Minat Semakin Tinggi, Sehari 11 Ribu Pelajar

285
DOKUMEN PRIBADI RADAR SEMARANG
DOKUMEN PRIBADI RADAR SEMARANG

SEMARANG – Minat masyarakat naik Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang semakin menunjukkan geliat baik. Baik kalangan masyarakat umum, maupun pelajar dan mahasiswa. Bahkan sehari pernah tercatat kurang lebih 11 ribu pelajar dan mahasiswa naik BRT. Sedangkan penumpang umum rata-rata kurang lebih 12 ribu penumpang per hari. Total penumpang BRT Trans Semarang rata-rata 23 ribu per hari.

Jumlah tersebut berasal dari operasional 6 Koridor BRT Trans Semarang dengan jumlah 126 armada bus. Jumlah ini ditarget akan terus naik, terlebih setelah diberlakukan inovasi sistem pembayaran BRT menggunakan TCash yang bisa diakses oleh masyarakat melalui Smartphone. “Dulu, rata-rata penumpang pelajar dan mahasiswa di kisaran 4.000 penumpang, sekarang rata-rata naik menjadi 8.000 per hari. Bahkan beberapa waktu lalu hingga tembus 11.000 sehari, untuk pelajar dan mahasiswa,” kata Pelaksana Tugas (Plt) BLU Trans Semarang Ade Bhakti, kemarin.

Sedangkan untuk umum 12 ribu per hari, total keseluruhan 23 ribu penumpang per hari. “Sistem TCash memiliki segmen pelajar dan mahasiswa. Setelah diberlakukan TCash, target rata-rata di kisaran 27 ribu hingga 28 ribu per hari, atau bertambah kurang lebih 5 ribu penumpang per hari,” katanya.

Dijelaskannya, idealnya jarak antar shelter BRT paling dekat 400 meter dan paling jauh 800 meter. Tetapi selama ini masih kekurangan shelter, sehingga mengakibatkan masih banyak shelter yang berjarak 1 kilometer.

Kondisi seperti masih kurangnya jumlah shelter dan kondisi jalan rusak, akan sangat memengaruhi minat masyarakat. “Hal itu membuat banyak masyarakat yang kesulitan mengaksesnya. Makanya saat ini kami merencanakan untuk menambah sebanyak 91 shelter. Kalau ketersediaan alat dan shelter terpenuhi, kami sangat yakin jumlah penumpang juga naik,” katanya.

Salah satu warga penumpang BRT, Indria Himawati, mengatakan transportasi massal BRT jelas sangat dibutuhkan. Pemerintah sudah semestinya memiliki tanggung jawab untuk mengubah mindset masyarakat untuk menggunakan transportasi massal. Apabila semua orang mengendarai kendaraan pribadi, makan dipastikan kondisi jalanan Kota Semarang akan macet.

“Saya lihat BRT di Kota Semarang mulai membaik. Tetapi perkembangannya sangat lambat mengingat, kalau tidak salah, BRT Trans Semarang ini dioperasionalkan sejak 2009 silam. Tentu akan sangat jauh ketinggalan dibandingkan dengan BRT Jakarta,” kata mahasiswi S2 di Semarang tersebut. (amu/zal)