Assalamu’alaikum Wr. Wb. Pak ustadz Dr. Ahmad Izzuddin, M.Ag yang saya hormati dan dirahmati Allah. Dalam waktu dekat ini masyarakat pasti berbondong-bondong  untuk menunaikan pembayaran zakat fitrah. Namun yang merisaukan saya adalah di saat ini masihkah relevan bahwa besaran zakat fitrah antara yang dibayar dengan masyarakat yang kemampuan ekonominya sedang sama dengan masyarakat yang mampu. Di mana ketentuan yang ada adalah 2,5 dari makanan pokok yang kita makan. Mohon jawabannya pak kiai. Terima kasih.

Baba Fadhlika di Semarang 089655412XXX

Waalaikumussalam Warahmatullah Ibu Baba Fadhlika yang saya hormati. Terima kasih atas pertanyaannya. Perlu diketahui bahwa dalam ajaran agama Islam dikenal dua macam ibadah. Yang pertama dinamai ibadah secara umum, yakni semua kegiatan yang dilakukan demi karena Allah; berpakaian, berolah raga, bahkan mencampuri istri pun adalah ibadah selama dilakukan demi karena Allah.

Yang kedua adalah ibadah mahdha atau murni, yaitu kegiatan yang kadar dan waktunya ditentukan oleh Allah atau rasul-Nya. Ibadah semacam ini tidak boleh diubah oleh siapa pun. Haji misalnya, waktunya ditentukan, yakni 9 Dzul Hijjah dan tertentu pula tempat dan tatacaranya. Siapa yang masih hendak melakukannya, maka dia dapat melakukan umrah sepanjang waktu dan dengan cara tertentu pula.

Demikian pula puasa dalam bulan Ramadhan, siapa yang masih ingin berpuasa maka terbuka baginya peluang pada hari-hari yang lain, kecuali pada Idul Fitri dan Idul Adha, serta hari tasyrik (tiga hai setelah hari raya Idul Adha). Demikian juga zakat fitrah, jumlah 2,5 kg makanan pokok itu, jelas tidak ada artinya bagi seseorang yang mampu, tetapi itu sangat berarti bagi kaum lemah. Bukankah hingga kini banyak orang yang tidak cukup makan?.

Ketentuan zakat fitrah berlaku umum, sehingga tidak mungkin jika ditambah, sebab akan sangat membertkan sebagian orang. Di sisi lain tidak ada halangan, tanpa dibatasi betapapun banyaknya bantuan yang ingin diberikannya. Karena itu saya memahami bahwa kewajiban zakat fitrah dari makanan pokok itu dan dengan jumlah yang sedikit itu merupakan lambang dari kesediaan setiap muslim untuk memberi hidup bagi yang butuh.

Dan atas dasar itulah maka yang mampu hendaknya membantu siapa pun yang butuh, bahkan al-Qur’an menamai mereka yang enggan membantu (walau dalam hal-hal yang kecil) sebagai orang yang mendustakan agama.  Sekian jawaban dan tanggapan yang dapat saya sampaikan. Semoga ada manfaatnya dan barokah. Amin. (*/smu)