Mendaki 8 Jam, Terjun 35 Menit

900
MISI PRIBADI: Saryanto melakukan misi terjun Paralayang dari puncak Sindoro yang memiliki ketinggian 3150 Mdpl dan mendarat di Wonosobo (DOK PRIBADI).
MISI PRIBADI: Saryanto melakukan misi terjun Paralayang dari puncak Sindoro yang memiliki ketinggian 3150 Mdpl dan mendarat di Wonosobo (DOK PRIBADI).

WONOSOBO—Saryanto, 32, atlet paralayang asal Wonosobo mencatat rekor. Belum lama ini, ia melakukan perjalanan ke puncak gunung Sindoro menempuh perjalanan kaki sekitar 8 jam. Lantas, pulang ke Wonosobo dengan terjun menggunakan paralayang.

Menjelang senja, sekitar pukul 16.00, Saryanto bersama satu pemandu dan 30 pendaki asal Jakarta melakukan perjalanan. Tepatnya, 13 Agustus lalu, pria yang intim disapa Anto ini, membawa misi besar. Bukan pendakian biasa. Kali ini, tas ranselnya berisi parasut paralayang seberat 25 kilogram. Padahal, Anto bukan pendaki gunung. Beban yang cukup berat, membuat perjalanan menuju puncak Sindoro yang biasanya cukup dilalui sekitar 5 jam, menjadi 8 jam. Anto beberapa kali harus istirahat.

Didorong keinginan yang sangat kuat, sekitar pukul 00.00, Anto sampai puncak Sindoro. “Sampai di puncak, saya melakukan observasi angin, sebelum kemudian istirahat agar bisa bangun pagi,” ungkap Anto, Senin (21/8) kemarin, kepada Sumali Ibnu Chamid dari Jawa Pos Radar Kedu.

Anto mengatakan, malam itu kecepatan angin cukup kencang. Berkisar 30 km per jam. Sebelum tidur, ia berdoa semoga pada pagi hari, kecepatan angin mereda. Harapannya, ia bisa kembali ke Wonosobo, dengan terbang menggunakan paralayang. “Mungkin pengaruh bulan purnama, sehingga malam itu angin sangat kencang,” ucap pria yang tinggal di Dusun Kaliurip, Desa Damarkasiyan, Kecamatan Kertek, Wonosobo.

Suami dari Widyanti ini mengaku bangun pagi, sekitar pukul 05.00. Ia lantas melakukan observasi lokasi untuk landasan. Anto berjalan mengelilingi puncak Sindoro. Saat pagi, kecepatan angin turun menjadi 20 Kilometer per jam. Sampai pukul 07.00, angin kian mereda, berada antara 15-17 kilometer per jam. “Saya berkomunikasi dengan instruktur saya, Teguh Maryanto, diberikan pesan terbang maksimal pukul 08.00.”

Untuk landasan, kata ayah dua putri ini, awalnya di sebelah selatan. Namun, lokasinya berdekatan dengan kawah Candradimuka di puncak. Dengan kondisi kecepatan angin, maka jika dari lokasi tersebut, bisa berisiko. Parasut bisa saja justru lari ke belakang. “Kalau sampai lari ke belakang, saya bisa masuk ke kawah. Maka, saya cari lokasi lain,” kata ayah dari Najwa dan Nawwaf ini.

Setengah jam kemudian, lanjut Anto, dia menemukan lokasi. Maka, berbagai persiapan dilakukan. Termasuk, memasang kamera di tali parasutnya. Sekitar pukul 07.35, Anto take off membentangkan sayap parasutnya ke angkasa.

Anto pun menemukan pemandangan yang elok pagi hari. Berupa barisan gunung gunung besar seperti Sindoro, Sumbing, Kembang dan berbagai gunung lainnya. “Ciptaan Allah yang sangat indah, sungguh luar biasa,” kata Anto yang sudah pernah mengikuti Paralayang Trip Off Indonesia sampai tujuh kali ini.

Meski perjalanan pendakian mencapai 8 jam, dengan paralayang, Anto hanya butuh waktu sekitar 35 menit hingga sampai Wonosobo. Anto mendarat mulus di lapangan Kecamatan Leksono. “Awalnya saya ingin mendarat di Kecamatan Purbalingga, namun tidak jadi karena kondisi thermal belum banyak.”

Belum cukup, empat hari berikutnya, rekor kembali dicatat. Tepatnya, pada 17 Agustus. Dia naik ke puncak gunung Kembang. Inilah anakan gunung Sindoro. Anto berhasil mendarat di lapangan Kalibeber, Wonosobo, dengan mulus. “Saya masih punya obsesi September terbang dari gunung Slamet.”

Untuk persiapan terbang dari puncak Sindoro, Anto mengaku melakukan persiapan fisik. Sebelum mendaki, selama satu pekan, setiap pagi, ia jalan cepat di Alun-Alun Wonosobo hingga lima putaran. Nah, tiga hari menjelang mendaki, Anto melakukan istirahat cukup untuk menjaga stamina. “Saya sebenarnya bukan pendaki gunung,” ucap pria kelahiran Parangtritis, pada 8 September 1985 itu.

Anto melanjutkan, “Saya masih punya obsesi terbang dari beberapa gunung di Indonesia. Sebelum ini saya juga ikut even di Kemuning Karang Anyar Solo.” (ali/isk)