Empat Mahasiswa Undip Ciptakan Jaket Bersensor bagi Tunanetra

Bisa Deteksi Lubang di Depan dan Kemiringan Jalan

372
INOVATIF: Empat mahasiswa Undip yang menciptakan jaket tunanetra bersama dosen pembimbing, Dr Aris Triwiyatno ST MT. (AFIATI TSALITSATI /JAWA POS RADAR SEMARANG)
INOVATIF: Empat mahasiswa Undip yang menciptakan jaket tunanetra bersama dosen pembimbing, Dr Aris Triwiyatno ST MT. (AFIATI TSALITSATI /JAWA POS RADAR SEMARANG)

Empat mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) menciptakan jaket bersensor bagi penyandang tunanetra. Namanya Jetnet atau Jaket Tunanetra. Jaket ini diklaim lebih baik ketimbang tongkat bantu. Seperti apa?

AFIATI TSALISTATI

ANGKA kebutaan Indonesia berdasarkan hasil survei nasional 1993-1996 mencapai 1,5 persen dari jumlah penduduk negeri ini. Keterbatasan penglihatan yang dialami penyandang tunanetra ini pun berpengaruh terhadap kehidupan kesehariannya. Hal itu menjadikan penyandang kesulitan menjalankan aktivitas.

Saat ini mayoritas penyandang tunanetra hanya menggunakan tongkat bantu untuk membantu mereka berjalan yang dinilai tidak banyak membantu. Penggunaan tongkat bantu dinilai kurang efisien, karena alat itu hanya mampu mengetahui objek yang ada di depan penggunanya saja.

”Selain itu, saat digunakan tongkat tersebut harus diayun-ayunkan hingga berpotensi mengenai hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini yang mendasari kami menciptakan alat bantu tunanetra berupa Jaket Tunanetra (Jetnet), dengan sensor jarak HC-SR04 dan gyroscope untuk mendeteksi objek di sekitar pengguna,” ungkap Ketua Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Jetnet Undip, Teguh Kurniawan kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Bersama anggota tim lainnya, yakni Krismon Budiono, Rose Mutiara Suin dan Yuni Prihatin Ningtyas, serta di bawah bimbingan dosen Dr Aris Triwiyatno ST MT, mereka melakukan sejumlah penelitian dan uji coba untuk mendapatkan hasil terbaik. ”Prototipe yang kita kembangkan ini terdiri atas dua jenis sensor, yakni sensor jarak  HC-SR04 sebanyak 8 buah, dan sensor sudut gyroscope dua buah, yang dikendalikan oleh dua arduino uno atau board mikrokontroler. Output-nya dari earphone, yang tersambung dengan modul MP3. Semua sensor ditanamkan di prototipe Jetnet, sementara untuk sistem kendali serta baterainya dimasukkan ke dalam kotak kecil yang diselipkan di belakang celana, sehingga sangat praktis dalam pemakaiannya,” terangnya.

Melalui sensor yang dimiliki, Jetnet dapat mendeteksi objek yang berada di depan, samping kanan kiri, dan serong kanan kiri. Alat ini bahkan bisa mendeteksi objek sejauh tiga meter dengan radius mencapai 180 derajat. Tak hanya itu, Jetnet juga mampu mengetahui jika ada lubang yang berada di depan pengguna, hingga mengetahui elevasi kemiringan jalan.

”Melalui Jetnet, penyandang tunanetra seakan dapat melihat keadaan sekitar yang diinformasikan dengan suara dari earphone yang mengindikasikan adanya objek,” beber mahasiswa Elektro Undip angkatan 2015 ini.

Tidak hanya itu, sejumlah keunggulan lainnya antara lain dengan sistem kendali mikrokontroler berupa arduino uno, waktu deteksi yang dibutuhkan cukup cepat sekitar 1 detik.

”Alat ini juga lebih praktis dalam penggunaannya karena cukup dipakai saja, output berupa suara juga memudahkan untuk dipahami. Selain itu, harganya juga ekonomis,” katanya.

Pihaknya berharap, ke depan Jetnet bisa diproduksi dengan skala industri, sehingga dapat diaplikasikan dan berguna bagi penyandang tunanetra yang ada di Indonesia. Penelitian tersebut berhasil mendapatkan pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui PKM 2017. ”Kami berharap adanya Jetnet ini bisa membantu mobilitas penyandang tunanetra,” harapnya. (*/aro/ce1)

BAGIKAN

2 KOMENTAR

    • Terima kasih telah berkomentar di halaman kami,
      untuk pemesanan Jetnet masih belum bisa dikarenakan masih dalam riset.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here