33 C
Semarang
Rabu, 3 Juni 2020

Pernah Ditangkap Polisi saat Menggambar Art Street

Bripda Dhinar Saputra, Anggota Humas Polda Jateng yang Berjiwa Seni Tinggi

Another

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

Bripda Dhinar Saputra memiliki jiwa seni tinggi. Anggota Polda Jateng  yang bertugas di bagian Hubungan Masyarakat ini mahir menggambar mural  atau street art. Seperti apa?

M HARIYANTO

DHINAR Saputra masih berusia 21 tahun. Dia kelahiran Klaten, 10 September 1995. Sosoknya kalem, layaknya anak rumahan. Namun tak disangka, ia memiliki banyak hasil karya seni menggambar.

“Hobi banget kalau menggambar. Sukanya menggambar wajah, ilustrasi, lukisan graffity, karakter, dan gambar isu sosial. Ya, macam-macam,” kata Dhinar kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Dhinar mengaku, hobi menggambar sejak masih duduk di bangku SD. Meski hasil lukisannya tidak pernah meraih prestasi, hampir setiap hari dia tidak lepas dengan kesibukan corat-coret di lembaran kertas.

Menginjak SMA di tempat kelahiranya, Klaten, hobinya menggambar berlanjut. Bahkan, aktivitas itu tetap dilakukan meski sudah menjadi anggota Polri sejak 2014. “Untuk mengisi waktu luang. Kalau gak ada acara ya menggambar,” ujarnya.

Sekarang ini, hobinya menggambar tidak hanya dilakukan di atas kertas. Saat menginjak kelas 1 SMA, ia sudah bergabung dengan kelompok seni menggambar street art Klaten. Hingga sekarang, kelompok seni ini masih aktif dan memiliki anggota belasan orang.

“Ada 14 anggota dari berbagai kalangan. Ada mahasiswa hingga pelaku seni. Sekarang di Street Art Klaten juga ada guru seninya. Jadi, bisa diarahkan yang positif,” katanya.

Diakuinya, seni Street Art ini identik menggambar pada tembok-tembok yang ada di tempat umum. Namun hal itu tidak dilakukan asal-asalan, tapi tetap memakai prosedur. Ini untuk menghindari pandangan negatif oleh sebagian kalangan.

“Melukisnya tidak sembarang tembok atau tempat umum. Kita harus minta izin tempat dulu sama yang punya. Kalau tidak diizinin ya jangan terus memaksa. Kita cari tempat lain, jangan berbuat vandalisme,” tegasnya.

Menurut Dhinar, untuk menyalurkan hobinya ini, ia harus mengeluarkan biaya tidak kecil untuk membeli perlengkapan menggambar. Di antaranya, kuas, cat, termasuk cat semprot. Kegiatan ini kerap dilakukan pagi atau sore hari.

“Kalau malam jarang. Kalau kita sudah mendapat izin dari pemilik tempat langsung action. Kalau gambarnya full, ya bisa sampai satu hari. Kalau kecil paling setengah hari. Tergantung luas dan ukuran tempat,” jelasnya.

Kegiatan positif anggota Street Art Klaten juga dilakukan dengan menggelar kegiatan lomba. Meskipun lomba kecil-kecilan, kegiatan ini dilakukan untuk menyalurkan hobi supaya tetap terarah.  “Lomba di Klaten tingkat kabupaten. Kemudian mengadakan pameran se-Klaten. Kegiatan ini ya itu tadi supaya tidak vandalism,” terangnya.

Diakuinya, kegiatan menggambar di tembok sangat rawan dengan kesalahpahaman. Ia mengaku pernah ditangkap petugas ketika sedang menggambar di suatu tempat ketika malam hari. Padahal, ia bersama teman-temannya sudah mendapat izin dari pemilik tempat.

“Kejadiannya saat saya sudah menjadi anggota polisi. Jadi, ceritanya, saya sama teman-teman menggambar di tembok. Kemudian ada mobil polisi lewat, terus berhenti, kita ditangkap dan dibawa ke kantor polisi,” katanya.

Meski telah menjadi anggota polisi, Dhinar tidak langsung mengaku anggota polisi. Ia tetap merendah sebagai masyarakat sipil. Hal ini dilakukan untuk keprofesionalannya antara aktivitas rutin dan hobi.

Ya, meski dimarahi saya hanya diam saja. Tapi kita tetap menjelaskan kalau sebelumnya sudah mendapat izin dari pemilik tempat. Akhirnya, kita dinasehati dan kemudian dilepas,” kenangnya.

Dhinar mengakui, saat SMA pernah melakukan perbuatan yang salah. Menurut Dhinar, usia remaja memang masih labil dan masih mencari jati diri. Sehingga ia juga pernah melakukan kegiatan menggambar yang bukan pada tempatnya.

“Tapi, sejak bergabung dengan komunitas kita menyadari. Apalagi dulu rumah saya juga pernah dicorat – coret vandalisme. Jadi, tahu bagaimana rasa dongkolnya. Sehingga kita juga jangan sampai berbuat vandalisme, karena itu meresahkan masyarakat,” katanya.

Anggota polisi asal Barukan, Manisrenggo, Klaten ini setelah lulus SMA pada 2013 sempat berkeinginan melanjutkan kuliah seni. Namun, keinginan tersebut diurungkan dengan alasan tidak mendapat izin dari orangtuanya.

“Cita-cita kuliah seni, tapi orang tua kurang mendukung. Kemudian daftar polisi dan diterima. Tapi kalau sekarang menggambar masih diperbolehkan,” terangnya.

Dhinar menambahkan, meski telah menjadi anggota Polri, ia tetap rendah diri dan tidak semena-mena. Pria yang tinggal di Jalan Tampomas, Gajahmungkur ini terus mengasah otaknya berkreasi seni. Saat ini, ia lebih sering menggambar dengan gambar coral digital.

“Saya juga terus memberi masukan dan arahan-arahan kepada teman-teman anggota komunitas. Kita tetap menyalurkan hobi dengan cara yang positif. Jangan membuat masyarakat menjadi resah, tapi kita buat menjadi senang atau suka,” pesannya. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah kasih. Lirik-liriknya memicu penasaran orang...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma diproduksi 100 biji kaset itu,...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

More Articles Like This

Must Read

Mobil Irit Cocok di Segala Medan

Mengandalkan keunggulan mesin yang berbeda dari lainnya, Renault Duster adalah satu-satunya mobil berbahan bakar diesel yang memiliki torsi atau gaya rotasi berbentuk tenaga guna...

ISNU Kawal NKRI

RADARSEMARANG.COM, DEMAK - Keutuhan NKRI harus dijaga oleh semua elemen masyarakat, termasuk Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU). Ketua Umum ISNU Ali Maskur Musa mengatakan, ISNU...

Suka Belajar Sejarah

BANYAK hal menarik yang dapat diambil dari mengenal dan memahami rentetan sejarah. Hal ini juga yang menjadikan Ria M Rohmah tertarik untuk terjun sebagai...

Percepat Normalisasi Tiga Sungai

SEMARANG – Pemkot Semarang masih memiliki Pekerjaan Rumah (PR) dalam mengentaskan banjir dan rob. Ada tiga sungai yang mendesak dinormalisasi. Yakni Sungai Tenggang, Sringin,...

Mahir Berbahasa Inggris lewat Lagu

RADARSEMARANG.COM - TENTU semua orang pernah mendengar lagu, bahkan menyanyikannya yang banyak kita lihat dan dengarkan di radio/tape, telivisi, atau Youtube. Bersamaan perkembangan informasi...

Rupiah Simbol Kedaulatan RI

RADARSEMARANG.COM, TEGAL - Negara melalui Bank Indonesia (BI) terus memperkenalkan uang Rupiah sebagai alat pembayaran sah, dan sebagai simbol kedaulatan Republik Indonesia kepada masyarakat,...