Ribuan Warga Tumplek Blek di Festival Ngangklang

MERIAH: Lomba Festival Ngangklang Gus Alam Cup III yang digelar di Balai Desa Kutoharjo, Kaliwungu, Rabu (21/6). (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MERIAH: Lomba Festival Ngangklang Gus Alam Cup III yang digelar di Balai Desa Kutoharjo, Kaliwungu, Rabu (21/6). (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL—Ribuan warga Kaliwungu dan sekitarnya, tumplek-blek di Alun-Alun Kaliwungu. Mereka berduyun-duyun untuk menyaksikan beragam lomba di Festival Ngangklang. Sedangkan Ngangkalng atau klotekan adalah tradisi membangunkan orang untuk bersantap sahur yang dilakukan setiap malam dengan membunyikan alat musik. Tradisi ini sangat marak di Kaliwungu, karena caranya yang unik. Biasanya, dilakukan dengan iring-iringan drum blek.

Maraknya tradisi ngangklang inilah yang kemudian melatarbelakangi Festival Ngangklang Gus Alam Cup III. “Selain itu, tradisi ngangklang ini sebagai ajang nguri-uri seni dan budaya bangsa yang sekarang ini mulai hilang dari masyarakat,” kata Alamuddin Dimyati Rais selaku penggagas lomba tersebut, Rabu malam (21/6) kemarin.

Makanya, dengan adanya lomba, diharapkan dapat menghidupkan dan melestarikan kembali tradisi ngangklang. Sebab, tradisi tersebut mulai luntur bahkan hilang, seiring perkembangan zaman. Penyebabnya, lantaran ngangklang terkesan berisik dan menimbulkan suara bising. “Bising itu karena suara yang tak beraturan atau tak berirama. Makanya dengan drum blek, ngangklang menjadi lebih asyik karena alunannya berirama, jadi warga muslim yang tidur bisa bangun untuk bersantap sahur,” jelasnya.

Selain lomba juga untuk memperkenalkan Kendal kepada masyarakat luar daerah. Bahwa Kendal memiliki tradisi nganklang yang unik yang tidak dimiliki daerah manapun. “Orang dari luar daerah akan penasaran, ini lho ngangklang,” kata anggota DPR RI dari Fraksi PKB itu.

Sebelum dilombakan, para peserta sebelumnya diarak dari depan Pasar Gladag menuju balai desa melewati Jalan Kiai Ashari. Antusiasme masyarakat untuk menyaksikan festival tersebut tinggi. Ribuan orang memadati halaman balai desa dan sepanjang jalan menuju Alun-Alun Kendal dan Balai Desa Kutoharjo.

Alamuddin yang akrab disapa Gus Alam mengatakan, musik ngangklang memiliki bentuk penyajian yang sangat sederhana. Mulai dari alat, permainan pola yang saling mengisi satu dengan lainnya. “Bahkan ada yang menggunakan blek, tong plastik, kentongan dari bambu, dan alat-alat tradisional lainnya. Semuanya menggunakan peralatan non elektrik,” jelasnya.

Panitia penyelenggara, Abdul Hanan mengatakan musik klotekan, menurutnya, memang perlu dikemas lebih baik, lebih menarik dan memiliki nilai jual tinggi. “Sehingga sampai ke depan, tradisi ini masih bisa diwariskan kepada generasi berikutnya,” tuturnya.

Panitia penyelenggara, Abdul Hanan, mengatakan, Festival Ngangklang diikuti 80 peserta yang terdiri atas 51 kategori pemula dan 29 kategori profesional. Mereka berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Kendal.

Setiap tim maksimal beranggotakan 10 orang dan diberi kesempatan tampil selama lima menit. Peserta diberi kebebasan menentukan instrumen musik yang dibawakan. “Kategori penilaian terdiri atas performance, teknik, dan keunikan. Peserta memperebutkan tropi juara, piala bergilir dan uang pembinaan total nilai Rp 10 juta,” jelasnya. (bud/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here