Isolasi dan Krisis Kemanusiaan

1181
Oleh: Mishbah Khoiruddin Zuhri*)
Oleh: Mishbah Khoiruddin Zuhri*)

PEMELUK agama punya tanggung jawab merespon krisis kemanusiaan (humanitarian crisis). Krisis kemanusiaan  terjadi karena manusia mulai mengabaikan nilai-nilai luhur agama, tradisi, nilai universal. Ego dan nafsu menjadi kiblat utama. Akibatnya, manusia kehilangan sensitivitas dan solidaritas terhadap sesama manusia dan lingkungan di sekitarnya. Hal ini mengakibatkan bencana dan krisis kemanusiaan, berupa konflik, peperangan, kerusakan lingkungan, diskriminasi dan lain-lain. Di sini lah agama punya peran mengembalikan fitrah kemanusiaan tersebut.

Isolasi merupakan salah satu bentuk krisis kemanusian. Isolasi terjadi sejak dahulu, sekarang dan sepanjang masa. Isolasi menyebabkan beberapa pihak dirugikan, baik dalam aspek politik, sosial maupun ekonomi.

Pada tahun 616 sampai 619 M, kelompok minoritas diisolasi oleh kelompok mayoritas di sekitarnya. Mereka masih saudara. Isolasi tersebut dilakukan karena kelompok minoritas tersebut dianggap mengganggu stabilitas regional dan merubah tatanan sosial yang mapan.  Meski tuduhan tersebut tidak berdasar. Segala cara sudah dilakuka guna menghentikan langkah minoritas tersebut. Mulai negoisasi, intimidasi, rasuah, fitnah, ujaran kebencian, dan pembunuhan karakter. Namun, hasilnya adalah nihil. Kepercayaan masyarakat terhadap minoritas tersebut tidak sirna, akan tetapi bertambah. Isolasi dan blokade adalah pilihan efektif kelompok mayoritas untuk memaksakan kepentingan dan membatasi gerakan minoritas.

Adalah Nabi Muhammad saw dan sahabatnya. Mereka menerima isolasi dari masyarakat Qurays. Bahkan keluarga besar Nabi dari Bani Hasyim dan Abu Muthalib yang mendukungnya juga ikut diisolasi, kecuali Abu Jahal.

Mereka diasingkan kaum Qurays di kaki bukit Abu Qubays. Letaknya di bagian Mekkah sebelah Timur. Ruang sempit di kaki bukit tersebut dikelilingi batu terjal dan tinggi, tidak mungkin dipanjat. Ada celah sempit di sebelah barat sebagai akses masuk. Tingginya kurang dari dua meter. Seekor unta bisa melewatinya, tapi dengan susah payah. Mereka tidak bisa keluar kecuali di bulan-bulan yang dimuliakan (al-asyhur al-hurum). Akses sosial, ekonomi dan politik dibatasi. Tujuan kaum Qurays adalah agar Bani Hasyim dan Abbdul Muthalib menyerahkan Nabi Muhammad. Namun, sampai berakhirnya masa isolasi, mereka tetap melindunginya.

Ada beberapa tantangan kemanusiaan yang dihadapi oleh Nabi Muhammad, sahabat dan keluarga besarnya selama tiga tahun lebih. Pertama, perampasan hak. Isolasi merampas hak-hak individu dan kelompok. Kebebasan bersosialisasi dibatasi. Mereka melarang Bani Hasyim dan Abdul Muthalib menikah dengan Kaum Qurays. Padahal mereka sudah terbiasa menikah dari keluarga yang berbeda.

Kedua, bencana kelaparan. Nabi dan kelompokanya dilarang melakukan hubungan jual beli dengan masyarakat Qurays. Kaum Qurays memperketat masukknya makanan dari luar Makkah ke bukit Abu Qubays dengan memborongnya atau membiarkannya dibeli dengan harga yang sangat mahal. Kaum Muslim menderita kelaparan. Mereka terpaksa makan daun-daunan dan kulit binatang. Rintih kelaparan anak-anak dan perempuan kerap terdengar. Siti Khadijah-istri Nabi-merasakan kondisi serba sulit yang belum dialami sebelumnya. Bahkan Sa’ad bin Abi Waqash harus memakan kulit binatang yang terpanggang kering karena ditinggal sebentar dengan merendamnya dalam air terlebih dahulu.

Ketiga, pudarnya sensitivitas kemanusiaan. Ada beberapa pihak yang tidak tahan melihat penderitaan Nabi, sahabat dan keluarganya atas nama kemanusiaan dan silaturahim. Umar al-Amiri berulangkali mengirimkan bantuan logistik secara diam-diam. Ia menaruhnya di atas unta dan mengarahkannya berjalan menuju bukit Abu Qubays. Upaya al-Amiri diketahui kaum Qurays. Ia dihardik dan dipukuli. Al-Amiri memiliki iktikad baik, menolong saudaranya. Namun, ia justru dihukum. Nasib yang sama juga dialami oleh Hakim bin Ziham-keponakan Siti Khadijah yang ingin mengirimkan gandum kepada bibinya. Kaum Qurays tidak lagi memperdulikan nasib saudaranya yang menderita kelaparan. Mereka menafikan kebutuhan kemanusiaan, guna menuruti nafsunya.

Isolasi memiliki dampak negatif di satu sisi, dan dampak positif di sisi lain. Dampak negatifnya adalah perampasan hak, bencana kelaparan dan pudarnya sensitivitas kemanusiaan. Sisi positifnya, isolasi ini membangkitkan solidaritas dan sensitivitas kemanusiaan beberapa pihak yang lain. Ada gerakan saling menyambut guna membela Nabi dan membatalkan isolasi tersebut atas dasar kemanusiaan. Hisyam bin Amr mengajak Zuhair bin Abi Umayah. Ajakannya diterima. Dukungan atas penolakan isolasi semakin bertambah.

Deklarasi penolakan dideklarasikan Zuhair di samping Ka’bah tempat ditempelkannya lembar (Shahifah) isolasi. Zuhair mendeklarasikan deklarasi kemanusiaannya, “Wahai penduduk Makkah! Apakah kamu tega bisa menikmati makanan dan memakai pakaian, sementara Bani Hasyim binasa. Tidak ada yang sudi menjual kepada mereka dan tidak ada yang membeli dari mereka? Demi Allah, aku tidak akan duduk hingga lembaran piagam yang telah memutuskan silaturahim dan zalim ini dirobek!”. Deklarasi Zuhair juga mendapat dukungan dari Zam’ah bin al-Aswad. Allah SWT mendukung penjabutan isolasi tersebut dengan mengirim rayap memakan lembar isolasi tersebut.

Pelajaran berharga dari Hasyim, Zuhair dan Zam’ah adalah sensitivitas kemanusiaan. Zam’ah secara jelas menyebutkan bahwa ia sejak awal tidak sepakat dengan isolasi kepada Bani Hasyim tersebut. Sensitivitas kemanusiaan adalah fitrah. Mereka yang merawat sensitivitas tersebut dengan baik, pada hakikatnya merawat kefitrahan. Dengan merawat kefitrahan,  manusia akan berlaku dan memperlakukan manusia secara manusiawi. (*/smu)