WUJUD TERIMA KASIH: Sebagai wujud rasa syukur atas panen kopi yang berlimpah, warga Ngemplak Kandangan, menggelar nyadran Kupat Sewu, kemarin (AHSAN FAUZI/JAWA POS RADAR KEDU).
WUJUD TERIMA KASIH: Sebagai wujud rasa syukur atas panen kopi yang berlimpah, warga Ngemplak Kandangan, menggelar nyadran Kupat Sewu, kemarin (AHSAN FAUZI/JAWA POS RADAR KEDU).

TEMANGGUNG—Warga Dusun Gedongan, Desa Ngemplak, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, menggelar ritual Nyadran Kupat Sewu atau seribu ketupat, Jumat (18/8) kemarin. Ritual ini sebagai bentuk wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan hasil perkebunan kopi.

Sesepuh desa setempat, Tarom, 72, menjelaskan, ritual Nyadran Kupat Sewu digelar rutin setiap tahun. Menurut Tarom, dipilihnya angka seribu, terkait erat dengan jumlah ketupat yang disediakan Nyai Lengging untuk Kyai Lengging ketika pada zamannya mengerjakan pembuatan saluran air bernama Sungai Dawuhan. Kala itu, sungai yang dimaksud dimanfaatkan untuk mengairi persawahan warga kala itu.

“Ritual ini digelar untuk mengenang jasa Kyai dan Nyai Lengging yang telah membuat saluran air bagi warga. Dulu saluran tersebut dikerjakan selama seribu hari, di mana setiap hari Nyai Lengging menyediakan satu ketupat untuk Kyai Lengging,” kata Tarom. Pengerjaan saluran dilakukan pada 1826.

“Terlepas dari sejarah awal mula ritual Nyadran Kupat Sewu, sampai saat ini jerih payah Kyai Lengging masih dapat dirasakan oleh para petani yang mayoritas mengandalkan hidup dari perkebunan kopi. Dengan cara ini, kami bersyukur atas hasil panen kopi yang cukup melimpah.” (san/isk)