33 C
Semarang
Selasa, 7 Juli 2020

Menjadi Bidan sekaligus Dosen

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

DOKTOR Runjati MMid memulai profesinya sebagai Bidan Praktik Mandiri (BPM) pada 2008. Ia adalah bidan lulusan Akademi Perawat Depkes Semarang 1996. Meski sekolah keperawatan, ia mengaku dirinya memang berkeinginan kuat untuk menjadi bidan. Tekadnya menjadi bidan dibuktikan dengan melanjutkan pendidikan Kebidanan di Australian Catholic University (ACU) Melbourne, Australia dan lulus pada 2003. Saat itu, ia menempuh pendidikan Bachelor Midwifery, Master Midwifery.

Baca Juga : Bidan Isti Pernah Dibayar Pakai Terasi

Alhamdulillah, sudah jalannya sekarang menjalani profesi sebagai bidan. Dulu mulai praktik di BPM Kedungpane tahun 2008 karena sebelumnya saya meneruskan pendidikan di Australia dan mengikuti adaptasi bidan tahun 2006,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Meski kini aktif menjadi dosen Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang, ia tetap terus melayani masyarakat yang membutuhkannya saat akan melahirkan. Hanya saja, jika pelayanan tidak bisa diberikan secara langsung, maka ia akan mengarahkan pastur (kelahiran) kepada yang berwenang atau tim bidan di BPM. “Jadi, dulu ada program HP V ya saya ikut rombongan dari Jawa Tengah yang sekolah kebidanan, memang difokuskan ke pendidikan,” ujarnya ramah.

Ia mengungkapkan pengalaman menarik ketika menjalani praktik studi di beberapa tempat pelayanan kesehatan di Australia. Perbedaan bahasa dan kebudayaan, diakui Runjati, menjadi kendala yang menyulitkannya menjalani praktik kala itu. Namun di sisi lain, Runjati meneladani sikap para bidan atau midwifery di sana dalam melayani ibu melahirkan.

“Saya itu kagum, karena mereka itu begitu perhatian, ngayomi dan all out sekali. Bukan berarti bidan di Indonesia tidak demikian, tapi di sana itu dilakoni sampai ngisik-isik, ngelap, mijit. Jadi betul-betul membuat nyaman si ibu,” katanya.

Ia mengisahkan, dirinya pernah menolong kelahiran bayi kembar di rumah pasien, dengan kondisi salah satu bayi sudah lahir,  namun masih tertinggal kembarannya. Saat itu, ia dipanggil oleh si ayah bayi untuk membantu dalam persalinan. “Jadi, saya dipanggil suami pasien kalau bayinya sudah setengah badan keluar, begitu kesana ternyata kembar masih ada satu lagi yang belum lahir. Akhirnya, saya bantu dan saya rujuk ke rumah sakit,” kenangnya.

Yang jadi masalah, keluarga pasien itu tidak memiliki biaya yang cukup. Akhirnya, Runjati menggratiskan seluruh biaya mulai dari persalinan hingga rujukan ke rumah sakit. Hal itu dianggapnya sebagai bentuk pengabdian yang bisa dilakukan sebagai seorang bidan, dan tetap mensyukuri karena bisa menolong kelahiran tersebut.

Selama menjadi dosen, Runjati mengaku tidak mengalami kesulitan dalam menjalankan dua profesi sekaligus. Hanya sajasetelah dirinya menjadi Ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes Semarang, membuatnya tidak bisa begitu saja meninggalkan kantor untuk membantu persalinan.“Akhirnya, karena di BPM itu kan ada tim bidannya, saya menghubungi bidan, dan membantu mengarahkan pasien untuk tindakan-tindakan selanjutnya,” ujar bidan kelahiran Tegal ini.

Proses persalinan unik lainnya pernah ia alami dengan ibu hamil yang masih berusia 12 tahun. Karena masih sangat muda, proses persalinan tidak boleh dilakukan secara mandiri. Sehingga ia harus merujuk pasiennya untuk melahirkan di rumah sakit, karena pasien tersebut masuk dalam kategori risiko tinggi.

Hingga saat ini, ia mencatat sedikitnya 300-an persalinan telah dibantunya. Meski terbilang sedikit, Runjati memiliki prestasi membanggakan dalam pendidikan kebidanan. Salah satunya adalah sertifikat atas keberhasilan dalam kualifikasi sebagai Bidan Delima dari pengurus Pusat IBI pada 2009 dan 2016. “Memang saya lebih fokus ke pendidikan, karena pendidikan saya di Australia itu kan merupakan beasiswa. Jadi, sekarang saya pulang ya untuk membagi apa yang saya pelajari di sana,” tuturnya.

Sebagai dosen kebidanan, ia mengharapkan kepada para ibu hamil untuk mempersiapkan diri dengan kondisi fisik dan psikologisnya menjelang persalinan. Karena hamil dan melahirkan tidak soal fisik saja, namun aspek psikologis juga mempunyai peran penting dan menentukan keberhasilan persalinan. “Ibu harus punya pengetahuan yang cukup untuk mengetahui kondisi kesehatan kehamilannya, sehingga bisa menentukan melahirkan di mana sesuai kondisi kesehatannya,” pungkasnya. (afiati tsalitsati/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Ekspose Wisata dengan Jalan Sehat

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Pemkot Magelang terus berupaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakatnya. Salah satunya dengan menyelenggarakan jalan santai yang diikuti ribuan orang, di Alun-alun Kota...

Pemkot Siap Lakukan Penyempurnaan

SEMARANG- Persoalan luasan lapak sudah menjadi masalah klasik setiap Pemkot Semarang merevitalisasi  pasar tradisional. Pedagang pun enggan menempati bangunan baru pasar yang telah dibangun...

Hargai Peran Perempuan

RADARSEMARANG.COM, TEMANGGUNG - Sekitar 3.000 warga Desa Menggoro Tembarak dan sekitarnya mengikuti kegiatan jalan sehat memperingati Hari Perempuan Internasional 2018 yang digelar DPC Perempuan...

Atlanta Elektronik Undi Hadiah Mobil

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Atlanta Elektronik melakukan pengundian dua unit mobil, sejumlah sepeda motor dan puluhan perangkat elektronik mulai dari setrika, mesin cuci, kulkas dan lainnya di...

Tawarkan Busana Muslim Berkualitas

SEMARANG - Busana muslim menjadi barang wajib bagi umat muslim. Apalagi dalam menyambut ramadan dan lebaran. Masyarakat berlomba untuk membeli pakaian agar tampil beda...

Dipameri Balkondes Berhomestay

PRESIDEN Joko Widodo juga menyempatkan diri mengunjungi Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Tuksongo dan Wringin Putih di Kecamatan Borobudur. Dalam kunjungannya di Balkondes Tuksongo dan...