33 C
Semarang
Minggu, 31 Mei 2020

Ratusan Proyek Belum Dikerjakan

Anggaran Proyek Rp 4,5 T, Baru Terserap Rp 1,2 T

Another

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

SEMARANG-Ratusan proyek infrastruktur yang dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Semarang 2017 sebesar Rp 4,5 triliun, ternyata baru terserap Rp 1,2 triliun atau sekitar 27,16 persen. Artinya masih ada ratusan proyek yang belum tersentuh hingga memasuki semester kedua ini.

Hal tersebut terungkap dalam Rapat Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang yang membahas laporan realisasi keuangan semester I/2017 di Ruang Paripurna Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang, Senin (21/8) kemarin.

“Ini sangat memprihatinkan. Sebab, hasil evaluasi serapan anggaran selama satu semester, yakni mulai Januari – Juni 2017 ternyata sangat minim,” kata anggota Badan Anggaran DPRD Kota Semarang, Suharsono yang turut hadir dalam rapat tersebut.

Hal tersebut menjadi catatan buruk bagi kinerja jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) hingga lingkup kecamatan. Sebab, saat ini sudah bulan Agustus, hampir memasuki bulan September. Padahal Desember mendatang semua proyek harus diselesaikan untuk kemudian dipertanggungjawabkan.

Asumsinya, kata dia, seharusnya melewati semester pertama setidaknya bisa terealisasi 40-50 persen. Tapi ternyata baru terealisasi kurang lebih 27,16 persen. “Artinya, ini masih jauh dari 50 persen,” kata politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Menurut Suharsono, hal ini menjadi persoalan serius yang harus mendapatkan penanganan. Maka dari itu, pihaknya mengusulkan agar masing-masing komisi di DPRD Kota Semarang memaksimalkan tugas sebagai fungsi pengawasan, dengan cara memanggil masing-masing OPD terkait untuk melaporkan program-program infrastruktur yang dikerjakan. “Hal itu perlu dilakukan, untuk mengetahui apa kendalanya dan seperti apa upaya penanganan percepatannya,” kata dia.

Evaluasi saat ini, kata Suharsono, sebetulnya terbilang terlambat. Sebab, seharusnya evaluasi semester pertama ini dilakukan pada bulan Juli 2017 lalu. “Saat ini sudah berjalan dua bulan di semester kedua. Mereka beralasan, penyebab minimnya penyerapan anggaran dikarenakan banyak hal, terutama molornya proses lelang pekerjaan sehingga pelaksanaan kegiatan juga terlambat, termasuk proyek yang belum mulai dilaksanakan,” katanya.

Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi membenarkan bahwa penyerapan anggaran hingga saat ini masih sangat minim. “Secara umum, hal ini disebabkan karena banyak proses lelang yang molor. Kedua, pembebasan lahan banyak yang belum terealisasi, misalnya proyek SORR (Semarang Outer Ring Road). Ketiga, proses perencanaan dari OPD yang kurang matang,” ungkapnya.

Bila OPD beralasan bahwa selama ini ada perombakan OPD baru, sehingga mempengaruhi keterlambatan program kerja dan lelang molor, Supriyadi tidak setuju dengan dalih alasan tersebut. “Karena sebelumnya masing-masing OPD telah memiliki acuan pelaksanaan kegiatan dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2016. Semua pekerjaan sudah ditentukan berdasarkan RPJMD itu,” katanya.

Supriyadi mengaku prihatin atas minimnya serapan anggaran tersebut. Sebab, jika anggaran tak terserap, maka program-program infrastruktur yang menjadi hak masyarakat tidak terealisasi. Maka dari itu, masalah ini harus segera ditindaklanjuti dengan percepatan. Jika tidak, progres pembangunan menjadi lambat dan akan mengakibatkan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) membengkak. “Kami minta wali kota, wakil wali kota, dan sekretaris daerah segera turun ke lapangan. Hal itu untuk mengurai kendala-kendala yang ada. Kami juga akan melaksanakan fungsi pengawasan,” ujarnya.

Berdasarkan hasil evaluasi, hampir semua jajaran OPD belum mampu memaksimalkan penyerapan anggaran. Tetapi ada dua OPD yang penyerapan anggarannya sangat minim.

Kedua OPD tersebut adalah Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang. Yakni dari alokasi anggaran Rp 693,8 miliar, baru bisa menyerap anggaran Rp 38,5 miliar untuk semester pertama. Artinya penyerapannya baru 5,5 persen.

Selanjutnya adalah Dinas Penataan Ruang (Distaru) Kota Semarang, dari alokasi anggaran Rp 233 miliar, baru terserap Rp 9,8 miliar, atau baru kurang lebih 4,19 persen. “Masih sangat minim, terutama berkaitan dengan infrastruktur, seperti di DPU dan Dinas Penataan Ruang Kota Semarang. Selain dikarenakan proses lelang molor, juga soal pembebasan lahan banyak yang belum terealisasi,” katanya.

Banyaknya pembebasan lahan yang belum terealisasi, lanjut Supriyadi, mengakibatkan serapan anggaran mengalami penurunan drastis di semester pertama tahun ini. “Padahal masing-masing OPD telah memiliki Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Penyusunan RKPD berlandaskan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Sehingga alasan penyesuaian OPD baru tidak relevan,” katanya. (amu/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah kasih. Lirik-liriknya memicu penasaran orang...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma diproduksi 100 biji kaset itu,...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

More Articles Like This

Must Read

Jalan Pintas ke Sekolah, Siswa Seberangi Sungai

SEMARANG - Puluhan siswa SD Negeri Jabungan, Banyumanik, setiap harinya harus uji nyali dengan menyeberang Sungai Kethek yang berarus cukup deras. Para siswa harus...

Laki-Laki Misterius Bernama Misteri

Oleh: Dahlan Iskan Saya dapat kiriman naskah bagus. Dari teman di Singapura. Dulu pemilik perusahaan sekuritas di Jakarta. Penulis naskah itu John R Malott. Mantan duta...

PKBM Omah Sinau Studi Banding

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG-Setelah meluncurkan PKBM Omah Sinau di Desa Ringinanom beberapa waktu lalu, tim IbW yang terdiri dari tiga dosen UM Magelang Khusnul Laely SPd...

Bersihkan Diri sebelum Nyepi

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Di tengah rintik hujan, ribuan umat Hindu Kota Semarang dan sekitarnya mengikuti prosesi ibadah melasti di Pantai Marina Semarang, Minggu (11/3) pagi. Upacara...

UM Magelang Targetkan Rp 15 M Hibah Dikti

MUNGKID -- Lembaga Penelitian Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang melakukan kegiatan peningkatan kapasitas dosen dalam penyusunan proposal dana hibah penelitian...

Tersangka Korupsi Pupuk Segera Disidang

SEMARANG - Berkas perkara dugaan kasus korupsi pengadaan pupuk urea tablet di Perusahaan Umum (Perum) Perhutani Unit I Jawa Tengah periode 2010-2011 dan 2012-2013,...