Makna Damai Takbir

2300
Oleh: Luthfi Rahman*)
Oleh: Luthfi Rahman*)

PADA 1 syawal kita semua akan merayakan Idul Fitri. Hari yang merupakan simbol kemenangan atas perjuangan kita berpuasa selama sebulan penuh, hari yang menggambarkan bahwa kita telah kembali kepada fitrah manusia seutuhnya karena kita telah berperang memerangi nafsu kita.

Selebrasi tersebut biasanya kita wujudkan dalam bentuk takbiran/ bertakbir yakni mengagungkan asma Allah Tuhan Yang Maha Kuasa yang dimulai pada awal masuknya bulan baru (tanggal 1 syawal) waktu maghrib hingga menjelang dilaksanakannya sholat Idul Fitri di pagi harinya.

Takbir adalah pengucapan lafal allahu akbar yang ditambahkan dengan lafal pujian yang lain yang dikhususkan untuk memuji keagungan Sang Ilahi. Namun, kita sebagai Umat Islam diharapkan tidak hanya mampu melafalkan takbir dan meramaikan takbiran saja. Hal ini akan menjadikan takbiran tidak ubahnya sebagai selebrasi semata. Lebih dari itu, makna takbir dan kegiatan takbiran merupakan hal yang sarat dengan makna.

Perlu kiranya kita menilik makna takbir secara sekilas, bahwa takbir merupakan bentuk derivatif dari kata kabbara-yukabbiru-takbirotan yang berarti membesarkan dan mengagungkan.

Secara tehnis kalimat tersebut digunakan untuk menunjukkan bacaan Allahuakbar 3x (ada yang menyebutkan 2x), la ilaha illallahu wallahu akbar, allahu akbar wa lillahil hamd. Allah Maha Besar, Tiada Tuhan Selain Allah, Allah Maha Besar dan  segala puji bagi Allah.

Dalam makna takbir tersebut, terdapat makna yang sangat jelas bahwa hanya Allah lah Dzat yang Maha Hebat dan Maha Segalanya yang menutup segala celah bagi ciptaannya untuk berlaku menyamai ke-Maha Hebat-an Allah.

Segala tingkah polah arogansi dan kepongahan manusia hendaknya tidak terjadi apabila mereka mampu memahami makna takbir. Kepongahan manusia inilah yang sering mengantarkan pada instabilitas sosial.

Arogansi manusia ini adakalanya dengan mendasarkan dirinya mencapai titik istimewa dalam kepemilikan harta, ilmu pengetahuan dan agama seperti halnya fenomena yang belakangan terjadi.  Dengan merasa paling kaya yang lain miskin berarti dia menafikan Sang Tuhan Yang Maha Kaya (al-Ghaniyy). Hal ini diperparah tentunya dengan sikap yang menunjukkan arogansi kekayaan seperti sikap suka pamer, bermewah-mewahan dalam keseharian, dan pola hidup konsumeris lainnya yang bisa menimbulkan kecemburuan sosial (social jealousy).  Kecemburuan sosial inilah yang memberikan jalan pada terjadinya malapetaka sosial, seperti halnya tindak perampokan, pencurian dan penjambretan.

Sementara itu, arogansi ilmu pengetahuan dan agama yang menghinggapi diri manusia disebabkan karena seseorang merasa bahwa dialah yang paling berhak dan otoritatif atas pengetahuan dan agama tertentu dan yang lain salah. Orang yang merasa paling pintar biasanya menganggap yang lain remeh dan rendah.

Demikian juga orang yang merasa bahwa dialah orang yang beragama paling baik dan benar, menganggap bahwa orang lain yang sama-sama beragama adalah jelek dan salah. Sikap memonopoli pengetahuan dan agama inilah yang menjadikan masyarakat kita yang heterogen menjadi rentan terhadap perpecahan.

Hal ini dikarenakan lahirnya para hakim dadakan dalam pribadi-pribadi manusia untuk menghakimi yang lain. Lebih ironisnya lagi kepribadian yang cenderung untuk menghakimi yang lain/liyan tersebut berlanjut dalam bentuk tindakan main hakim sendiri yang tidak jarang memberikan kerugian material dan mental bagi korbannya.

Orang-orang yang demikian ini melupakan kebesaran Allah sebagai Dzat Yang Maha Mengetahui (al’Alim) yang pengetahuanNYA jauh melampaui ciptaanNYA, serta menafikan Allah sebagai Dzat Yang Maha Bijaksana-Maha Menghakimi Segala Sesuatu (al-Hakim).

Pesan damai dari makna takbir sebenarnya karena setelah melakukan perang melawan hawa nafsu kita selama bulan Ramadhan, dan kita menang dalam menghadapinya maka kondisi aman dan damai yang diasumsikan pasca perang. Demikian pula, pengucapan takbir semestinya memberikan implikasi dan efek yang membekas dalam pribadi kita untuk tidak memperturutkan hawa nafsu kita di bulan-bulan berikutnya yakni nafsu untuk bersikap arogan dan pongah,  nafsu untuk membodohi yang lain, nafsu untuk menindas yang lain, nafsu untuk bertindak korup, dan nafsu untuk menghakimi yang lain.

Sebaliknya, pengucapan takbir hendaknya disertai dengan kesadaran dan pemahaman penuh akan kehadiran Allah Dzat yang senantiasa mengayomi, melindungi dan mengasihi. Pengayoman Allah mencakup seluruh alam semesta, perlindungan Allah meng-cover semua makhluknya, dan kasih Allah menyelimuti seluruh hambaNya tanpa terkecuali. Jika individ-individu mampu memiliki kesadaran transendental yang bersumber dari lafal takbir ini, maka akan terlahirlah manusia-manusia yang memiliki karakter-karakter ilahiah dengan sikap welas asih (ar-rohman, ar-rohim), memberi (al-mu’thi), mengayomi (al-muhaimin) dan menebar damai (as-salam) terhadap sesama makhluk Allah tidak membeda-bedakan.

Wujud nyata dari sikap-sikap tersebut adalah menghormati dan menghargai sesama manusia dengan tidak memandang perbedaan agama, suku dan ras. Langkah ini akan menciptakan harmoni sosial. Sementara, sikap welas asih kita terhadap lingkungan merupakan komitmen etis kita untuk menjaga dan melidungi sesama makhluk yang notabene turut bertasbih (mensucikan) Allah di alam semesta ini sebagaimana tertuang dalam (QS. 57:1, 61:1). Semoga dengan berpuasa kita senantiasa mendapatkan pencerahan ruhaniah, dan dengan takbir pencerahan tersebut mewujud damai dalam perbuatan kita.  Amin. Wallahu a’lam. (*/smu)