9,5 Persen Kasus AIDS, Menjerat Para Remaja

438

SEMARANG-Pencegahan tindak kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan dinilai masih belum optimal. Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jateng, hingga Maret 2017 terdapat 13.547 kasus HIV dan 5.049 kasus AIDS, dimana 9,5 persen di antaranya kasus AIDS berusia remaja.

Sementara hasil mini survei yang dilakukan pilar Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jateng, kekerasan yang menimpa anak dan perempuan mencapai 2.466 kasus pada tahun 2015. Dari data itu, 1.971 di antaranya dialami perempuan dan sebanyak 757 kasus merupakan kekerasan seksual.

“Mengapa tinggi, sebab upaya pencegahan belum dilakukan secara maksimal. Termasuk pemenuhan kebutuhan informasi seks terhadap remaja,” kata Koordinator Pilar PKBI Jateng, Ruchel Yabloy dalam diskusi peringatan Hari Remaja Internasinonal bertema “Kekerasan Seksual Remaja, Akar Persoalan dan Cara Mengatasinya, di Warung Sosmet’s, Gajahmungkur, Semarang, Rabu (23/8) kemarin.

Ia menuturkan, kebutuhan pendidikan seks terhadap remaja sangat penting tetapi dalam pelaksanaannya belum dilakukan secara intensif. Di sisi lain, pendidikan seks masih dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Akibatnya, informasi yang kurang berakhir dengan tindakan negatif termasuk tindakan kekerasan seksual. “Belum dilakukan secara intensif dan merata sehingga mereka lebih mudah terpengaruh gadget. Akhirnya, hal berbau negatif tidak terhindarkan,” tuturnya.

Dalam mini survei PKBI Jateng juga mencatat, dari 2843 responden siswa SLTA di Kota Semarang, 40 persen responden mengaku sudah berpacaran. Ironisnya, 2,2 persen dari remaja yang sudah berpacaran pernah melakukan hubungan seks. “Sepintas memang terlihat kecil, namun jika dibiarkan akan memprihatinkan. Sebab, bisa menjadi pemicu kekerasan seksual pada perempuan,” katanya.

Karena itulah, imbuhnya, perlu pendampingan ekstra dan intensif oleh berbagai pihak. Di lingkungan sekolah, akan lebih baik jika dijadikan sebagai kurikulum ataupun ekstrakulikuler.

Analis Perlindungan Anak Dinas PPPA DALDUK KB Provinsi Jateng, Isti Ilma Patriani mengatakan peran keluarga sangat signifikan dalam meminimalisasi angka kekerasan seksual. Untuk itu, pihaknya merancang Peraturan Gubernur (Pergub) yang berfungsi mengoptimalkan peran keluarga. “Pengasuhan keluarga merupakan hal terpenting, sekalipun saat ini banyak kasus yang muncul justru berasal dari keluarga terdekat. Dan itu akan kami maksimalkan dengan peraturan baru,” katanya.

Di sisi lain, ia mendukung agar draft UU terkait kekerasan seksual yang masih multitafsir untuk segera direvisi. Pasalnya, batasan-batasan definisi masih bias sehingga menyulitkan proses pengadilan. “Memang diakui ada pasal dan ayat yang multipersepsi. Hal itu akan menjadi persoalan apabila sudah masuk ke ranah hukum. Jadi mana tindak kekerasan seksual dan mana penganiayaan harus lebih rinci,” pungkasnya. (aaw/ida)