Pernah Ditangkap Polisi saat Menggambar Art Street

Bripda Dhinar Saputra, Anggota Humas Polda Jateng yang Berjiwa Seni Tinggi

404
KREATIF: Bripda Dhinar Saputra dan contoh art street karyawannya (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
KREATIF: Bripda Dhinar Saputra dan contoh art street karyawannya (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Bripda Dhinar Saputra memiliki jiwa seni tinggi. Anggota Polda Jateng  yang bertugas di bagian Hubungan Masyarakat ini mahir menggambar mural  atau street art. Seperti apa?

M HARIYANTO

DHINAR Saputra masih berusia 21 tahun. Dia kelahiran Klaten, 10 September 1995. Sosoknya kalem, layaknya anak rumahan. Namun tak disangka, ia memiliki banyak hasil karya seni menggambar.

“Hobi banget kalau menggambar. Sukanya menggambar wajah, ilustrasi, lukisan graffity, karakter, dan gambar isu sosial. Ya, macam-macam,” kata Dhinar kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Dhinar mengaku, hobi menggambar sejak masih duduk di bangku SD. Meski hasil lukisannya tidak pernah meraih prestasi, hampir setiap hari dia tidak lepas dengan kesibukan corat-coret di lembaran kertas.

Menginjak SMA di tempat kelahiranya, Klaten, hobinya menggambar berlanjut. Bahkan, aktivitas itu tetap dilakukan meski sudah menjadi anggota Polri sejak 2014. “Untuk mengisi waktu luang. Kalau gak ada acara ya menggambar,” ujarnya.

Sekarang ini, hobinya menggambar tidak hanya dilakukan di atas kertas. Saat menginjak kelas 1 SMA, ia sudah bergabung dengan kelompok seni menggambar street art Klaten. Hingga sekarang, kelompok seni ini masih aktif dan memiliki anggota belasan orang.

“Ada 14 anggota dari berbagai kalangan. Ada mahasiswa hingga pelaku seni. Sekarang di Street Art Klaten juga ada guru seninya. Jadi, bisa diarahkan yang positif,” katanya.

Diakuinya, seni Street Art ini identik menggambar pada tembok-tembok yang ada di tempat umum. Namun hal itu tidak dilakukan asal-asalan, tapi tetap memakai prosedur. Ini untuk menghindari pandangan negatif oleh sebagian kalangan.

“Melukisnya tidak sembarang tembok atau tempat umum. Kita harus minta izin tempat dulu sama yang punya. Kalau tidak diizinin ya jangan terus memaksa. Kita cari tempat lain, jangan berbuat vandalisme,” tegasnya.

Menurut Dhinar, untuk menyalurkan hobinya ini, ia harus mengeluarkan biaya tidak kecil untuk membeli perlengkapan menggambar. Di antaranya, kuas, cat, termasuk cat semprot. Kegiatan ini kerap dilakukan pagi atau sore hari.

“Kalau malam jarang. Kalau kita sudah mendapat izin dari pemilik tempat langsung action. Kalau gambarnya full, ya bisa sampai satu hari. Kalau kecil paling setengah hari. Tergantung luas dan ukuran tempat,” jelasnya.

Kegiatan positif anggota Street Art Klaten juga dilakukan dengan menggelar kegiatan lomba. Meskipun lomba kecil-kecilan, kegiatan ini dilakukan untuk menyalurkan hobi supaya tetap terarah.  “Lomba di Klaten tingkat kabupaten. Kemudian mengadakan pameran se-Klaten. Kegiatan ini ya itu tadi supaya tidak vandalism,” terangnya.

Diakuinya, kegiatan menggambar di tembok sangat rawan dengan kesalahpahaman. Ia mengaku pernah ditangkap petugas ketika sedang menggambar di suatu tempat ketika malam hari. Padahal, ia bersama teman-temannya sudah mendapat izin dari pemilik tempat.

“Kejadiannya saat saya sudah menjadi anggota polisi. Jadi, ceritanya, saya sama teman-teman menggambar di tembok. Kemudian ada mobil polisi lewat, terus berhenti, kita ditangkap dan dibawa ke kantor polisi,” katanya.

Meski telah menjadi anggota polisi, Dhinar tidak langsung mengaku anggota polisi. Ia tetap merendah sebagai masyarakat sipil. Hal ini dilakukan untuk keprofesionalannya antara aktivitas rutin dan hobi.

Ya, meski dimarahi saya hanya diam saja. Tapi kita tetap menjelaskan kalau sebelumnya sudah mendapat izin dari pemilik tempat. Akhirnya, kita dinasehati dan kemudian dilepas,” kenangnya.

Dhinar mengakui, saat SMA pernah melakukan perbuatan yang salah. Menurut Dhinar, usia remaja memang masih labil dan masih mencari jati diri. Sehingga ia juga pernah melakukan kegiatan menggambar yang bukan pada tempatnya.

“Tapi, sejak bergabung dengan komunitas kita menyadari. Apalagi dulu rumah saya juga pernah dicorat – coret vandalisme. Jadi, tahu bagaimana rasa dongkolnya. Sehingga kita juga jangan sampai berbuat vandalisme, karena itu meresahkan masyarakat,” katanya.

Anggota polisi asal Barukan, Manisrenggo, Klaten ini setelah lulus SMA pada 2013 sempat berkeinginan melanjutkan kuliah seni. Namun, keinginan tersebut diurungkan dengan alasan tidak mendapat izin dari orangtuanya.

“Cita-cita kuliah seni, tapi orang tua kurang mendukung. Kemudian daftar polisi dan diterima. Tapi kalau sekarang menggambar masih diperbolehkan,” terangnya.

Dhinar menambahkan, meski telah menjadi anggota Polri, ia tetap rendah diri dan tidak semena-mena. Pria yang tinggal di Jalan Tampomas, Gajahmungkur ini terus mengasah otaknya berkreasi seni. Saat ini, ia lebih sering menggambar dengan gambar coral digital.

“Saya juga terus memberi masukan dan arahan-arahan kepada teman-teman anggota komunitas. Kita tetap menyalurkan hobi dengan cara yang positif. Jangan membuat masyarakat menjadi resah, tapi kita buat menjadi senang atau suka,” pesannya. (*/aro)