Soepandi (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
Soepandi (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Para lanjut usia (lansia) ini tetap setia dengan pramuka. Meski usianya sudah uzur, mereka masih tampak gagah mengenakan seragam khas pramuka: baju coklat muda dan celana coklat muda dipadu hasduk merah putih, serta peci hitam lengkap dengan lambang tunas kelapa. Para pramuka sepuh ini juga masih aktif di setiap kegiatan pramuka.

HARI ini, 14 Agustus, diperingati sebagai Hari Pramuka. Soepandi pun tak mau melewatkan momen bersejarah ini. Ia pun telah mempersipakan seragam pramukanya untuk dipakai mengikuti upacara pagi ini.

Meski usianya sudah menginjak 76 tahun, kakek yang sudah keriput ini tetap aktif dalam kegiatan pramuka. Jika sebayanya mungkin memilih istirahat menikmati hidup di hari-hari tuanya, tapi tidak untuk pramuka loyal yang satu ini. Dia masih bersemangat melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat.

Anggota Dewan Kehormatan Pramuka Kwarcab Kota Semarang  ini mengaku aktif pramuka sejak 1965. Ia terlibat di kegiatan pramuka karena tuntutan pengabdian sejak menjadi guru di SD Negeri Sompok. “Waktu masih sekolah, saya memang belum greget dengan kegiatan pramuka. Tapi, begitu jadi guru, saya diminta merangkap menjadi pembina pramuka. Ya, mau tak mau akhirnya saya jadi akrab dengan kegiatan pramuka,” cerita Soepandi kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (11/8).

Suami dari Sri Astuti ini mengaku, saat awal menjadi guru pada 1965 hingga 1970, hidupnya masih menderita. Karena gaji guru saat itu masih kecil. Karena itu, ia kerja sampingan menjadi pembina pramuka. Seminggu sekali dia juga melatih pramuka di SD Sompok, SMP Negeri 2 Semarang, SGO (Sekolah Guru Olahraga) dan SMA Negeri 2 Semarang.

“Jadi, dulu jadi pembina pramuka itu buat tambahan penghasilan, soalnya dulu zaman sulit.  Tapi Alhamdulilah, sekarang sudah menjiwai, apalagi setelah resmi menjadi pelatih pramuka,”katanya.

Soepandi mengaku, setelah lulus kursus pelatih dasar (KPD), langsung diminta melatih pembina. Ia lulus KPD pada 1995. Mbah Pandi bahkan pernah ditugaskan atasannya untuk melatih pramuka ke Timor Timur (sekarang Timor Leste) sekitar 1997

“Di Timor-Timur saya diminta melatih pembina pramuka selama sebulan, tepatnya setelah integrasi, dan sebelum Timor-Timur keluar dari Indonesia. Waktu itu yang dilatih guru-guru. Saya juga sering dipercaya mengikuti jambore tingkat nasional mulai di Cibubur hingga Baturaden,”kenangnya.

Loyalitasnya terhadap pramuka tidak diragukan lagi. Bahkan hingga memiliki 3 anak dan 4 cucu saat ini, dunia pramuka tak bisa dilepaskan dari hidupnya. Jangan heran jika para tetangganya pun biasa memanggil Soepandi dengan sebutan Kak Pandi Pramuka.

“Sekarang kalau latih-melatih, saya sering membawa tugas bagian pembawa renungan. Padahal namanya renungan itu sering dilakukan di jam tengah malam, Alhamdulilah saya tetap fit, kuat dan sehat, dan tidak ada ada halangan hingga sekarang,” ucap pria yang tinggal di Asrama KBBT Jalan Kesatrian I  No B-64 Kelurahan Jatingaleh, Kecamatan Candisari, Semarang ini.

Sebelum menjadi guru dan aktif di pramuka, Soepandi menempuh pendidikan Sekolah Rakyat (SR), kemudian melanjutkan ke Sekolah Guru Bantu (SGB), dan Kursus Guru Atas (KGA). Setelah itu, ia mengikuti pelatihan pramuka mahir 1 dan 2, dilanjutkan mahir lengkap. Selanjutnya, Soepandi mengikuti diklat pelatih dasar, dan terakhir 2005 lalu lulus pelatih lanjutan.

Saat ini, ia juga dipercaya sebagai Komandan Korps Sukareka PMI Kota Semarang, Komandan SAR PMI Kota Semarang, serta Sekretaris Himpunanan Pandu dan Pramuka Wreda (Hiprada) Jateng. Sedangkan, istrinya adalah pensiunan pegawai Rumah Sakit Tentara (RST) dari Sipil Angkatan Darat. Adapun penghargaan yang sudah diterima, di antaranya Lencana Dharma Bhakti dan Lencana Melati, yang merupakan lencana tertingi kedua di kepramukaan.

“Selama aktif di pramuka, yang paling menyenangkan bagi saya adalah saat menjadi pembina, karena dituntut untuk mempunyai kreativitas agar bisa disambut baik oleh peserta didik,”sebutnya.

Baginya, antara suka dan duka dalam kepramukaan yang sudah dijalaninya puluhan tahun ini, lebih banyak sukanya. Menurutnya, sebagai pembina pramuka di masyarakat maupun di kalangan peserta didik mendapat kehormatan, apalagi dengan ikut pramuka dianggap serba tahu, berkarakter baik, dan selalu bisa menjaga kelakuan agar tetap terpuji.

“Dukanya kalau anak-anak mengajak latihan keluar. Sementara saya handle beberapa lokasi latihan. Jadi, saya sering pindah-pindah tempat dalam waktu bersamaan,” kenangnya yang mengaku pernah malam-malam harus mengunjungi kegiatan pramuka anak didiknya, padahal lampu motor vespanya dalam kondisi mati.

Kenangan tak terlupakan lainnya adalah saat ia diminta melatih kursus pembina di Purworejo. Kedatangannya begitu dinantikan, seolah ia adalah pejabat yang sangat dielu-elukan dan dihormati.

Menurutnya, pramuka bisa dikatakan sudah terbukti sebagai wadah pembentukan karakter bangsa. Sehingga kalau masyarakat benar-benar menekuni dan percaya dengan kegiatan kepramukaan, dipastikan ke depannya tidak akan ada lagi yang namanya tawuran dan perkelahian antarremaja.

“Pramuka itu bagi saya sudah mendarah daging. Anggota pramuka itu aset nasional, tanpa membedakan suku, agama, dan golongan. Jadi, perbedaan benar-benar dihilangkan, semua kegiatan untuk membangun bangsa,”ungkapnya.

Dia berpesan agar, para pembina bisa kreatif dalam melatih anak didiknya. Apalagi saat ini di sekolah banyak kegiatan ekstrakurikuler di luar pramuka, seperti ekskul  kesenian, olahraga, pecinta alam dan sebagainya. “Pramuka memang menjad ekskul wajib di sekolah, tapi bisa jadi siswa akan lebih tertarik ekskul lain karena pramuka dianggap membosankan. Karena itu, setiap pembina pramuka harus kreatif,” harapnya. (jks/aro)