LATIHAN : Dhea Putri Hermansyah memegang drummer dan adiknya Mashuri Alfarorsyah Putra Hermansyah menjadi vokalis usai latihan di studio pribadinya (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
LATIHAN : Dhea Putri Hermansyah memegang drummer dan adiknya Mashuri Alfarorsyah Putra Hermansyah menjadi vokalis usai latihan di studio pribadinya (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Gadis muda dan berbakat ini telah mengukir banyak prestasi melalui torehan pukulan stick drum. Adalah Dhea Putri Hermansyah, siswi SMA Negeri 7 Semarang. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

DI dalam ruangan berukuran sekitar 5 x 3 meter, lagu berjudul No Money yang dipopulerkan artis Galantis, telah dimainkan dengan lihai melalui sebuah pukulan stick drum oleh Dhea Putri Hermansyah. Di studio yang dihadiahkan sang ayah, Dio Hermansyah Bakrie di Jalan Julungwangi II, Semarang Barat, Kota Semarang, Dhea kerap berlatih hanya dengan panduan musik video dari handphone pribadinya.

Ternyata, gadis kelahiran Semarang, 29 Januari 2001 ini memiliki hobi main drum sejak kelas 2 Sekolah Dasar (SD). Yakni, terinspirasi dari nonton acara musik Inbox SCTV , ia merasa permainan drum menarik, unik dan hebat, apalagi wanita. Ia pun terus mendengarkan musik handphone (HP) milik ibunya, hingga akhirnya ketagihan dan hingga sekarang.

“Dari kelas 3 SD, sudah suka dengan drum. Awalnya dengerin musik, yang saya ikuti cuma suara drum-nya. Baru kelas 5 SD, sudah dilatih drum oleh ayah dan mama,” kata Dhea saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di studio pribadinya, kemarin.

Lantas kedua orang tua Dhea, mengikutkan les‎ ngedrum di Sekolah Musik Purnomo di Jalan Pandanaran, Semarang selama 2 bulan. Hingga sekarang, ia rutin berlatih dalam sehari minimal 2 lagu rumit atau 5 lagu biasa.

Sejumlah lagu yang disukainya bergenre rock, dominan lagu barat. Di antaranya lagu dari band Avenged Sevenfold, Dream Theater, Guns N’ Roses serta lagu-lagu festival. Sedangkan grup band Indonesia yang disukai Band Kotak dan Kaisar. “Selama ini sudah manggung di Kudus, Blora, Pemalang, Jogja dan Semarang sendiri,” sebutnya.

Tak heran jika siswi kelas 10 SMA Negeri 7 Semarang ini telah banyak menorehkan prestasi. Di antaranya, dalam kurun waktu 2015-2017 memperoleh  juara 3 Porsimaptar Akpol yang menggelar Festival Band se-Jawa dan Bali, juara 1‎ Festival Band SMK Pelita Nusantara tingkat Kota Semarang, juara ‎2 HUT Dispora se-Jateng.

Anak dari pertama dari pasangan suami istri (pasutri) Dio Hermansyah Bakrie dan Tri Purwati ini pernah meraih The Best Drummer USM Festival tingkat Kota Semarang, juara 2 festival band SMA Sedes tingkat Kota Semarang, juara 2 F‎estival SMA Bagimu Negeriku tingkat Kota Semarang. Ia juga kerap diminta mengisi acara manggung untuk memeriahkan sebuah acara baik formal maupun informal.

Kakak dari Aisiah Yesa Putri Maharani Hermansyah dan Mashuri Alfarorsyah Putra Hermansyah ini sudah berencana membuat album drum cover milik pribadi dan album video klip bersama Seven Beat Band yang tidak lain band yang diikutinya di sekolah.

“Nanti mau buat video cover untuk dibuka channel Youtube, buat solo drum, di-upload instagram kalau sudah up, baru ke Youtube. Kalau ada lomba nasional, saya siap ikut partisipasi dan siap diundang mengisi acara,” ujarnya.

Dari kepiawaiannya tersebut, Dhea kini sudah berhasil membuat 2 lagu karya sendiri, yakni lagu berjudul Takkan Kulepas Lagi yang sudah di-share melalui aplikasi Sound Cloud dan lagu berjudul Semarang Hebat saat masa kampanye Wali Kota dan Wakil Wali Kota, Hendrar Prihadi dan Hevearita G Rahayu. Kedua lagu itu juga sudah di-share di Youtube.

Dari hobinya tersebut, Dhea tidak merasa terganggu aktivitas belajarnya di sekolah. Terbukti, nilai akademiknya tergolong berprestasi, saat kelas 1 SMP ia berhasil memperoleh rangking 10, kelas 9 SMP mendapat rangking 3 dan 4, kemudian saat SMA nilainya selalu rata-rata 8. Menurut gadis yang beralamat di Perumahan Graha Padma, Taman Magnolia, Kota Semarang ini, tidak lepas dari dukungan kedua orang tuanya.

Adapun studio pribadi yang dimilikinya sudah dihadiahkan kedua orang tuanya sejak kelas 2 SMP, ketika mendapat juara 1 lomba band. “Tiap lomba menang selalu dapat hadiah. Termasuk setiap mengisi acara dapat fee, termasuk saat sering ngisi di acara mal-mal dan seminar-seminar,” kata gadis yang berencana kuliah di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) ini.

Terkait semua penghasilan yang diperolehnya, diakui Dhea semua diserahkan langsung kepada kedua orang tuanya dan dipergunakan untuk biaya sekolah. Sedangkan sebagian disimpan sendiri untuk menyicil perlengkapan studio band yang dimilikinya.

Menurutnya, dari menggeluti hobi ngedrum, bisa mengumpulkan penghasilan sekaligus memiliki banyak pengalaman yang tak terlupakan.  Seperti pengalamannya saat manggung di lomba SMA Pelita Nusantara yang mengantarkan band-nya mendapat juara 1. Waktu itu bandnya mendapatkan urutan terakhir, saat banyak penonton sudah pergi dan sepi. Tetapi siapa sangka, setelah bandnya tampil bisa kembali mendatangkan penonton untuk berkumpul dan kembali bergoyang di depan panggung. “Waktu itu aransemen lagu kami dinilai juri beda, padahal saat itu masih SMP. Lagu yang dibawakan di antaranya, lagu wajib berjudul Lir-Ilir, Syukur, kemudian Beraksi dari Band Kotak. Bahkan begitu menang, tim saya difoto paling meriah, penonton juga pada ngajakin foto sekaligus minta tanda tangan. Kesannya serasa panggung milik sendiri bak seperti artis ibukota,” kenang gadis yang hobi hunting foto dan traveling ini.

Ayah Dhea, Dio Hermasnyagh mengaku mendukung hobi anak-anaknya. Namun semua hobi tersebut perlu diasah dan difasilitasi. “Bagaimanapun saya akan terus mendukung semua hobi buah hati saya. Setidaknya saya ingin anak saya hidup lebih baik dari orangtuanya,” kata Dio yang juga Humas Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) Kota Semarang ini. (*/ida)