25 Tahun Semarang Cartoon Club (SECAC)

Siap Membuka Sekolah Kartun untuk Umum

429
TETAP EKSIS: Anggota SECAC saat menggambar karikatur wajah pengunjung Pasaraya Sriratu di sela pameran Astra Motor International Cartoon Contest . (DOKUMENTASI SECAC)
TETAP EKSIS: Anggota SECAC saat menggambar karikatur wajah pengunjung Pasaraya Sriratu di sela pameran Astra Motor International Cartoon Contest . (DOKUMENTASI SECAC)

Berdiri sebagai organisasi independen pada 16 April 1982, Semarang Cartoon Club (SECAC) yang diketuai M Chudori merupakan sebuah komunitas beranggotakan kartunis profesional yang berdomisili di Kota Semarang. Seperti apa?

AFIATI TSALITSATI

MEMILIKI ratusan anggota yang terdaftar dalam SECAC, kini hanya beberapa saja yang aktif. Rata-rata anggota SECAC, juga berprofesi sebagai kartunis dan ilustrator di media massa. Namun ada juga yang merupakan kartunis lepas. Mereka aktif menjadi kontributor di media massa, juga ajang internasional.

Sekretaris SECAC, Abdul Arif, menceritakan, beberapa anggota klubnya bahkan mampu bersinar di kancah internasional. Ia mencontohkan, salah satunya adalah mantan kartunis Harian Kompas, Jitet Koestana, ia merupakan pemegang rekor Museum Rekor Indonesia Dunia (MURI) sebagai kartunis dengan penghargaan internasional terbanyak mencapai 127 buah.

“SECAC sendiri rutin mengadakan kelas kartun dan pameran, tapi tidak terjadwal. Minimal seminggu sekali kita kumpul untuk diskusi membahas kartun dan peluang kontes internasional di rumah Pak Jitet” ungkap Arif kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Selain prestasi secara individu, Arif menceritakan, SECAC juga telah menorehkan banyak prestasi. SECAC berpengalaman dalam menggelar pameran dan lomba kartun tingkat nasional dan internasional. Event tingkat internasional pertama yang digelar SECAC adalah lomba kartun “Canda Laga Mancanegara” pada 1988. Pameran ini diikuti kartunis dari 28 negara dengan jumlah karya 1.200 buah.

Pada 2017 ini, SECAC juga baru saja menghelat pameran dan kontes kartun internasional. Kontes ini merupakan hasil kerja sama dengan Astra Motor dengan tajuk “Astra Motor International Cartoon Contest”. Lomba ini diikuti sebanyak 512 kartunis dari 66 negara. Merupakan kontes internasional kedua setelah Canda Laga Manca Negara pada 1988.

“Antusias masyarakat Semarang cukup bagus Mbak, banyak yang datang. Bahkan ada orang tua yang anaknya suka gambar pada datang, mereka banyak yang tanya gimana cara gambarnya. Bisa gabung SECAC nggak?” bebernya.

Arif mengatakan, keuntungan finansial bukan tujuan utama dalam mengadakan pameran. Tapi, mereka dapat mengenalkan masyarakat, khususnya Kota Semarang bahwa karya kartunis lokal tidak kalah bagusnya dengan kartunis internasional.

Bicara potensi, Arif menambahkan, kartunis di Semarang sangatlah potensial. Menurutnya, kota ini memiliki banyak SDM berkualitas, bahkan Arif mengatakan jika saat ini Semarang menjadi kiblat kartun Indonesia. Beberapa negara juga banyak yang melirik Semarang, salah satunya karena Jitet Koestana.

“Soal pengembangan potensi, kemarin ada rapat kita mau kembangkan kartun ini tak hanya sebagai karya seni. Tetapi juga ekonomi kreatif, yang ke depannya bisa menopang ekonomi kartunis,” paparnya.

Arif melanjutkan, pengembangan masa depan kartunis di Semarang masih selalu menjadi topik utama pembahasan organisasi ini. Hal ini lantaran tidak adanya dukungan dari pemerintah, baik kota maupun provinsi. Dalam mengadakan pameran maupun kegiatan sejenis lainnya, selama ini kartunis Semarang bergerak mandiri.

Namun pihaknya tetap optimistis, apalagi kini mulai ada salah satu anggotanya yang merupakan guru di SMP Negeri 17 Semarang, Suratno, yang mengajak murid-muridnya untuk aktif mengikuti lomba baik nasional maupun internasional. “Itu yang terus kami coba untuk kembangkan, karena dari situ kita bisa menemukan potensi-potensi yang ada,” katanya.

Selain itu, baru-baru ini ada juga kegiatan sosial yang sifatnya insidental. Seperti pada Sabtu (17/6) lalu, SECAC mengadakan kegiatan “ngabuburit sambil ngartun” dengan teman-teman difabel Semarang.

Ke depan, SECAC memiliki agenda untuk membuka sekolah kartun yang terbuka untuk umum. Namun hal ini masih dalam tahap pembahasan bersama sekaligus untuk meresmikan sekretariat barunya. “Kebetulan selama ini kita belum ada sekretariat, tapi sudah kami siapkan. Mungkin habis lebaran ini sudah bisa beroperasi. Sekretariatnya nanti di Kintelan Baru, Jalan Gunung Gebyok 2A Gajahmungkur, Semarang,” ujarnya. (*/aro)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here