ANTI RADIKALISME: Wakil Bupati Semarang Ngesti Nugraha memotong tumpeng sebagai simbolis apresiasi kegiatan deklarasi anti radikalisme, kemarin (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
ANTI RADIKALISME: Wakil Bupati Semarang Ngesti Nugraha memotong tumpeng sebagai simbolis apresiasi kegiatan deklarasi anti radikalisme, kemarin (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

UNGARAN – Dalam rangka Haul Para Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia ratusan santri di Kabupaten Semarang mendeklarasikan ati radikalisme dan terorisme di Agung Al Mabrur Ungaran, Kabupaten Semarang, Senin (21/8).

Deklarasi dipimpin langsung oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Semarang Miftahudin. “MUI sebagai payung ulama di Indonesia telah berketetapan bahwa bentuk NKRI dan dasar negara Pancasila adalah final dan tidak boleh digangu gugat,” kata Miftahudin.

Dalam deklarasi masyarakat anti radikalisme dan terorisme, ada empat butir pernyataan sikap. Pertama, menyatakan taat, setia dan berkomitkan untuk menjaga tegaknya NKRI, Pancasila, UUD 1945, serta kehidupan yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

“Kedua, menolak paham radikalisme dan terorisme hidup di bumi Indonesia. Termasuk menolak organisasi kemasyarakatan atau politik yang bertentangan dengan Pancasila, UUD 45 dan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ujarnya.

Ketiga, mengajak seluruh elemen masyarakat Jawa Tengah untuk serentak mencegah penyebaran paham atau gerakan radikalisme, terorisme atau ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45.

Keempat, bertekad membentuk generasi muda berjiwa nasionalisme yang kuat, demokratis, jujur, berkeadilan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, etika akademik, hak asasi manusia, kemajemukan, kerukunan, persatuan dan kesatuan bangsa yang berwawasan nusantara.

Sebelum mengucapkan deklarasi, para santri dan umat yang hadir telah mengkhatamkan Alquran sebanyak 17 kali. Angka ini dipilih sesuai dengan tanggal kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.

Selain ratusan santri dan ulama, hadir pula Wakil Bupati Semarang Ngesti Nugraha. Ratusan santri yang hadir berasal dari sejumlah pondok pesantren yang ada di Kabupaten Semarang. Wakil Bupati Semarang Ngesti Nugaraha pada kesempatan itu mengatakan eksistensi bangsa dengan kebhineka tunggal ika saat ini tengah terusik.

“Semangat persatuan dan kesatuan yang menjadi kekuatan utama tegaknya NKRI mulai terkoyak. Jawa tengah sebagaimana yang kita ikuti di media massa termasuk daerah yang terkena imbas yang cukup serius, mengingat sejumlah daerah menjadi lahan subur berkembangnya paham radikalisme,” kata Ngesti. Meski begitu, Ngesti tetap bersyukur karena hingga kini kondisi Kabupaten Semarang tetap kondusif. (ewb/zal)