Assalamualaikum Wr. Wb. Bapak Kyai Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag yang saya hormati, dalam pelaksanaan shalat Tarawih, kita sering jumpai jumlah rakaatnya berbeda-beda. Ada yang melaksanakan 8 rakaat, 23 rakaat, bahkan ada yang lebih. Bagaimana pelaksanaan ibadah shalat Tarawih yang sebaiknya kita kerjakan ? Contoh, saya pernah mengikuti shalat tarawih 23 rakaat yang imamnya membaca bacaan shalat terlalu cepat sehingga tidak membuat khusyuk. Bagaimana tentang hal ini ? terimakasih

Arifin, 085740241XXX di Semarang

Waalaikumsalam Warahmatullah Bapak Arifin yang saya hormati dan di muliakan Allah. Terima kasih atas pertanyaannya. Bapak benar. Jumlah rakaat shalat tarawih yang dilakukan umat Islam sejak masa Nabi dan sahabat-sahabat serta murid-murid sahabat berbeda-beda.

Diriwayatkan bahwa Nabi SAW. Pada mulanya keluar ke masjid untuk melaksanakan shalat tarawih. Sahabat-sahabat beliau yang mengetahui hal tersebut, mengikuti Nabi SAW. Pada malam kedua jumlah mereka bertambah, dan pada malam ketiga jumlah jamaah semakin bertambah  sampai-sampai memenuhi masjid. Malam ke empat Rasul tidak ke masjid hingga tiba waktu shalat shubuh, kendati ketika itu para sahabat memberi isyarat kepada Nabi agar beliau keluar. Setelah shalat shubuh beliau menyampaikan bahwa: Aku mengetahui bahwa kalian mengharap aku keluar shalat, tetapi aku takut, shalat malam ini diwajibkan atas bkamu lalu kamu tidak mampu (karena itu aku tidak keluar).”

Diriwayatkan juga bahwa pada ketiga malam itu Nabi shalat 8 rakaat, kendati demikian, shalatnya cukup lama. Riwayat lain menyatakan bahwa sepulang beliau ke rumah, beliau melanjutkan shalat. Umar ibn Al-Khaththab menjadikan salat tarawih dua puluh rakaat. Tidak seorang sahabat pun keberatan atas jumlah ini. Tentu saja mereka mempunyai alasan. Di banyak negeri Islam juga demikian, paling tidak dengan alsan bahwa Nabi Saw. memerintahkan untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah Khulafa’ ar-Rasyidiin. Para sahabat yang tinggal di Mekkah ketika itu melakukan shalat tarawih dan setiap selesai emapat rakaat mereka melakukan thawaf. Nah, di Mekkah, khususnya pada pemerintahan Umar ibn al-Aziz (111 H), beliau menganjurkan agar melaksanakan shalat empat rakaat tambahan sebagai ganti thawaf itu, dan sejak itu di beberapa negeri Islam, shalat tarawih dilakukan sebanyak 32 rakaat.

Semua InsyaAllah benar, karena masing-masing memiliki dasar pemikiran. Ulama juga memperkenalkan apa yang diistilahkan tanawu’ al-‘Ibdah, yakni keragaman cara beribadah yang diajarkan atau dipraktikkan Nabi SAW. kesemuanya benar, InsyaAllah. Memang dalam rincian ibadah yang ditanyakan bukan “Berapa hasil penambahan lima tambah lima” karena yang ini jawabannya hanya satu, yakni sepuluh, tetapi yang ditanyakan “Sepuluh hasil berapa tambah berapa.” Bapak tahu bahwa untuk ini sekian banyak jawaban yang benar. Wallahu A’lam, sekian jawaban dari saya, semoga ada manfaatnya dan barokah. Amin. (*/smu)