25.7 C
Semarang
Jumat, 13 Desember 2019

Menjadi Bidan sekaligus Dosen

Must Read

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden...

DOKTOR Runjati MMid memulai profesinya sebagai Bidan Praktik Mandiri (BPM) pada 2008. Ia adalah bidan lulusan Akademi Perawat Depkes Semarang 1996. Meski sekolah keperawatan, ia mengaku dirinya memang berkeinginan kuat untuk menjadi bidan. Tekadnya menjadi bidan dibuktikan dengan melanjutkan pendidikan Kebidanan di Australian Catholic University (ACU) Melbourne, Australia dan lulus pada 2003. Saat itu, ia menempuh pendidikan Bachelor Midwifery, Master Midwifery.

Baca Juga : Bidan Isti Pernah Dibayar Pakai Terasi

Alhamdulillah, sudah jalannya sekarang menjalani profesi sebagai bidan. Dulu mulai praktik di BPM Kedungpane tahun 2008 karena sebelumnya saya meneruskan pendidikan di Australia dan mengikuti adaptasi bidan tahun 2006,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Meski kini aktif menjadi dosen Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang, ia tetap terus melayani masyarakat yang membutuhkannya saat akan melahirkan. Hanya saja, jika pelayanan tidak bisa diberikan secara langsung, maka ia akan mengarahkan pastur (kelahiran) kepada yang berwenang atau tim bidan di BPM. “Jadi, dulu ada program HP V ya saya ikut rombongan dari Jawa Tengah yang sekolah kebidanan, memang difokuskan ke pendidikan,” ujarnya ramah.

Ia mengungkapkan pengalaman menarik ketika menjalani praktik studi di beberapa tempat pelayanan kesehatan di Australia. Perbedaan bahasa dan kebudayaan, diakui Runjati, menjadi kendala yang menyulitkannya menjalani praktik kala itu. Namun di sisi lain, Runjati meneladani sikap para bidan atau midwifery di sana dalam melayani ibu melahirkan.

“Saya itu kagum, karena mereka itu begitu perhatian, ngayomi dan all out sekali. Bukan berarti bidan di Indonesia tidak demikian, tapi di sana itu dilakoni sampai ngisik-isik, ngelap, mijit. Jadi betul-betul membuat nyaman si ibu,” katanya.

Ia mengisahkan, dirinya pernah menolong kelahiran bayi kembar di rumah pasien, dengan kondisi salah satu bayi sudah lahir,  namun masih tertinggal kembarannya. Saat itu, ia dipanggil oleh si ayah bayi untuk membantu dalam persalinan. “Jadi, saya dipanggil suami pasien kalau bayinya sudah setengah badan keluar, begitu kesana ternyata kembar masih ada satu lagi yang belum lahir. Akhirnya, saya bantu dan saya rujuk ke rumah sakit,” kenangnya.

Yang jadi masalah, keluarga pasien itu tidak memiliki biaya yang cukup. Akhirnya, Runjati menggratiskan seluruh biaya mulai dari persalinan hingga rujukan ke rumah sakit. Hal itu dianggapnya sebagai bentuk pengabdian yang bisa dilakukan sebagai seorang bidan, dan tetap mensyukuri karena bisa menolong kelahiran tersebut.

Selama menjadi dosen, Runjati mengaku tidak mengalami kesulitan dalam menjalankan dua profesi sekaligus. Hanya sajasetelah dirinya menjadi Ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes Semarang, membuatnya tidak bisa begitu saja meninggalkan kantor untuk membantu persalinan.“Akhirnya, karena di BPM itu kan ada tim bidannya, saya menghubungi bidan, dan membantu mengarahkan pasien untuk tindakan-tindakan selanjutnya,” ujar bidan kelahiran Tegal ini.

Proses persalinan unik lainnya pernah ia alami dengan ibu hamil yang masih berusia 12 tahun. Karena masih sangat muda, proses persalinan tidak boleh dilakukan secara mandiri. Sehingga ia harus merujuk pasiennya untuk melahirkan di rumah sakit, karena pasien tersebut masuk dalam kategori risiko tinggi.

Hingga saat ini, ia mencatat sedikitnya 300-an persalinan telah dibantunya. Meski terbilang sedikit, Runjati memiliki prestasi membanggakan dalam pendidikan kebidanan. Salah satunya adalah sertifikat atas keberhasilan dalam kualifikasi sebagai Bidan Delima dari pengurus Pusat IBI pada 2009 dan 2016. “Memang saya lebih fokus ke pendidikan, karena pendidikan saya di Australia itu kan merupakan beasiswa. Jadi, sekarang saya pulang ya untuk membagi apa yang saya pelajari di sana,” tuturnya.

Sebagai dosen kebidanan, ia mengharapkan kepada para ibu hamil untuk mempersiapkan diri dengan kondisi fisik dan psikologisnya menjelang persalinan. Karena hamil dan melahirkan tidak soal fisik saja, namun aspek psikologis juga mempunyai peran penting dan menentukan keberhasilan persalinan. “Ibu harus punya pengetahuan yang cukup untuk mengetahui kondisi kesehatan kehamilannya, sehingga bisa menentukan melahirkan di mana sesuai kondisi kesehatannya,” pungkasnya. (afiati tsalitsati/aro)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di timurnya. Kota yang di barat itu,...

Rombak Kurikulum

Reformasi besar-besaran. Di bidang kurikulum pendidikan. Itulah instruksi Presiden Joko Widodo. Kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Kemarin. Kata 'reformasi' saja sudah sangat ekstrem. Apalagi...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -