Kenalkan Kembali Permainan Tradisional Anak

Lebih Dekat dengan Komunitas Kampoeng Hompimpa

581
SERU : Para anggota komunitas Kampoeng Hompimpa mengajak anak-anak bermain lewat Program #DolananYuk di lokasi Car Free Day (CFD) Jalan Pahlawan Semarang, beberapa waktu lalu (DOK KAMPOENG HOMPIMPA).
SERU : Para anggota komunitas Kampoeng Hompimpa mengajak anak-anak bermain lewat Program #DolananYuk di lokasi Car Free Day (CFD) Jalan Pahlawan Semarang, beberapa waktu lalu (DOK KAMPOENG HOMPIMPA).

Perilaku anak di beberapa kota saat ini cenderung individual. Kondisi tersebut, banyak dipengaruhi permainan digital, seperti game online dan sosial media. Karena itulah, Kampoeng Hompimpa, salah satu komunitas yang peduli terhadap perkembangan anak, berusaha mengenalkan kembali permainan tradisional. Seperti apa?

WARDAH HAMRA

PERMAINAN tradisional, kini sudah terasa asing. Seperti lompat tali, egrang, dinoboy, engklek, bakiak, gobak sodor, dan lainnya, sudah jarang ditemui, apalagi dimainkan oleh anak zaman modern saat ini. Tragisnya lagi, perilaku anak yang cenderung individual tersebut, tak hanya di kota-kota besar, tapi sudah merambah masyarakat pedesaan.

Muhammad Miftah, mahasiswa jurusan Technopreneurship, Surya University, Tangerang yang semula menjadikan fenomena tersebut untuk melakukan penelitian perilaku anak di beberapa kota, kini mendirikan Kampoeng Hompimpa (KH). Bahkan, sudah membentuk KH Regional Kota Semarang sejak 22 Desember 2016. “Melalui permainan tradisional ini, kami berharap bisa menjaga kearifan lokal serta sebagai media pembelajaran bagi kehidupan anak-anak,” kata Ketua KH Regional Semarang, Anita Safitri.

Mahasiswi jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini menjelaskan bahwa komunitas yang baru berumur hampir satu tahun ini, memiliki beberapa program utama yaitu #DolananYuk, Hompimpa ke Sekolah dan Festival Hompimpa.

Program #DolananYuk ini, merupakan kegiatan rutin mingguan, dengan melakukan permainan tradisional yang dilaksanakan setiap 2 minggu sekali di sekitar lingkungan masyarakat seperti Car Free Day, alun-alun, dan desa. Kemudian Hompimpa ke Sekolah merupakan agenda rutin bulanan. Dan terakhir, Festival Hompimpa merupakan agenda tahunan.

“Untuk yang Car Free Day, kami menyelenggarakan setiap 2 minggu sekali di Simpang Lima. Lokasinya di Jalan Pahlawan, depan Bank Mandiri. Sedangkan yang Hompimpa ke Sekolah agenda rutin bulanan, target peserta ya pelajar SD, SMP, dan Panti Asuhan. Terakhir, Festival Hompimpa, ini agenda tahunan dengan mengadakan lomba permainan tradisional serta memeriahkan perayaan Hari Kemerdekaan RI,” kata Anita yang didampingi Divisi Marketing KH Regional Semarang, Faris Zulfikar.

Terkait program Hompimpa ke Sekolah tahun 2017 ini, memiliki tema Play and Learn Together. Kegiatannya melakukan kunjungan langsung oleh Komunitas Kampoeng Hompimpa ke sekolah yang bersedia bekerjasama. Kegiatan ini diawali dengan edukasi atau presentasi oleh tim dan volunteer KH Regional Semarang tentang permainan tradisional meliputi pengertian, manfaat, sejarah, nilai moral, jenis-jenis permainan dan sebagainya.

Setelah sesi presentasi, peserta didik dikenalkan dan dijelaskan tentang beberapa permainan tradisional beserta cara mainnya. Selanjutnya, langsung dimainkan bersama-sama di halaman sekolah.

Usai bermain bersama, dilakukan juga sesi evaluasi oleh tim KH Regional Semarang kepada para peserta didik dengan kegiatan yang telah dilaksanakan. Sebagai bahan indikator keberhasilan dalam pencapaian tujuan dari kegiatan Hompimpa ke Sekolah serta media sarana dan kritik untuk kegiatan Kampoeng Hompimpa Semarang ke depannya.

“Alhamdulillah, setiap acara yang kami gelar, antusias para pengunjung melebihi ekspektasi. Bahkan banyak request dari guru-guru untuk mengadakan festival dolanan tradisional di sekolah,” ungkap Anita.

Selain program tersebut, komunitas yang memiliki jargon “Bermain-Belajar-Lestarikan” ini memiliki program pendataan dan publikasi artikel tentang permainan tradisional yang berasal dari daerah-daerah di Indonesia. “Kami berupaya memperkenalkan kembali dan menjaga keutuhan permainan tradisional sehingga bisa mencegah kepunahan,” tuturnya.

Komunitas Kampoeng Hompimpa yang berpusat di Kota Tangerang ini, sudah memiliki 3 regional, yakni Kampoeng Hompimpa Regional Semarang, Regional Pontianak, dan Regional Jogjakarta. “Di Semarang, komunitas ini berlokasi di Banaran RT 04/ RW 04 Gang Kantil No 50 C Sekaran Gunungpati, Semarang,” imbuh Faris mahasiswa mahasiswa Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. (*/ida)