BUDAYA: Penampilan penari Topeng dari Sanggar Greget di panggung selatan Jateng Fair 2017 (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG).
BUDAYA: Penampilan penari Topeng dari Sanggar Greget di panggung selatan Jateng Fair 2017 (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG – Tak hanya menjadi pusat pameran usaha kecil menengah (UKM), Jateng Fair 2017 yang digelar di kompleks PRPP Semarang juga menyuguhkan pertunjukan seni budaya. Minggu (13/8/2017) malam, 5 tari kreasi Sanggar Greget ditampilkan 40 penari di panggung. Yaitu Tari Lurik, Tari Batik, Tari Topeng, Tari Denok Deblong, dan Tari Golek Mugirahayu.

Pengasuh Sanggar Greget Yoyok Bambang Priyambodo sengaja menampilkan tarian khas Jateng. Tari Lurik dan Tari Batik untuk mengingatkan pengunjung mengenai identitas pakaian orang Jawa. Terutama kain lurik yang selama ini tak semoncer kain batik.

“Selama ini hanya batik yang dipromosikan. Lurik justru dinomorsekiankan. Padahal, lurik punya filosofi yang menggambarkan kepribadian orang Jawa. Yaitu pola lurus yang menegaskan bahwa orang Jawa itu jujur dan tidak neko-neko,” terangnya.

Saat tampil, para penari menggunakan kain lurik sebagai properti pendukung. Kain tersebut dimainkan lewat koreografi yang begitu apik. Meski kadang difungsikan sebagai selendang, kain lurik juga digunakan dalam gerakan-gerakan atraksi yang cantik.

Selain mengenalkan lurik, Yoyok juga ingin nguri-uri budaya Jawa. Dia pun berharap, tari tradisional tidak hanya dipentaskan sebagai pelengkap festival saja. Ada kalanya, pemerintah membuat acara khusus untuk sendratari di Kota Semarang. Sebab, dia merasa selama ini nyaris tidak ada wahana ideal untuk pertunjukan seni budaya. “Bagaimana mereka bisa eksis, wong tempat pertunjukan saja tidak ada,” ucapnya. (amh/ton)