Sanksi Sesuai Kesepakatan Bersama

Antasena, Rehabilitasi Anak-Anak Bermasalah

848
INTENS DIBINA: Pekerja sosial dari Kementerian Sosial menyampaikan materi untuk membina anak-anak bermasalah yang dititipkan di Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Antasena Salaman Kabupaten Magelang. (PSMP ANTASENA UNTUK JP RADAR KEDU)
INTENS DIBINA: Pekerja sosial dari Kementerian Sosial menyampaikan materi untuk membina anak-anak bermasalah yang dititipkan di Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Antasena Salaman Kabupaten Magelang. (PSMP ANTASENA UNTUK JP RADAR KEDU)

Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Antasena Salaman Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, bisa dibilang bengkelnya anak-anak bermasalah. Misi lembaga ini, mengembalikan anak-anak yang tersangkut masalah hukum dan nakal; serta mempersiapkan masa depan mereka.

SEJAK diresmikan oleh Menteri Sosial Supardjo Rustam pada 30 April 1982 silam, sudah lebih dari 3000 anak direhabilitasi di PSMP Antasena. Kini, mereka sudah mentas. Kembali beraktivitas dengan bekal dan keterampilan yang telah diberikan oleh pengasuh PSMP Antasena.

Kepala PSMP Antasena Ruh Sanyoto mengatakan, pendirian PSMP Antasena berdasarkan Keputusan Menteri Sosial R.I No.6/HUK1994. Kemudian, beralih menjadi UPT Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Republik Indonesia. Nah, pada 30 Desember 2009, Departemen Sosial berganti nama menjadi Kementerian Sosial.

“Awal kita berdiri merehabilitasi anak-anak yang berperilaku menyimpang atau nakal. Namun, mulai 2002, kami menangani anak di bawah umur atau maksimal 18 tahun yang menjalani proses hukum,” beber Ruh Sanyoto. Untuk anak yang sedang menjalani proses hukum, dibagi menjadi tiga segmen. Yakni, anak sebagai pelaku, anak sebagai korban, dan anak sebagai saksi.

Dalam proses pendampingan, PSMP memilik 51 pegawai. Duabelas di antaranya pekerja sosial. Tugas mereka mendampingi dan membina anak. Semua pegawai berstatus PNS di bawah Kementerian Sosial. ” Hingga Juni 2017, ada 85 anak dengan berbagai macam masalah. Mulai dari anak proses hukum maupun nonhukum yang sedang kita rehabilitasi.”

Mereka, kata dia, berasal dari berbagai latarbelakang masalah. Hanya saja, Ruh Sanyoto enggan menyebut sebagai kejahatan, karena perilaku menyimpang mereka, bagian dari hak-hak anak yang tidak dipenuhi di lingkungan. Beberapa anak yang tinggal, berlatarbelakang kasus berbeda. Di antaranya, pencurian, pelecehan seksual, kekerasan, dan meresahkan lingkungan. “Sebelumnya, mereka adalah korban lingkungan, karena sebenarnya anak-anak ini seharusnya dibentuk dalam lingkungan dan keluarga yang baik,” kata Ruh.

Apalagi, kata dia, mayoritas anak yang direhab berasal dari lingkungan yang kurang baik. Broken home, juga dari lingkungan sosial yang kurang baik. Maka, begitu masuk ke PSMP Antasena, mereka diberi pembinaan dengan teknologi khusus. Mulai pembinaan mental anak, fisik, sosial, dan keterampilan. “Pendekatan kita, mulai memberikan motivasi, konsultasi kelompok, terapi psikologis, dan pendekatan agama.”

Pola-pola seperti ini dilakukan untuk memberikan penyadaran anak. “Ya tergantung hasil assesment awal, bagaimana nantinya penangganan anak-anak ini.” Ruh Sanyoto mengakui, proses rehabilitasi tidaklah mudah. Karena itu, pihaknya menerapkan sistem yang berbeda-beda untuk setiap anak. “Kita beri sanksi sesuai kesepakatan. Karena ini memang komitmen anak itu sendiri, juga sesuai pelanggaran yang mereka lakukan. Jadi, anak akan tahu jika melanggar aturan hukuman apa yang akan mereka terima. Mulai push up, membersihkan halaman, dan lain sebaginya,” ungkap Ruh.

Setelah melewati proses rehabilitasi, banyak anak yang bisa kembali ke masyarakat dengan baik. Namun, terkadang juga masih ada anak yang masuk lagi ke Antasena untuk menjalani rehabilitasi, karena di luar mengulangi perbuatannya. “Kadang anak yang mengulang kembali setelah lulus dari sini cuma sekali. Tidak lebih. Mau yang proses hukum atau rujukan kembali.” Menurut Ruh, sebenarnya proses pemulihan ada pada lingkungan anak tersebut. Artinya, lingkungan dan keluarga justru akan sangat membantu memulihkan perilaku dan sikap anak. (mukhtar.lutvie/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here