Ramadan Momen Tingkatkan Akuntabilitas

248

SEMARANG – Bupati Kudus Musthofa menyebut Ramadan bagi seorang pemimpin dimaknai sebagai otopsi atau alat pembedah dan koreksi diri. Ibadah puasa menjadi cerminan kepedulian terhadap sesama.

”Bagaimana kita yang berpuasa menghormati orang yang tidak puasa. Seperti Sunan Kudus yang menyiarkan agama Islam dengan cara damai dan menghargai pemeluk agama lain,” ujarnya dalam diskusi Panggung Civil Society bertema ”Dapatkah Spirit Ramadan Meningkatkan Akuntabilitas Pejabat Publik” yang digelar Radio Idola di @Hom Hotel Semarang, Selasa (20/6).

Selain Bupati Musthofa, hadir sebagai narasumber Dr Teguh Yuwono (ahli kebijakan publik Undip Semarang), Prof Masrukhi (Rektor Unimus Semarang), dan Tri Lindawati (perwakilan Ombudsman RI Jateng).

Musthofa menambahkan, sebagai pemimpin mesti menjadi sosok yang kekinian dengan memahami kebutuhan perkembangan jaman. Saat ini, pihaknya menerapkan sistem aplikasi Menara (Menjaga Amanah Rakyat).

”Melalui sistem ini, setiap pelayanan 24 jam dipantau oleh publik. Ini sebagai salah satu cara menguatkan perangkat sistem untuk mendukung akuntabilitas pejabat publik,” ujarnya.

Untuk meningkatkan akuntabilitas pejabat publik, menurutnya perlu keteladanan. Harus ada kesadaran bahwa hidup adalah ketidaksempurnaan. Kehidupan seorang pemimpin adalah tidak sempurna.

Sementara itu, Ahli Kebijakan Publik Undip, Teguh Yuwono menyatakan, niat baik saja tidak cukup untuk meningkatkab akuntabilitas pejabat publik. Selebihnya perlu perangkat sistem yang kuat.

Di negara-negara maju, lanjutnya, dorongan moral dan mental tidak cukup. Harus didorong dalam sebuah lembaga  yang disebut sistem pengelolaan publik. ”Kenapa ada Ombudsman, salah satunya karena itu. Niat baik saja tidak cukup. Karena ada tekanan dari lingkungan setiap saat. Ada dorongan dari luar dirinya, sehingga membuat seseorang melakukan tindakan-tindakan yang tidak akuntabel,” ujarnya.

Maka terkait dengan Ramadan dan akuntabilitas pejabat publik, kuncinya adalah bagaimana menginternalisasi nilai-nilai agama di dalam proses pemerintahan sehari-hari. Intinya, pengendalian diri, empati, responsif. Menurut Teguh, hikmah orang berpuasa adalah agar orang bisa merasakan orang lain yang lapar.

Tri Lindawati menambahkan, Ramadan tidak mengurangi penyelenggara memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat. Tahun ini, menjadi pengalaman pertama bagi Ombudsman terkait Penerimaan Peserta Didik Baru SMA dan SMK Negeri Jawa Tengah secara online.

Meskipun ada transisi pengalihan kewenangan yang sebelumnya dari kabupaten ke provinsi, hal itu tak mengurangi layanan. ”Itu tidak mengurangi pelayanan, meskipun dalam pelaksanaan ada catatan. Salah satu catatannya, masih ada mal-administrasi,” tandasnya. (dan/ric/ce1)