Islam dan Ajaran Kebajikan Sosial

1233
Oleh: Sihabudin*)
Oleh: Sihabudin*)

DI AKHIR Ramadan ini, kadar keislaman kita saatnya dievaluasi secara komprehensif. Selama sebulan penuh aktivitas ibadah sudah dilakukan dengan maksimal, bahkan tentu berlipat kualitas dan kuantitasnya. Apakah, praktik keberagamaan itu mampu mengantarkan atau setidaknya mendekati level Muttaqin, sebagaimana yang menjadi output puasa Ramadan? Manusia yang diharap dari puasa, identik dengan melahirkan sosok husnul khuluq atau berakhlak mulia. Insan yang unggul dibuktikan dengan sikap dan perilaku yang baik.

Islam tidak hanya mengajarkan ibadah ini kepada pemeluknya hanya sekedar sebagai satu bentuk penghambaan kepada tuhan semata. Akan tetapi, ditekankan pula aspek pembelajaran dan pendidikan bagi manusia baik bagi dirinya maupun bagi kehidupan sosialnya. Melalui puasa, seseorang dilatih untuk mengelola berbagai keinginannya (nafsu) serta mengasah kepekaannya terhadap lingkungan sosialnya. Melalui latihan ini, seseorang yang berpuasa dengan baik akan mampu mengendalikan nafsu-nafsu yang selalu mengajak pada hal-hal yang negatif. Ketamakan, keserakahan dan kebencian yang ada pada diri manusia akan bisa tereliminir secara bertahap. Jika seseorang sudah mampu mengelola keinginannya, dan mendidik serta membimbingnya kepada hal-hal yang positif,  maka kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan sosial akan menjadi sesuatu yang menginternal dalam dirinya sebagai sebuah kepribadian.

Upaya melatih kepekaan dan kepedulian terhadap sosial merupakan suatu hal yang sangat urgen. Terlebih dalam konteks ke-Indonesiaan saat ini, yang masih menempati urutan ke enam puluh delapan dari daftar negara dengan jumlah penduduk miskin terbesar di dunia. Jumlah penduduk miskin yang “melimpah” ini, tentu sangat memprihatinkan sehingga memerlukan perhatian serius dari semua pihak. Sebab, mengatasi problem kemiskinan di Indonesia tidaklah cukup ditangani oleh pemerintah saja, akan tetapi perlu ada keterlibatan dari setiap individu dari warganya. Advokasi dan keberpihakan terhadap kaum lemah itu harus dijadikan agenda oleh setiap orang Indonesia.

Puasa sebagai salah satu ibadah yang sangat berdimensi sosial menjadi antibiotik yang cukup mujarab untuk menangkal  kedua penyakit sosial tersebut. Sebab, dengan puasa seseorang bukan hanya melatih diri manahan lapar dan dahaga serta syahwat biologisnya. Dengan berpuasa, seseorang akan diperlihatkan melalui rasa yang dihadirkan secara nyata pada dirinya tentang adanya fakta kehidupan sosial sesama anak bangsa ini yang tidak beruntung karena kemiskinan. Pengalaman fisik akan menghadirkan rasa spiritual yang mengantarkan seseorang pada kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya.

Kebajikan dari puasa itu belum mencapai titik kesempurnaan, lantaran adanya ajaran yang mengiringinya, yaitu zakat fitrah. Berbeda dengan puasa Ramadan, kewajiban membayar zakat fitrah berlaku bagi setiap individu, baik yang sudah dewasa maupun masih berusia dini. Setidaknya ada tiga nilai kebajikan di dalam ibadah ini. Pertama, nilai ta’abbudi, yakni zakat fitrah merupakan kewajian agama yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim, baik dewasa maupun anak kecil. Khusus bagi anak yang masih di bawah umur, kewajiban zakat fitrahnya masih menjadi tanggungan orang tuanya. Kedua, nilai sosial, yakni zakat fitrah merupakan ibadah yang mempunyai dimensi sosial. Zakat fitrah sangat berhubungan dengan mu’amalah atau interaksi seorang muslim dengan masyarakatnya. Kepekaan dan kearifan serta semangat berbuat kebajikan terhadap sesama menjadi tujuan utama di dalam pelaksanaan ibadah zakat fitrah.

Dengan membayar zakat fitrah, seorang muslim tidak hanya melaksanakan kewajiban agama, dengan menjadikannya sebagai penyempurna ibadah puasa saja. Akan tetapi, zakat fitrah juga akan membersihkan jiwa dan harta benda seorang muslim dari kotoran-kotoran jiwa dan kepemilikian yang bukan menjadi haknya. Ketiga, nilai pendidikan, yakni zakat fitrah merupakan bentuk bagaimana Islam mendidik dan melatih setiap pemeluknya dalam menumbuhkan kesadaran sosial di lingkungan sosialnya. Tradisi yang berlangsung di Indonesia, dimana saat malam ‘Idul Fitri tiba, banyak anak-anak yang hilir-mudik membawa zakat fitrah berupa beras untuk diberikan kepada para mustahiq zakat adalah bagian dari nilai pendidikan ini yang sudah mewujud dalam budaya. Ini merupakan nilai pendidikan kesadaran sosial yang sangat berharga, khususnya bagi anak-anak yang masih di bawah umur.

Demikian kebajikan sosial adalah wujud nyata yang akan dihadirkan oleh ibadah puasa dan zakat fitrah dalam konteks Indonesia terkini. Seseorang yang berpuasa ketakwaannya akan meningkat seirig dengan meningkatnya kepekaan sosial pada dirinya, begitu pula zakat fitrah yang dikeluarkannya akan menumbuhkan kesadaran kebersamaan dan mengikis sifat individualisme dan egoisme yang menerkam jiwanya. Semoga amal ibadah kita, mengantarkan menjadi sosok yang Muttaqin dengan kapasita akhlak mulia untuk mewujudkan kebajikan sosial. (*/smu)