KHAS SEMARANGAN : Tari Denok yang dibawakan para penari hasil karya dosen seni dari Unnes, Bintang Hanggoro Putro (IST).
KHAS SEMARANGAN : Tari Denok yang dibawakan para penari hasil karya dosen seni dari Unnes, Bintang Hanggoro Putro (IST).

BUTUH riset untuk menciptakan beragam tarian. Sebagaimana yang dilakukan dosen seni dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Bintang Hanggoro Putro saat menciptakan Tari Denok pada tahun 1995 silam. Kini tarian tersebut, ditetapkan sebagai tarian khas Semarang. “Menciptakan tari ini melalui riset, eksplorasi kemudian dibuat koreografinya yang dikembangkan dari penemuan musik Gambang Semarang,” katanya.

Menurut Bintang, menciptakan tarian bukan perkara mudah. Dari riset yang ia kembangkan, tidak ditemukan pola atau acuan seperti apa tarian Semarangan itu sendiri, terlebih lagi tidak ada referensi terkait tari Semarangan. Namun dari kesenian Gambang Semarang yang konon terdiri atas musik, lawak dan tarian. “Tarian Semarang tidak menemukan. Yang bisa ditemukan hanya musiknya saja (Gambang Semarang, red), jadi saat itu agak kesulitan,” tuturnya.

Masih dari penelitiian yang ia lakukan, kontur Kota Semarang yang unik yakni perbukitan dan pesisir, akhirnya Tarian Denok diwujudkan dengan pola gerak diagonal sekaligus patahan diseusikan dengan kondisi geografis Kota Semarang. Contohnya saja dari segi geologis, dimana ada patahan di kota ini digambarkan dengan koreografi duduk dan berdiri, sementara dari segi geografis diwujudkan dengan gerakan diagonal. “Dari sisi sosial budaya yakni Jawa, China dan Arab, juga turut andil dalam koreografi Tarian Denok,” jelasnya.

Seiring berkembangnya zaman, Tari Denok menjadi panutan beberapa sanggar seni yang kemudian diturunkan menjadi jenis tarian lainnya. Tari Denok sendiri, lanjut dia, adalah tarian yang dimainkan oleh wanita atau dalam bahasa Jawa Denok adalah panggilan untuk anak perempuan.

“Tarian ini lahir dengan tari Gambang Semarangan. Kebetulan memang penciptanya teman saya. Bedanya adalah Tarian Gambang Semarangan adalah tari pasangan cowok cewek atau tarian pergaulan,” katanya.

Pria kelahiran Madiun 8 Februari 1960 ini mengaku sangat mengapresiasi langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang yang kerap mengadakan lomba tari tradisional khas Semarangan, termasuk salah satu tarian yang ia ciptakan yakni Tari Denok yang dalam waktu dekat akan dilombakan di tingkat Kota Semarang. “Saya berharap apa yang saya ciptakan bisa bermanfaat bagi Kota Semarang. Selain itu, saya juga ingin semakin banyak orang yang mempelajari tarian ini,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah ada rencana untuk kembali mengeksplorasi dan menciptakan tarian baru khas Semarangan, Bintang mengaku akan terus berkarya dan menciptakan tarian lain. Selain Tarian Semarangan, Bintang sendiri menciptakan tarian khusus bagi Unnes misalnya tari Panji Unnes yang menceritakan 8 fakultas yang ada di Unnes sebagai penyangga Unnes. Yang terbaru adalah Tari Konservasi yang menceritakan 8 nilai konservasi Unnes, bahkan tarian ini pada tahun 2015 lalu tercatat masuk MURI yang ditarikan 5000 orang. “Keinganannya mencoba terus berkarya. Ke depan tentu akan memikirkan pola yang lebih baru, mudah-mudahan bisa memangkat pariwisata Kota Semarang,” tutupnya. (den/ida)