Jejak stasiun kereta api pertama di Indonesia diduga ada di Kelurahan Kemijen, Semarang Timur. Tempat itu disebut Spoorland (Spoorlaan) atau Stasiun Semarang NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij). Sayangnya, kondisi situs bersejarah itu kini memprihatinkan. Bangunan telah terpendam akibat rob.

ABDUL MUGHIS

KAMPUNG padat penduduk itu dikenal dengan sebutan kampung ”Spoorlaan” terletak di Kelurahan Kemijen, Semarang Timur. Hanya berbentuk gang sempit, dihuni ratusan warga. Mengapa permukimanan tersebut disebut Spoorlaan? Sebab, dahulu terdapat sebuah stasiun kereta api. Para peneliti sejarah menengarai stasiun ini merupakan stasiun tertua di Indonesia.

Namun secara fisik, bangunan infrastruktur rel kereta api telah hilang akibat terpendam tanah. Wilayah tersebut memang berhadapan persoalan banjir dan rob. Permukaan tanah diuruk terus-menerus akibat abrasi. Hingga kini, kampung ini dalam kondisi kritis. Keberadaannya nyaris tenggelam diapit rawa-rawa.

Tak banyak yang mengetahui di bawah tanah kampung tersebut terdapat jejak sejarah Spoorlaan. Spoorlaan merupakan stasiun pertama Pemerintah Hindia Belanda yang dibangun oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada 1864.

Namun ada salah satu bangunan utama yang masih tersisa. Bangunan tua yang saat ini dihuni oleh seorang nenek bernama Ngatiyem, 79, itu ditengarai merupakan jejak bangunan stasiun Spoorlaan yang merupakan stasiun pertama di Indonesia. Diperkirakan, saat ini berusia kurang lebih 152 tahun.

Ngatiyem merupakan warga asal Jogjakarta. Semula ia menempati bangunan tersebut bersama suaminya, Suyono, yang dulu bekerja sebagai seorang masinis kereta api. ”Saya tinggal di sini sejak 1954,” akunya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia juga menjadi orang yang kali pertama menempati bangunan itu, sebelum akhirnya di sekitar lokasi menjadi perkampungan padat penduduk. Tepatnya di rumah petak berukuran 4×5 meter persegi itu masih terdapat sisa bangunan kuno. Diperkirakan, bangunan tersebut merupakan salah satu jejak keberadaan Stasiun Semarang NIS.

”Pensiunan pegawai kereta api, dulu dibolehkan menempati aset KAI yang tak terpakai. Saya ingat betul, waktu awal-awal di sini, bangunan stasiun masih ada relnya. Bapak dulu masinis. Bangunan stasiun itu luas di sepanjang kampung ini,” ungkap Ngatiyem.

Dia berusaha mengingat-ingat, dulu saat ditanya orang tinggal di mana. ”Saya selalu menjawab tinggal di gudang persediaan, karena dulu belum disebut Kampung Spoorland,” kata nenek yang memiliki 17 cucu ini.

Ngatiyem juga dengan ringan hati menunjukkan sisa-sisa bangunan stasiun yang saat ini ditempatinya itu. Salah satunya, bangunan yang terdapat besi melengkung di serambi rumah. Diperkirakan, bangunan tersebut merupakan tempat pembayaran karcis peron.

”Jumlahnya ada tiga buah, dua di serambi dan satu di ruang tengah. Bentuk besi melengkung itu sangat khas di Stasiun Belanda yang kerap tergambar di buku sejarah,” ujarnya.

 

Ia kemudian mengajak menuju ruang pojok belakang yang digunakan sebagai ruang dapur. Ia menunjuk sebuah dinding yang terdapat ventilasi batu bata kuno berbentuk bundar. ”Dinding ini masih asli, belum ada yang mengubah,” katanya.

Tidak hanya itu, ia menunjukkan beberapa kayu jati berukuran besar penyangga atap yang masih asli. ”Dulunya, di sini loket karcis yang dibongkar dan difungsikan sebagai gudang. Saya memang satu-satunya warga yang memilih tetap mempertahankan bentuk bangunan asli,” katanya.

Dari tahun ke tahun, Ngatiyem bersama mendiang suaminya menjadi saksi tenggelamnya rel dan stasiun bersejarah tersebut akibat ganasnya rob. Menurut dia, diperkirakan saat ini keberadaan rel dan bangunan lain, berada kurang lebih 20 meter terpendam tanah. ”Karena setiap tahun, warga harus menguruk tanah sedalam 4 meter. Saya nggak berani membangun seperti warga yang lain. Karena saya sadar bahwa aset bangunan ini milik negara. Itu juga pesan suami saya,” ucapnya.

Ketua Komunitas Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) Semarang, Tjahjono Rahardjo, mengatakan, selain studi literatur dan foto-foto sejarah, komunitasnya juga mencari kecocokan lokasi dengan fasilitas Global Positioning System (GPS) demi mendapatkan titik pasti Semarang NIS ini.

Menurut dia, lokasi padat penduduk di Kampung Spoorland dinilai identik sebagai lokasi pencarian. ”Hanya saja, mayoritas jejak sejarah stasiun itu sudah hancur atau hilang di dalam air rob dan tambak. Lalu lokasi itu puluhan tahun didirikan rumah padat penduduk,” kata Tjahjono.

Hasil penelitian terkait sejarah Semarang NIS sendiri hingga kini belum masuk di museum KAI, karena hingga sekarang belum ditetapkan sebagai cagar budaya. Kawasan tersebut hingga saat ini berupa perkampungan padat yang masih terabaikan. ”KAI sudah mengakui bahwa Semarang NIS sebagai stasiun pertama yang dibangun Belanda di Indonesia,” ujarnya.

Dikatakan Tjahjono, PT KAI sempat mengira Stasiun Samarang adalah sebuah bangunan bertuliskan nama ’Kemidjen’, yang ditemukan dalam dokumentasi sejarah. Belakangan muncul cerita tentang Stasiun Kemidjen yang berada tak jauh dari Stasiun Semarang NIS. Ternyata belakangan diketahui bahwa bangunan Kemidjen yang dikira stasiun, hanyalah sebuah rumah sinyal.

”Sekarang diam-diam mereka sudah mengakui Stasiun Semarang NIS ini. Buktinya di museum kereta api Lawang Sewu sudah ditampilkan dan digambarkan sebagai stasiun pertama, jadi mereka mengakui tapi belum terang-terangan,” katanya.

Menurut Tjahjono,  penting bagi PT KAI untuk menetapkan lokasi Semarang NIS sebagai cagar budaya. Mengingat begitu besar peranan stasiun tersebut dalam perjalanan serta perkembangan perkeretaapian di Indonesia saat ini. Sejak IRPS menerbitkan hasil penelitian soal Semarang NIS, Balai Arkeologi akhirnya meneliti lebih lanjut kawasan Spoorland dan mengakui Kampung Spoorland sebagai lokasi stasiun pertama Indonesia.

”Namun hal itu belum disusul dengan penetapan cagar budaya. Paling tidak lokasi itu bisa dipertahankan agar tak semakin rusak. Bisa juga dibangun monumen Perkeretaapian Indonesia misalnya. Paling tidak orang bisa melihat itu stasiun pertama kereta api yang dibangun di Indonesia,” ujarnya. (*/aro/ce1)