KEARIFAN LOKAL: Teguh Arif Romadhani saat memperagakan cara bermain wayang suket kepada anak-anak di salah satu kampung di Kelurahan Purwodinatan, Semarang. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KEARIFAN LOKAL: Teguh Arif Romadhani saat memperagakan cara bermain wayang suket kepada anak-anak di salah satu kampung di Kelurahan Purwodinatan, Semarang. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Wayang suket atau wayang gaga memang tidak setenar jenis wayang lain. Tapi varian wayang kontemporer ini tetap menarik tanpa mengesampingkan pesan moral layaknya pertunjukan wayang lain. Seperti apa?

AJIE MAHENDRA

DI panggung sederhana, beralaskan terpal warna cokelat, tiga pemuda tengah memainkan wayang suket. Tak ada perangkat gamelan yang mengiringi. Gerakan wayang dan dialog dibawakan oleh sang dalang yang menghadap ke mikrofon. Puluhan anak-anak peserta pesantren kilat di salah satu kampung di Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah itu tampak asyik menikmati pertunjukan wayang suket sambil menunggu waktu berbuka puasa.

Menurut dalang wayang suket asal Semarang, Teguh Arif Romadhani, wayang suket tidak punya cerita pakem. Semua lakon yang disuguhkan hanya imajinasi dalang untuk memberikan hiburan sekaligus hikmah kehidupan yang bisa dipetik.

Target penonton wayang suket ini adalah kalangan anak-anak dan remaja. Memang agak susah untuk mengumpulkan mereka demi menonton wayang suket. Tapi, pria yang akrab disapa Pakdhe ini tetap yakin mampu menarik perhatian kalangan yang menjadi segmen pasarnya tersebut.

Biasanya, Pakdhe mengangkat cerita-cerita yang mudah dipahami karena memang tidak seribet wayang kulit. Tokoh-tokoh yang digunakan pun tidak banyak, jadi lebih memudahkan penonton untuk menelan pesan yang coba disampaikan sang dalang.

”Tujuan kami ya jelas memberi tontonan juga tuntunan bagi penonton. Yang menjadi niatan kami, minimal dengan workshop dan pentas kepada anak-anak bisa menjauhkan mereka dari smartphone atau televisi selama bermain bersama kami,” tegasnya.

Dia mengaku memang belum lama menggeluti wayang suket. Baginya, perlu belajar lebih banyak lagi dalam mengenalkan media wayang dengan berbahan alam tersebut. Meski begitu, dia sudah berani mengajak anak-anak untuk membuat wayang suket.

Membuat wayang suket bisa dibilang gampang-gampang susah. Suket atau rumput gajah, hanya diuntai sedemikian rupa hingga membentuk sosok tokoh wayang. Sosok wayang itu pun tidak melulu harus mirip tokoh cerita pewayangan Mahabarata, Ramayana, atau yang lainnya. ”Sesuai keinginan saja,” katanya.

Dia berharap, pihaknya dapat terus menggelar pentas dari kampung ke kampung. Tujuannya, ingin mengajak anak-anak supaya semakin mengenal wayang gaga. Juga dapat berinteraksi dengan baik. ”Paling tidak nambah seduluran lah,” ucapnya.

Dijelaskan, setiap pentas setidaknya anak-anak diajak untuk mengenal kearifan lokal, juga hal-hal yang baik. Pakdhe beranggapan bahwa belum tentu semua konten yang disampaikannya dapat dipraktikkan langsung oleh anak-anak.

”Kami pentas dengan niatan baik. Kami sadar bahwa pertunjukan bukan hanya menjadi tontonan, melainkan juga tuntunan,” katanya.

Praktisi wayang suket, Mulyono, menambahkan, pihaknya akan terus merangsang kalangan remaja dan anak-anak supaya mau aktif berkegiatan. Dia merasa pertunjukan wayang yang terbuat dari tanaman-tanaman kebun dapat menjadi daya tarik bagi anak-anak. ”Salah satu cara mengajarkan akhlak kepada anak-anak adalah dengan pertunjukan itu. Bentuknya unik dan menarik,” ucapnya.

Penggerak wayang suket, Pambuko Septiardi, berharap, dengan adanya pentas dari kampung ke kampung, bisa mengingatkan kembali kepada banyak orang soal kearifan lokal yang sudah lama mulai ditinggalkan.

Menurutnya, dari contoh sederhana saja, sudah banyak orang yang tidak tahu bagaimana proses bertani berikut juga halangan dan rintangannya. Pambuko ingin ke depan bukan hanya soal bertani saja yang menjadi bahasan wayang suket.

”Kami juga ingin mengangkat isu yang lain. Bukan cuma tani, bisa juga yang lainnya. Bagaimana kita berbudaya selama ini. Itu yang ingin kami tawarkan kepada orang-orang, khususnya anak-anak,” tuturnya. (*/aro/ce1)