indonesia (IST).

Empat mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menciptakan jaket khusus tunanetra. Jaket berwarna merah menyala ini diberi nama Jetnet, singkatan dark Jaket Tunanetra. Seperti apa?

AJIE MAHENDRA

JAKET khusus tunanetra alias Jetnet ini, disematkan teknologi yang memungkinkan pengguna untuk mengetahui objek di sekitarnya. Dengan begitu, pengguan tidak lagi memerlukan tongkat tunanetra sebagai alat bantu meraba ketika berjalan.

“Kami menggunakan sensor jarak HC-SR04 dan Gyroscope. Dua alat ini bisa memberi gambaran kepada pengguna mengenai suasana di sekelilingnya,” ucap Teguh Kurniawan, mahasiswa Teknik Elektro angkatan 2015,

Sampai saat ini, kata pentolan tim pencipta Jetnet, mayoritas penyandang tunanetra hanya menggunakan tongkat bantu untuk membantu mereka berjalan. Tentunya, hal tersebut kurang efisien dikarenakan kemampuan tongkat yang hanya mampu mengetahui objek yang ada di depan penggunanya saja. Selain itu, pengguna tongkat harus terus mengayunkan tongkatnya sehingga berpotensi mengenai hal-hal yang tidak diinginkan.

Dia mengaku, saat ini Jetnet masih berupa prototipe. Teguh dibantu Krismon Budiono (Teknik Elektro 2016), Rose Mutiara Suin (Teknik Elektro 2017), dan Yuni Prihatin Ningtyas (Kesehatan Masyarakat 2015) dan dosen pembimbing Aris Triwiyatno, akan terus mengembangkannya. Sebab, proyek pengembangan ini telah mendapatkan pendanaan dari Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2017.

Di bagian luar Jetnet, disematkan dua jenis sensor yaitu delapan sensor jarak berupa HC-SR04 dan dua sensor sudut Gyroscope yang dikendalikan dua buah Arduino Uno. Peranti tersebut bekerja dengan output berupa suara dari earphone yang tersambung dengan modul MP3 dengan sumber tenaga baterai 7,2V berkapasitas 1800mAh. Semua sensor ditanamkan di prototipe Jetnet langsung dan untuk sistem kendali serta baterainya dimasukkan ke dalam kotak kecil yang diselipkan di belakang celana sehingga sangat praktis dalam pemakaiannya.

Dijelaskan juga, Jetnet pada dasarnya berfungsi untuk mendeteksi objek sekitar pengguna dengan memanfaatkan kedua jenis sensor tersebut. Teknologi yang dibawanya, dapat mendeteksi objek-objek yang berada di depan, serong kanan, serong kiri, kanan, dan kiri yang berjarak 3 meter sehingga radius deteksinya mencapai 180 derajat.

Ada juga lubang yang berada di depan penggunanya. Bahkan pengguna juga dapat mengetahui elevasi kemiringan jalan. “Jadi dengan alat ini, penyandang tunanetra seakan dapat melihat keadaan sekitar yang diinformasikan dengan suara dari earphone yang mengindikasikan adanya objek,” paparnya.

Alat ini memiliki beberapa keunggulan. Seperti sistem kendali mikrokontroler berupa Arduino Uno. Waktu deteksi yang cepat sekitar 1 detik. Bisa digunakan siapa saja. Praktis dalam penggunaannya. Output berupa suara. Harganya juga ekonomis.

“Kami berharap Jetnet bisa diaplikasikan dan berguna bagi penyandang tunanetra yang ada di Indonesia. Sehingga dapat membantu mobilitas pengguna dan mengurangi angka kecelakaan yang dialami penyandang tunanetra,” harapnya. (*/ida)