Tanggal 24 Juni ini diperingati sebagai Hari Bidan Nasional. Bidan adalah profesi yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Mulai dari tengah perkotaan hingga pelosok desa, bidan dengan mudahnya kita temui. Mengemban amanah sebagai ujung tombak penurunan angka kematian ibu dan bayi di setiap daerah, maka profesi ini tidak dapat kita anggap sebelah mata.

SELAMA lebih dari 25 tahun menjadi bidan, Istirochah SSiT MKes mengaku profesi yang dialani merupakan panggilan hatinya. Ia tertarik menjadi bidan setelah melihat tetangganya semasa kecil yang menjadi bidan, dan menolong banyak orang yang mendorong ia bertekad untuk mengikuti jejaknya.

Baca Juga : Menjadi Bidan sekaligus Dosen

“Dulu waktu saya kecil melihat bidan Bu Mul, tetangga saya, orangnya baik, menolong banyak orang tanpa pamrih, dia rela dibayar apapun, saya jadi punya keinginan untuk melakukan hal yang sama,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurut wanita yang akrab disapa Isti ini, profesi bidan dengan menolong sebuah kelahiran tidak hanya menyenangkan satu orang saja, tetapi juga seluruh keluarga besarnya. Khususnya, bagi mereka yang membutuhkan pertolongan ketika zamannya belum se-modern saat ini. “Jadi, keinginan itu muncul sudah sejak SD, sudah cita-cita,” katanya.

Lulus Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) PPNI sebagai bidan pada 1989, ia melanjutkan sekolah bidan dengan mengikuti program bidan desa dengan jangka waktu pendidikan satu tahun. Pada saat itu, program pemerintah itu dilakukan karena di desa masih banyak yang membutuhkan pertolongan bidan. “Tapi nggak tahu ya, SK saya malah turunnya di RSUP dr Kariadi. Jadi sejak dulu, saya jadi bidan di sini,” ujar bidan kelahiran 13 Juli 1968 ini.

Ia mengaku ada sedikit kekecewaan ketika menerima Surat Keputusan yang mengharuskannya menjadi bidan di RSUP dr Kariadi. Sebab, cita-citanya menjadi bidan yang berada di desa-desa maupun tempat terpencil. Bagi dia, pengabdian masyarakat akan lebih terasa di daerah.

Sedikitnya 4.000 kelahiran bayi telah ditanganinya sejak 1990, baik ketika dia bertugas di IGD, poliklinik maupun saat ini di pusat obstetri atau kandungan. “Dulu pertama kali di UGD sekitar 10 tahun. Kemudian lima tahun di poli, sisanya di sini. Sebelum di sini (Obstetri) yang saya tangani sudah 4.000 lebih,” katanya yang juga menjadi pengajar di Poltekkes Depkes Semarang ini.

Selain menjalani profesinya sebagai bidan, ia juga merupakan pemangku Komite Keperawatan di bagian Sub Komite Etik Disiplin Profesi di RSUP dr Kariadi. Namun itu tak mengganggu pekerjaan utamanya dalam melayani pasien kelahiran.

Baginya, bidan tidak hanya berkaitan dengan kelahiran saja, namun juga terjun langsung pada pengabdian masyarakat yang tidak terbatas. Ia sendiri membuka praktik bidan di rumahnya yang terletak di kawasan Puspanjolo, Semarang Barat. Saat ini, di praktik kebidanannya ia dibantu oleh 5 bidan lain yang berjaga ketika ia sedang tidak dirumah. “Iya, di rumah sudah dibantu lima bidan jaga, karena saya nggak setiap saat di rumah. Yang membantu pun sudah berpengalaman,” katanya.

Isti yang gemar memberikan pelayanan mengaku, seluruh yang dilakukan menjadi suka baginya. Seperti selama bekerja di RSUP dr Kariadi, ia pernah melangsungkan tindakan nonstop dalam satu shift jaga dengan durasi 7-8 jam.  “Malah pernah, sejak saya datang sampai saya pulang, pasien itu belum habis, jadi dulu memang angka kelahiran sangat tinggi,” ungkapnya yang gemar menyanyi.

Sebelum program KB yang dicanangkan pemerintah itu, ia berhasil memang proses kelahiran yang ditangani oleh bidan sangat banyak, bahkan hingga kuwalahan. Saat ini, masyarakat sudah mulai melek dengan usia produktif, sehingga tidak terlalu membeludak lagi.

Pengalaman lain yang ia rasakan adalah ketika momen Lebaran seperti saat ini, bekerja di rumah sakit tipe A membuatnya harus selalu siap dengan pasien rujukan dari daerah yang biasanya sudah dalam kondisi darurat. “Biasanya yang dirujuk ke sini kalau sudah gawat, atau dengan kondisi-kondisi tertentu, itu kan urgensi ya saya harus siap, apalagi memang tugas jaga,” bebernya.

Ia menceritakan pengalamannya ketika sedang melakukan perjalanan menuju Demak, namun harus kembali lagi, karena ada pasien yang ingin melahirkan di rumahnya. Padahal saat itu, sudah ada bidan jaga yang juga mampu menangani. “Tapi si ibu ini ngotot inginnya sama saya, pokoknya kalau nggak saya nggak mau melahirkan. Memang lucu, tetapi itu mungkin soal kepercayaan ya, akhirnya saya pakai taksi pulang dan melayani,” ceritanya.

Istirochah mengakui bahwa meskipun banyak yang harus dikorbankan terutama waktunya bersama keluarga, ia tidak pernah menyesal melakoni profesinya saat ini. Kecintaannya melakukan pengabdian masyarakatlah yang menguatkan tekadnya untuk terus melayani masyarakat yang membutuhkannya. “Di luar kerjaan saya juga sering memberikan semacam edukasi di sekitar rumah, penyuluhan tentang kehamilan, ya dasarnya nggak bisa diam dan senang bersosial,” ujarnya.

Bidan yang juga aktif di Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ini mengaku pengalaman berkesannya ketika ia berhasil melakukan proses persalinan seorang warga, namun orang itu tidak memiliki biaya untuk membayarnya. “Saya waktu itu bilang, nggak perlu bayar nggak papa, yang penting selamat. Tapi, kemudian saya diberikan terasi. Itu saya terharu, walaupun hanya terasi itu juga bentuk apresiasi dan rasa terima kasih,” ucapnya.

Ia juga pernah menangani pasien yang melahirkan anak ke limanya. Uniknya, keempat anak pasiennya itupun dia yang menangani kelahirannya. Tak hanya itu, ia juga menjadi bidan dari beberapa keluarga yang turun-temurun dari anak hingga cucu ditanganinya. “Kayak gitu kan artinya kepercayaan ya, dan itu yang mahal harganya. Yang kemudian jadi kepuasan dan kesenangan untuk saya sebagai bidan,” katanya.

Salah satu bayi yang lahir di tangannya pun kini ada yang sudah lulus dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan telah sukses. Hal itu diketahuinya ketika sang ibu bersama anaknya bertemu dengan Isti di suatu momen, dan ibu tersebut mengenalkan anaknya kepada Isti. “Ibu itu bilang, iki lho nang bidanmu, ayo salim sik. Saya hanya tertawa dan kagum, ternyata saya sudah lama jadi bidan, hingga ada anaknya yang sudah jadi ‘orang’,” tuturnya.

Pengalaman yang membuatnya sedih adalah ketika dalam sebuah persalinan sang ibu dan anak tidak tertolong. Itu membuatnya terus teringat bahkan terbawa hingga membuat nafsu makannya hilang.

“Pasien gawat yang saya tangani itu biasanya dia yang mengalami perdarahan, jadi ketika sang bayi sudah berhasil keluar terus ada perdarahan dari uterus yang tidak mau berhenti. Itu kalau telat beberapa detik saja fatal buat ibunya,” terangnya.

Risiko pekerjaannya sebagai bidan, Isti kerap tak libur saat Lebaran. Awalnya, anak-anaknya sempat protes, namun kini mulai mengerti kalau ibunya memiliki pekerjaan dengan risiko tak memiliki waktu banyak bersama keluarga. Ia pun selalu memberikan pengertian kepada ketiga anaknya.

“Anak saya yang pertama sudah berkeluarga, punya anak, dan sekarang menjadi anggota dewan Kota Semarang. Yang kedua baru saja lulus jurusan arsitek, kalau yang ketiga masih kuliah teknik kimia,” ungkapnya bangga.

Isti mengungkapkan dari ketiga anaknya, tidak ada yang meneruskan jejaknya menjadi seorang bidan. Mereka beralasan jadi bidan sangat repot dan menguras waktu serta tenaga. Ia sendiri juga tidak menuntut anaknya untuk mengikuti dirinya. Isti membebaskan pilihan kepada anak-anaknya asalkan bertanggung jawab. (afiati tsalitsati /aro)