Pulang Untuk Mudik

1155
Oleh: Mukhamad Zulfa*)
Oleh: Mukhamad Zulfa*)

PULANG ke kampung halaman menjadi ritual tahunan bagi masyarakat perkotaan. Mereka berbondong-bondong bersama keluarga menuju kampung halaman masing-masing. Berbagai persiapan menuju keluarga besar menjadi perhatian tersendiri. Mulai dari keamanan rumah atau komplek tempat tinggal hingga barang apa saja yang perlu dibawa balik.

Kembali ke tanah kelahiran, bertemu dengan handai taulan, teman semasa kecil, mengenang dan memutar kenangan ketika masih di kampung seperti kegiatan yang akan berlaku tiap kali berada di kampung. Berziarah ke makam orang tua dan para leluhur serta mendoakan menjadi rangkaian tak terlewatkan dalam bagian mudik. Selain itu, bila kebetulan kampung halaman kita berada di daerah persawahan atau pegunungan bisa menikmati indahnya hijau persawahan.

Pedesaan inilah sebagai tulang punggung produsen makanan pokok dan kebutuhan pokok lain. Sembilan bahan pokok (sembako) dan sumber daya alam yang lain sebagian besar dihasilkan di pedesaan. Disisi yang lain perkotaan identik dengan perindustrian yang maju. Seakan terjadi ketimpangan antara perkotaan dan pedesaan. Pada masa yang akan datang penyangga perekonomian negara ini harus lebih diperhatikan pola manajemennya.

Dengan bersentuhan dengan hal kebanyakan masih menggunakan cenderung masyarakat pedesaan lebih sehat. Banyak inspirasi yang bisa kita serap selama berada di pedesaan. Nilai-nilai adiluhung masih kental sekali di kampung.

Istilah mudik mungkin hanya ditemukan di Indonesia. Ini menjadi menasional sebab bersamaan dengan libur hari raya Idul Fitri dan cuti bersama. Libur panjang inilah menjadi momen penting untuk pulang ke kampung halaman. Bersilaturahim dan bertemu langsung ke sanak-saudara, menghilangkan kepenatan perkotaan yang bising dan bertamasya di pedesaan yang masih sejuk dan segar.

Budaya ini sepenuhnya baru dan dalam khazanah keislaman tak kita temukan. Akan tetapi kegiatan ini memiliki banyak nilai positif yang sejajar dengan Islam. Salah satu terpenting adalah menghormati dan memuliakan orang tua (birrul walidain); orang tua akan senang sekali apabila bertemu langsung dengan anak-anaknya bahkan dengan membawa cucu-cucunya. Mempererat persaudaraan dengan saudara yang ada di kampung. Serta masih banyak budaya lain di masing-masing daerah yang memiliki kekhasan masing-masing.

Melihat sisi kebaikan silaturahim, akar katanya silaturahmi adalah menyambung kasih sayang antar mereka yang melaksanakannya. Kasih sayang ini bisa timbul bila kita bisa bertatap muka, menjabat erat tangannya alias bertemu secara fisik. Ucapan atau suara melalui media sosial (internet) atau telepon sebenarnya mereduksi esensi yang hendak disampaikan dalam silaturahmi.

Menurut KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus (2013) menyatakan bahwa Lebaran dan Idul Fitri hanya perbedaan istilah budaya. Intinya sama. Idul Fitri berhasil melaksanakan perintah Tuhan, kita diampuni. Ketika kita bisa menahan diri dengan sesama juga baik, kita menjadi fitri seperti bayi. Pada Tuhan kita tak punya dosa karena sudah diampuni. Pada sesama kita sudah berbuat baik. Jika pun kurang, bisa silaturahmi saat Syawwal untuk saling memaafkan. Idul Fitri benar-benar bersih, fitri seperti semula, tak punya dosa pada Tuhan dan sesama”.

Seringkali ucapan (tahniah) Idul Fitri “Taqabbalallahu Minna wa Minkum Minal Aidin wal Faizin wal Maqbulin” merupakan doa; yang artinya semoga amal ibadah kita diterima Allah dan semoga kita termasuk golongan yang kembali bersih, beruntung dan orang-orang yang diterima amalannya, dari seorang muslim kepada muslim yang lain. Tentu memberikan ucapan ini bagian dari cara untuk bersyukur dan mendapatkan nikmat bisa melampaui Ramadhan dengan khusyuk. Di hari raya yang penuh suka cita ini berbagai pernak-pernik kuliner menyertai didalamnya, mulai opor, ketupat, lepet dan berbagai macam kudapan serta hidangan lain.

Dalam kontek mudik tepat korelasinya dengan menunaikan ibadah puasa secara mendasar merupakan hubungan hamba kepada sang pencipta dalam kacamata Islam. Akan tetapi puasa harus memiliki dampak secara sosial. Kebaikan pada diri sendiri akan tumbuh secara bertahap dengan menahan makan dan minum mulai fajar hingga waktu Maghrib. Salah satu sifat baik yang timbul dalam puasa nanti adalah mengendalikan dan menahan amarah.

Dalam QS. Ali Imran 134 dijelaskan bahwa level orang yang mampu menahan amarah ini berada ditingkat terendah. Disambung dengan tingkat kedua yaitu orang yang mampu memaafkan. Momen Idul Fitri ini menjadi tepat setelah berpuasa kemudian bisa naik menjadi orang yang memaafkan. Akan tetapi masih ada lapis ketiga yang harus dicapai yaitu menjadi orang yang baik (muhsin). Allah mengingatkan bahwa yang disukainya adalah orang-orang yang berbuat kebajikan, yakni bukan yang sekadar menahan amarah atau memaafkan, tetapi justru yang berbuat baik kepada yang pernah melakukan kesalahan. Selebihnya ritual mudik kali ini akan memberi makna yang sama dengan tahun lalu. Semoga. (*/smu)