Puluhan nenek-nenek ini hanya bisa menghabiskan sisa usia di sebuah penampungan. Mereka hidup sebatang kara, tanpa ada keluarga yang menemani. Bertahan hidup dengan dana terbatas. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

PULUHAN nenek lanjut usia itu hanya bisa pasrah. Bahkan mereka tak pernah bermimpi akan menikmati masa tua tanpa keluarga. Tak satu pun anak-anak mereka yang pernah dikandung dan dirawatnya, menemani para ibu ini di masa tua. Bahkan beberapa di antaranya tidak mengetahui di mana keluarganya.

Akhirnya, para nenek itu menghabiskan sisa usia di Panti Wredha Yayasan Sosial Harapan Ibu, Jalan Beringin RT 01 RW 07, Bringin, Ngaliyan, Semarang. Di tempat penampungan itu, sedikitnya ada 42 nenek lanjut usia mendapatkan perawatan secara intensif. Rambutnya sudah mulai memutih, kulit keriput, gigi ompong, penglihatan dan pendengarannya sudah tidak maksimal. Bahkan nama dan alamat asal sendiri pun terkadang lupa.

Para nenek ini sudah tidak lagi berpikir untuk pulang. Sebab, mereka tidak tahu hendak pulang ke mana, tidak jelas tujuannya. Beruntung, hidup para nenek ini sedikit lebih berwarna karena di penampungan tersebut banyak teman. Para nenek lanjut usia ini minta dilayani layaknya bayi. Mulai mandi, bersih-bersih, ganti baju, tidur, kencing hingga buang air besar diurusi oleh pengasuh.

Tentu hal ini cukup membutuhkan kesabaran ekstra bagi para pengasuh. Padahal di Panti Wredha Yayasan Sosial Harapan Ibu ini hanya memiliki empat orang pengasuh untuk merawat sebanyak 42 orang lanjut usia. Beruntung, ada beberapa mahasiswi Fakultas Kedokteran Undip yang sedang praktik di tempat tersebut. Sehingga keberadaannya sangat membantu pengasuh untuk mengurusi para nenek itu. ”Kami bantu cek kesehatannya. Kami bantu kalau ada keluhan,” kata salah satu mahasiswi Jurusan Keperawatan Fakultas Kedokteran Undip, Putri Ayu, kemarin.

Dikatakannya, merawat nenek-nenek yang lanjut usia memang diperlukan ilmu khusus. Misalnya, diajarkan senam hipertensi, senam diabetes dan seterusnya. ”Merawat lansia ada ilmu khusus, dalam istilah kami adalah perawatan gerontik. Saya senang bisa merawat mbah-mbah ini,” ucap Putri.

Suyatni Soerono mengakui merawat para nenek penghuni panti ini tidak mudah. Sebab, mereka banyak yang sudah pikun. Mereka datang dari berbagai daerah. Ada yang asal Klaten, Solo, Kudus, dan lainnya. ”Dulu memang dari mana saja, bisa. Tapi saat ini ada aturan baru, yang mengatur bahwa semua penghuni diutamakan lansia yang ber-KTP Semarang, memiliki surat pindah dan seterusnya,” kata wanita yang menjabat Ketua Panti Wredha Harapan Ibu ini.

Di penampungan tersebut, para nenek diberi kegiatan untuk menyegarkan jasmani maupun rohani. Misalnya, kegiatan senam lansia, maupun siraman rohani. Bagi penghuni beragama Islam diadakan pengajian dengan mendatangkan ustad. ”Jika Kristen didatangkan pendeta ke sini,” ujarnya.

Para penghuni ini memang memiliki berbagai latar belakang. Ada yang masih punya anak maupun saudara. Tetapi mereka rata-rata berkategori tidak mampu. ”Karena keluarganya tidak mampu, maka kami menampungnya. Memang salah satu syarat masuk di sini adalah orang tidak mampu, dan saat masuk masih sehat. Meski di sini dua hari kemudian sakit, tapi pada saat menerima harus dalam kondisi sehat,” katanya.

Setelah dinyatakan diterima, pihak panti akan bertanggung jawab perawatan, sakit bahkan kalau ada yang meninggal menjadi tanggung jawab panti untuk mengurus biaya pemakaman dan lain-lain. Namun demikian, meski memiliki tugas berat dan membutuhkan banyak biaya operasional, panti ini tidak mendapatkan bantuan anggaran operasional dari pemerintah kota.

”Untuk operasional, kami dapat bantuan dari Dharmais (Yayasan Dharma Bakti Sosial) Rp 7,8 juta setiap bulan, dan Kementerian Sosial Rp 5,7 juta setiap bulan,” ujarnya.

MENGHIBUR LANSIA: Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu bersama Ny Tya Hendrar Prihadi saat mengunjungi Panti Wredha Yayasan Sosial Harapan Ibu Ngaliyan, Semarang, kemarin. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENGHIBUR LANSIA: Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu bersama Ny Tya Hendrar Prihadi saat mengunjungi Panti Wredha Yayasan Sosial Harapan Ibu Ngaliyan, Semarang, kemarin. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Dia mengaku, sebenarnya untuk operasional tidak cukup. Sebab, para penghuni semakin bertambah. Saat ini sebanyak 42 orang lansia. ”Untuk kebutuhan memasak saja setiap hari butuh 12 kilogram beras, karena dana terbatas lauk pauk sangat minim,” katanya.

Beruntung, keterbatasan anggaran itu tertolong dengan adanya para dermawan yang menyumbangkan bantuan logistik maupun uang. Rupanya Tuhan tetap memberikan jalan, karena bantuan-bantuan hampir datang setiap hari. ”Kebetulan, kami dapat bantuan dari luar hampir setiap hari,” imbuh Suyatni.

Meski mendapat bantuan dari para dermawan, lanjutnya, yayasan tersebut tetap saja masih menemui banyak kendala. ”Saat ini kami hanya memiliki empat karyawan (pengasuh) yang merawat 42 orang lansia. Sedangkan pengurus ada 6 orang. Setiap hari ada yang piket dari pengurus, kalau pengasuh setiap hari ada di sini. Uang bantuan digunakan untuk kebutuhan penghuni lansia dan menggaji pengasuh,” katanya.

Dia berharap, beratnya tugas dan tanggung jawab empat karyawan seharusnya memiliki gaji UMR. ”Tetapi kemampuan kami belum bisa menggaji karyawan sesuai UMK. Kapasitas ruang bisa menampung 50 orang. Kondisi peralatan seperti lemari, tempat tidur, saat ini sudah rusak semua. Kalau kasur banyak bantuan masuk,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan teknis, yayasan ini juga terdampak proyek pembangunan tol Batang-Semarang, yang mengenai sebagian bangunan bagian depan. ”Kami terkena dampak pembangunan tol seluas 400 meter persegi. Tapi kemungkinan nanti hanya dilakukan rehab. Karena lokasinya nanti mepet tol, kami minta diberikan tembok tinggi. Kemudian perwajahan bangunan, nanti diubah menghadap ke timur,” katanya.

Lebih lanjut, kata dia, sebetulnya, belakangan ini telah ditanyakan karena akan segera dibongkar. Tapi, karena bangunan gedung yang ditempati yayasan tersebut merupakan aset miliki Pemkot Semarang, maka pihak yayasan meminta agar berkoordinasi dengan Pemkot Semarang terlebih dahulu. ”Dulu bangunan gedung yayasan dibangun oleh Pemkot Semarang, saat itu wali kotanya Bapak Imam Suparto Tjakrayuda, kami juga diberikan makam khusus,” ujarnya.

Saat ini, Yayasan Sosial Harapan Ibu di bawah naungan Dharma Wanita Kota Semarang. Meski demikian, dua tahun terakhir, yayasan ini tidak mendapatkan anggaran operasional dari pemerintah kota. ”Anggaran dari pemkot dulu memang ada, tapi sejak dua tahun terakhir telah terputus. Kami sedang mengusulkan, supaya dapat lagi. Kami sudah mencoba buat proposal,” katanya.

Wakil Wali Kota Hevearita Gunaryanti Rahayu, mengaku, kaget karena ternyata Panti Wredha ini tidak mendapatkan bantuan dana dari Pemkot Semarang. ”Kami baru tahu sekarang ini tidak dibiayai (pemkot). Hanya mendapatkan dari Kemensos. Nanti akan kami lihat. Selama ini pengampunya kan Dharma Wanita. Dharma Wanita berada di bawah Dinas Pemberdayaan Perempuan, tapi kalau dari tupoksinya ini dari Dinas Sosial. Nah, saya sudah minta agar ini dikaji untuk mengetahui pembiayaannya seperti apa. Apabila memang mau dialokasikan anggaran agar jangan sampai salah posnya,” kata Mbak Ita saat memberikan bantuan paket Lebaran untuk penghuni Panti Wredha, bersama jajaran Pemkot Semarang. (*/aro/ce1)