Cuaca Buruk, Nelayan Bandengan Tak Melaut

1092
BERSANDAR : Para nelayan di Bandengan sudah sepekan tak melaut dan lebih memilih memperbaiki kapal lantaran cuaca buruk. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERSANDAR : Para nelayan di Bandengan sudah sepekan tak melaut dan lebih memilih memperbaiki kapal lantaran cuaca buruk. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL—Para nelayan di Kendal selama sepekan ini lebih memilih menyandarkan perahunya. Lantaran cuaca laut yang tak bersahabat menjadikan nelayan minim tangkapan. Selain itu, harga hasil tangkap ikan juga menurun, sehingga membuat nelayan enggan melaut.

Hal itu tampak terjadi pada nelayan Kelurahan Bandengan. Ratusan kapal bersandar di tepian laut. Hanya beberapa yang melaut, itupun pulang dengan hasil yang sedikit. Kapal yang berani melaut hanya kapal besar atau tongkang.

Salah seorang nelayan Bandengan, Nur Khotib, mengatakan beberapa hari terakhir ini sudah tidak melaut karena angin kencang dan ombak besar yang melanda di sepanjang perairan Laut Jawa. Para nelayan memilih kerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ada juga nelayan yang lebih memilih untuk memperbaiki dan membenahi kerusakan perahu sembari menunggu cuaca membaik. “Lebih baik memperbaiki kapal, karena banyak perahu yang bocor akibat diterjang ombak besar saat bersandar,” katanya, kemarin.

Ia mengaku, beberapa waktu lalu nekat melaut, namun ternyata cuaca di tengah laut angin kencang dan ombak besar. Sehingga para nelayan tidak berani sampai ke tengah laut. “Jadi meski melaut, para nelayan merugi karena hasil tangkapan yang tidak sebanding dengan modal dan tenaga yang dikeluarkan,” tuturnya.

Menurut Nur Khotib, para nelayan tradisional di Bandengan berangkat melaut sekitar pukul 04.00 atau pagi dini hari. Kemudian menepi pada siang hari sekitar pukul 11.00. Untuk sekali berangkat, nelayan harus mengeluarkan uang Rp 200 ribu untuk kapal kecil dengan satu mesin.

Sementara untuk kapal sedang dengan dua mesin kapal, dana yang dikeluarkan sekitar Rp 300-400 ribu. “Sementara hasil tangkapan ikan sedikit hanya laku sekitar Rp 300 ribu, jadi para nelayan sering nombok akhir-akhir ini,” tuturnya.

Parno mengungkapkan, selain cuaca buruk, harga tangkapan ikan juga dibeli rendah. Sekarang ini, sedang musim ikan cumi dan teri nasi di perairan laut Kendal. Namun harga keduanya justru turun, teri nasi dari harga Rp 50 ribu, kini hanya dibeli dengna RP 35 ribu. Sementara harga cumi-cumi, dari harga Rp 35 ribu, kini hanya dibeli seharga Rp 20-25 ribu. “Sudah hasil tangkapannya sedikit, ikan dibeli dengan harga murah, jadi nelayan memilih tidak melaut,” akunya. (bud/ida)