Merawat Asa Anak-Anak Penderita Thalasemia

Must Read

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau...

Anak-anak penderita thalasemia masih memiliki masa depan yang cerah. Di tengah perjuangan melawan sakit dengan melakukan transfusi darah seumur hidup, mereka masih punya asa untuk meraih cita-cita setinggi langit. Pemerintah melalui BPJS Kesehatan dengan program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), kini tengah merawat asa mereka, dengan mengcover semua biaya pengobatan para penderita thalasemia.

“AKU ingin jadi polisi. Karena jadi polisi sangat keren dan gagah, bisa membantu sesama. Makanya, aku rajin belajar meski kadang tertinggal pelajaran.” Itulah kalimat yang diucapkan Adib Ahmad Hidayat, bocah 12 tahun, penderita thalasemia, warga Dusun Jati, RT 01/RW 13 Kalinegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang saat ditanya cita-citanya.

Adib adalah harta paling berharga bagi Maesaroh, 34, dan suaminya, Ikhsan, 43, seorang buruh serabutan. Kakak Adib, Muhammad Faiz Fadilla, lebih dulu dipanggil oleh Sang Khaliq pada usia 1,5 tahun. Diduga, kakak Adib juga berpenyakit seperti adiknya: thalasemia. “Sepertinya kakak Adib juga berpenyakit seperti adiknya, karena gejalanya sama,” ucap Ikhsan, dengan wajah menunduk. Pria yang kini cacat kaki karena tertabrak motor, berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah.

Adib lahir pada 13 Agustus 2004. Ia divonis menderita thalasemia sejak berusia 7 bulan. Selama 10 tahun lebih, anak pintar yang selalu masuk ranking 10 besar di sekolahnya itu pun, harus melakoni transfusi darah di RSUD Tidar Magelang. Ikhsan mengenang, ketika dokter memberitahu bahwa Adib menderita thalasemia, perasaannya hancur. “Saya shock, kaget, Ya Allah berat sekali cobaan saya.”

Saat itu, tekad Ikhsan dan Maesaroh cuma satu. Adib harus selamat. Ia ingin melihat Adib tumbuh dewasa. Keduanya tidak ingin kehilangan buah hatinya untuk kali kedua. Waktu itu, biaya pengobatan Adib Rp 6 juta. Beruntung, Ikhsan masih memiliki tabungan. “Uang tabungan hanya mampu beli 2 kantong darah. Sekantong Rp 200 ribu. Obatnya, jenis Feriprod, Rp 4 juta. Perawatan dan transfusi darah Rp 2 juta. Total Rp 6 juta.”

Pada saat itu, Adib masuk kategori pasien umum. Belum ada program Jamkesmas, Gakin, atau BPJS Kesehatan. Untuk menutup kekurangan biaya, ia berutang pada saudaranya. Selama perkembangan usia Adib, Ikhsan kerja keras sebagai buruh serabutan. “Saya mau kerja apa saja, asal bisa mengumpulkan uang minimal Rp 6 juta/bulan. Alhamdulillah, Allah SWT memberikan jalan. Saya bisa mengumpulkan uang untuk perawatan Adib, mesti kadang rela tidak makan.”

Baru pada 2010 silam, Ikhsan masuk kriteria keluarga miskin (Gakin), sehingga biaya perawatan dan pengobatan Adib ditanggung pemerintah. Setelah Gakin berubah menjadi Jamkesmas, pengobatan Adib tetap sepenuhnya dibiayai pemerintah. “Saat ini, setelah berubah menjadi BPJS Kesehatan, tidak ada perubahan. Biaya pengobatan Adib ditanggung pemerintah melalui BPJS Kesehatan, melalui program JKS-KIS.” BPJS Kesehatan yang diterima Adib masuk kategori Penerima Bantuan Iuran (PBI).

Setelah ada BPJS Kesehatan, sambung Ikhsan, kesehatan anaknya lebih terkontrol dan lebih bagus dalam hal pelayanan. “Kami merasa dihargai, meski dari keluarga miskin. Setiap Adib mau transfusi darah, bagian pelayanan melalui jalur BPJS Kesehatan, sangat ramah dan cepat.” Semua biaya pengobatan Adib sepenuhnya dicover BPJS Kesehatan. “Terima kasih BPJS Kesehatan. Saya tidak tahu apa jadinya, kalau tidak ada BPJS Kesehatan, mau bayar pakai apa untuk mengobati sakit anak saya.”

Sebab, lanjut Ikhsan, pengobatan Adib dosisnya semakin tinggi. Jika dulu hanya 2 kantong darah untuk transfusi, sekarang 3-4 kantong. Padahal, sekantong darah kini seharga Rp 350 ribu. “Obat yang harus diminum Adib juga tambah banyak, seperti Feriprod, harga sebotol Rp 4 juta dan Exjad Rp 2 juta. Belum multivitamin lain. Total, paling tidak Rp 8 juta. Uang dari mana, jika kami tidak terbantu BPJS? Untuk makan saja, tidak menentu.”

Ikhsan mengaku kasihan dengan Maesaroh. Setelah cacat, ia tak lagi produktif bekerja. Sebagai gantinya, Maesaroh menjadi buruh konveksi. “Gaji istri saya hanya Rp 600 ribu per bulan,” kata Ikhsan, sembari memeluk istrinya. Mendengar penuturan sang ayah, Adib tertunduk. Sesekali, bocah yang kini diterima di SMP 3 Mertoyudan itu, memeluk ibunya. Apa yang dirasakan Adib saat belum transfusi? “Saaakiiit sekaliii. Buat bangun ndak bisa. Kepala pusing, rasanya muter-muter.”

Ya, Adib hanya salah satu penderita thalasemia dari keluarga miskin yang punya cita-cita tinggi. Anak-anak penderita thalasemia lainnya di Magelang, juga punya impian serupa. Ada Kayla, 9, siswi SD Gelangan 1 Magelang. Juga Ferdian, 5, warga Muntilan. Selama ini, pengobatan mereka menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan.

PUNYA MASA DEPAN: Anak-anak penderita thalasemia Kabupaten Magelang berfoto bersama Ketua DPRD Kabupaten Magelang, Saryan Adi Yanto. (MUKHTAR LUTFI/RADARSEMARANG.COM)

Ketua Persatuan Orang Tua Penderita Thalasemia Indonesia Cabang Magelang, Lilis Herawati, mengatakan, penderita thalasemia sangat terbantu dengan BPJS Kesehatan, melalui programnya: JKN-KIS. Sebab, rata-rata penderita berasal dari keluarga kurang mampu. Kepala Cabang BPJS Kesehatan Magelang, Surmiyati, mengatakan, keluarga thalasemia yang telah resmi terdaftar di BPJS Kesehatan melalui program dari pemerintah, tidak perlu lagi membayar secara mandiri.
Ya, para penderita thalasemia, satu contoh konkret penerima manfaat program JKN-KIS yang dikelola oleh BPJS Kesehatan. Biaya perawatan dan pengobatan mereka selama di rumah sakit, semuanya ditanggung oleh pemerintah.

Setidaknya, asa mereka untuk menjadi orang-orang sukses di kemudian hari terjaga, karena anak-anak penderita thalasemia itu bisa berobat dengan tenang, tanpa memikirkan biaya yang harus dikeluarkan. Dengan berobat rutin, mereka bisa bersekolah untuk meraih impian mereka. Karena cita-cita tinggi milik semua orang. Tidak hanya milik orang yang sehat. Tapi mereka yang sakit pun, berhak meraih cita-cita dan impian hidupnya. (pratono/cr3/lis)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini hadir dengan keunggulan internal memori...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau SARS 18 tahun lalu. SARS: yang...

Wajah Baru Warnai Ofisial Tim PSIS

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – PSIS Semarang resmi memperkenalkan ofisial tim musim depan. Terdapat beberapa nama baru yang akan bahu-membahu membantu pelatih Dragan Djukanovic mengarsiteki Mahesa Jenar...

Lomba Cepat

Berita buruknya: korban virus Wuhan bertambah terus. Sampai kemarin sudah 106 yang meninggal. Hampir semuanya di Kota Wuhan --ibu kota Provinsi Hubei.Berita baiknya: yang...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -