Puluhan Penderita HIV Terima Bantuan

492
BANTUAN : Wakil Bupati Semarang, Ngesti Nugraha saat menyerahkan bantuan sembako kepada ODHA diwakili para pendamping, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BANTUAN : Wakil Bupati Semarang, Ngesti Nugraha saat menyerahkan bantuan sembako kepada ODHA diwakili para pendamping, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN–Sebanyak 30 orang penderita HIV/AIDS (ODHA) menerima bantuan paket sembako dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Semarang, Kamis (22/6). Pemberian bantuan dilakukan oleh Ketua Pelaksana Harian (Kalakhar) KPA Kabupaten Semarang Ngesti Nugraha di lantai II Gedung PKK Kecamatan Bergas.

Pada kesempatan tersebut, Ngesti yang juga Wakil Bupati Semarang meminta para penderita untuk tetap hidup normal selayaknya warga lainnya. “Harus bersemangat untuk menjalani kehidupan yang normal. Jangan patah semangat dan teruslah mengkonsumsi obat yang telah dianjurkan oleh para pendamping,” ujar Ngesti.

Sampai saat ini ada 169 ODHA dalam pendampingan KPA Kabupaten Semarang. Mereka tersebar di seluruh kecamatan yang ada dan tergabung dalam dua kelompok dukungan sebaya. “Karena keterbatasan dana, baru 30 orang ODHA terpilih yang mendapat bantuan paket sembako dan tidak menutup kemungkinan penambahan jumlah penerima bantuan waktu mendatang,” katanya.

Guna mengumpulkan dana partisipasi dari masyarakat, lanjutnya, KPA akan melanjutkan Gerakan Seribu Manfaat (GSM) dengan menggandeng perwakilan KPA di tingkat kecamatan. “Jadi disetiap kecamatan nantinya akan disediakan kotak sumbangan untuk menampung partisipasi masyarakat yang peduli ODHA. Uniknya nominal uang yang diberikan adalah kelipatan Rp 1.000. Karenanya, dinamakan Gerakan Seribu Manfaat,” tuturnya.

Sementara itu, Sekretaris KPA Kabupaten Semarang Puguh Wijoyo Pakuwojo menjelaskan bantuan yang diberikan merupakan kerja sama antara KPA dan BAZIS Kabupaten Semarang. Tujuannya membantu para ODHA memenuhi kebutuhan menghadapi Lebaran tahun ini. Selain itu juga memberikan dukungan psikologis agar mereka tetap memiliki semangat hidup. “Jangan sampai terjadi para ODHA itu merasa terpinggirkan dan terkucil. Jadi mereka tetap bisa menjalani kehidupan yang wajar dan tetap dalam pendampingan kami,” katanya. (ewb/ida)