Awalnya Jadi Beban, Kini Jadi Penyemangat

Ruud Gullit Sagaf Yunus, Pemain PSIS yang Memiliki Nama Unik

1005
Ruud Gullit Sagaf Yunus. (BASKORO SEPTIADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Ruud Gullit Sagaf Yunus. (BASKORO SEPTIADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Setiap musim kompetisi, tim PSIS Semarang selalu merekrut pemain baru. Tak terkecuali
saat menghadapi ajang Liga 2 saat ini. Dari 27 pemain yang telah direkrut itu, terdapat sejumlah pemain dengan nama unik. Salah satunya Ruud Gullit.

BASKORO SEPTIADI

NAMA Ruud Gullit cukup menyita perhatian. Bukan hanya karena skill-nya, pemain dengan nama lengkap Ruud Gullit Sagaf Yunus itu juga memiliki kesamaan nama dengan legenda sepak bola dunia yang juga superstar klub papan atas Eropa, AC Milan di era 1990-an.

Pemain kelahiran 9 Desember 1992 ini memang diberi nama mirip dengan legenda AC Milan lantaran sang ayah, Sagaf Yunus, menggandrungi sosok pesepak bola yang kala itu tenar bersama sejumlah nama bintang AC Milan asal Belanda lainnya, yakni Marco van Basten dan Frank Rijkaard.

”Jadi, pada masa itu, ayah saya cukup mengidolakan Ruud Gullit hingga akhirnya ayah saya memilih nama Ruud Gullit sebagai doa agar kelak anaknya bisa sehebat Ruud Gullit di dunia sepak bola,” terang Gullit ditemui Jawa Pos Radar Semarang di sela latihan PSIS.

Pria 24 tahun ini juga satu-satunya di keluarga yang meniti karir sebagai pesepak bola. Dua kakak laki-laki Gullit diberi nama ’standar’ oleh sang ayah, yakni Zulkifli dan Muhammad Irfan.

”Sosok ayah adalah motivasi terbesar dalam karir saya. Saya memiliki nama paling berbeda dibanding keempat kakak-kakak saya. Awalnya, memang jadi beban, karena nama saya selalu menarik perhatian orang. Namun lama-kelamaan saya tahu nama saya merupakan doa ayah ketika saya tampil di lapangan. Dan nama ini menjadi semangat saya setiap kali bertanding. Keluarga selalu mendukung setiap pilihan saya, termasuk ketika meninggalkan kampung halaman untuk bermain di luar pulau,” ujar Gullit.

Pemain yang identik dengan nomor punggung 37 itu mengawali karir sepak bolanya di diklat sepak bola Maluku Utara 10 tahun lalu.  Kemudian Ruud Gullit memulai karir profesional pada 2013 ketika memperkuat Martapura FC di Divisi 1 Liga Indonesia hingga berhasil membawa tim asal Kalimantan Selatan itu promosi ke Divisi Utama.

Prestasinya tersebut membuat dia diminati PSMS Medan untuk berlaga di kompetisi Divisi Utama 2014. Lama tidak bermain karena kisruh PSSI pada 2015, musim 2016 Gullit merapat ke PS Kutai Timur sebelum akhirnya berseragam klub kebanggaan warga Kota Semarang.

”PSIS adalah tim besar. Saya bangga bermain di sini di bawah asuhan pelatih senior, coach Subangkit. Dengan doa keluarga, saya berharap bisa menampilkan yang terbaik dan membantu PSIS kembali ke kasta tertinggi Liga Indonesia, musim depan,” sambungnya.

Karirnya di PSIS saat ini bisa dibilang tidak berjalan dengan mulus. Gullit harus bersaing dengan gelandang Mahesa Jenar lainnya yang juga memiliki kualitas setara, seperti M Yunus, Ahmad Agung dan Saddam Sudarma Hendra.

Debut Gullit di kompetisi bersama Mahesa Jenar ketia dia tampil sebagai starter di laga tandang PSIS versus PSIR Rembang pada 11 Mei silam. Dan, tampaknya kerja keras Gullit semakin membuahkan hasil. Pemain bertinggi badan 175 cm ini sering mendapat kepercayaan dari pelatih Subangkit untuk berlaga. Bahkan di dua kali laga uji coba versus PSS Sleman dan PSIM Jogjakarta, Gullit menjadi sosok sentral di lini tengah Mahesa Jenar. Dia juga menyumbang satu gol kemenangan PSIS 2-0 atas PSIM.

”Pastinya saya selalu ingin memberikan yang terbaik untuk klub yang saya bela. Termasuk PSIS, saya juga ingin terus berkontribusi agar bisa mengantarkan PSIS promosi ke Liga 1,” ucapnya. (*/aro/ce1)